BOJONEGORO, MENARA62.COM – Desa bukan sekadar wilayah administratif, melainkan ruang kehidupan yang tumbuh dari kebersamaan, gotong royong, dan semangat saling menguatkan. Nilai tersebut dinilai menjadi modal penting dalam membangun desa di tengah perubahan sosial dan perkembangan teknologi.
Hal itu disampaikan Penasihat Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) RI, Prof. Zainuddin Maliki, saat menghadiri Grebeg Desa Sumberejo, Kabupaten Bojonegoro, Ahad (30/8/2026).
Grebeg Desa Sumberejo diikuti ribuan warga melalui berbagai kegiatan, seperti jalan santai, senam bersama, dan festival makan gratis. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang perjumpaan warga untuk memperkuat kebersamaan.
Zainuddin mengapresiasi masyarakat Desa Sumberejo yang dinilai mampu merawat tradisi kebersamaan di tengah perubahan sosial yang berlangsung semakin cepat.
Menurutnya, pembangunan desa tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya anggaran ataupun kemegahan infrastruktur. Kekuatan utama justru berada pada kualitas hubungan sosial masyarakat.
“Modal terbesar pembangunan desa bukan hanya dana desa atau infrastruktur. Modal terbesar desa adalah kepercayaan, gotong royong, solidaritas, dan kemauan masyarakat untuk maju bersama,” ujar Zainuddin, yang pernah menjadi anggota DPR RI periode 2019-2024.
Jangan Maju Teknologi, Mundur Solidaritas
Zainuddin menilai festival makan gratis dalam rangkaian Grebeg Desa Sumberejo memiliki makna lebih dari sekadar kegiatan sosial. Tradisi berbagi tersebut menunjukkan bahwa budaya kebersamaan masih hidup di tengah masyarakat desa.
Menurutnya, perkembangan teknologi dan modernisasi tidak boleh membuat masyarakat semakin individualistis.
“Jangan sampai kita maju secara teknologi, tetapi mundur dalam kehidupan sosial. Jangan sampai ekonomi tumbuh, tetapi solidaritas justru hilang. Desa harus maju tanpa kehilangan akar budayanya,” tegasnya.
Ia menilai kemajuan desa idealnya berjalan beriringan antara peningkatan kesejahteraan ekonomi, perkembangan teknologi, serta penguatan kehidupan sosial dan budaya.
Karena itu, pembangunan desa perlu memastikan masyarakat tetap memiliki ruang untuk berinteraksi, bergotong royong, dan menyelesaikan persoalan secara bersama-sama.
Desa Didorong Jadi Pusat Pertumbuhan Ekonomi
Dalam konteks pembangunan nasional, Zainuddin menyinggung arah kebijakan Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto yang mendorong desa tidak hanya menjadi objek pembangunan, tetapi juga pusat pertumbuhan ekonomi baru.
Berbagai kekuatan ekonomi desa, seperti BUM Desa, koperasi, UMKM, kelompok tani, nelayan, peternak, perempuan, dan generasi muda, perlu saling terhubung untuk membangun ekosistem ekonomi yang kuat.
Menurut Zainuddin, pembangunan ekonomi desa tetap harus berpijak pada kepentingan masyarakat dan tidak menghilangkan karakter sosial serta budaya lokal.
“Desa yang maju bukan hanya desa yang jalannya mulus atau gedungnya bagus. Desa maju adalah desa yang masyarakatnya sehat, ekonominya bergerak, lingkungannya terjaga, dan warganya tetap guyub,” kata dosen luar biasa Sekolah Pascasarjana Universitas KH Abdul Chalim Pacet, Mojokerto, tersebut.
Grebeg Desa Jangan Berhenti Jadi Seremonial
Zainuddin menyebut Grebeg Desa Sumberejo sebagai contoh bahwa pembangunan dapat dimulai dari energi sosial masyarakat.
Ia berharap semangat yang muncul melalui kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai agenda seremonial tahunan. Sebaliknya, kebersamaan yang terbangun dapat menjadi energi kolektif untuk mendorong pembangunan desa secara berkelanjutan.
“Grebeg Desa, pada akhirnya, bukan sekadar pesta rakyat. Ia adalah perayaan atas hidupnya modal sosial desa—gotong royong, persaudaraan, dan kepedulian—yang menjadi fondasi penting bagi Indonesia yang kuat dari akar rumput,” ujarnya.
Ia optimistis desa dapat menjadi kuat dan mandiri apabila seluruh unsur masyarakat bergerak bersama.
“Kalau masyarakatnya rukun, pemudanya aktif, kaum perempuannya berdaya, pemerintah desanya dipercaya, dan seluruh warga memiliki semangat untuk maju bersama, maka tidak ada alasan desa tidak bisa menjadi kuat dan mandiri,” pungkasnya. (*)
