JAKARTA, MENARA62.COM — Bertajuk besarnya “Surat Cinta Untuk Negeri” merupakan sebuah perayaan terhadap keberagaman cara memandang Indonesia melalui bahasa seni, desain, Fotografi karya instalasi, dan performance arts. Pameran ini berangkat dari gagasan sederhana namun luas: bahwa mencintai sebuah negeri tidak selalu harus diwujudkan melalui kata-kata yang bersifat seremonial, melainkan juga dapat hadir melalui karya, ingatan, kegelisahan, pengalaman personal, serta cara kita membaca kembali lingkungan sosial dan budaya di sekitar kita.
“Surat Cinta Untuk Negeri kami hadirkan bukan sebagai upaya untuk memberikan satu definisi tentang Indonesia, melainkan sebagai ruang untuk melihat kembali bagaimana kita mengalami, mengingat, dan memaknai negeri ini. Seni memiliki kemampuan untuk menyimpan hal-hal yang sering kali tidak tercatat dalam narasi resmi pengalaman personal, kegelisahan sosial, ingatan budaya, hingga harapan tentang masa depan. Karena itu, karya-karya dalam pameran ini kami lihat sebagai fragmen-fragmen yang saling berbicara dan membentuk sebuah ingatan kolektif.” kata Bambang Asrini, Kurator pameran “Surat Cinta Untuk Negeri”
Pameran akan di buka pada 29 Agustus 2026 dan akan berlangsung sampai 17 September 2026 berlangsung di Sancaya Art Space, Cinere Bellevue Mall, Jl. Merawan 23, Cinere, Depok. Pameran akan dibuka oleh Maya S. Rizano. Sabtu, 29 Agustus 2026 oleh 16.00 WIB
Pameran ini, dapat dibangun sebagai pembukaan yang tidak terlalu formal, tetapi tetap memiliki kekuatan artistik. Indonesia adalah ruang yang dibentuk oleh begitu banyak lapisan pengalaman. Sejarah, tradisi, perubahan sosial, perkembangan teknologi, kehidupan urban, kebudayaan lokal, hingga dinamika politik dan ekonomi menjadi bagian dari perjalanan panjang masyarakatnya. Di tengah keberagaman tersebut, seni memiliki kemampuan untuk merekam hal-hal yang terkadang luput dari catatan sejarah formal. Sebuah karya dapat menjadi kesaksian, pertanyaan, kritik, kenangan, sekaligus ungkapan kasih terhadap tempat dan masyarakat yang melahirkannya.
Dalam konteks itulah “Surat Cinta Untuk Negeri” menghadirkan seni sebagai bentuk komunikasi yang terbuka. Setiap karya dapat dibaca seperti sebuah surat yang ditujukan kepada Indonesia—sebuah surat yang tidak selalu berisi pujian, tetapi juga dapat mengandung kegelisahan, pertanyaan, kritik, harapan, bahkan perenungan. Cinta terhadap negeri tidak harus selalu hadir dalam bentuk romantisasi. Justru melalui keberanian untuk melihat berbagai persoalan secara jujur, seni dapat menjadi salah satu cara untuk merawat hubungan kita dengan realitas Indonesia.

Kegiatan ini mempertemukan seniman dengan latar belakang, pengalaman, dan pendekatan artistik yang beragam. Keragaman tersebut menjadi bagian penting dari gagasan kolektif yang ditawarkan. Indonesia tidak pernah hadir sebagai satu suara yang tunggal. Ia terdiri atas berbagai pengalaman individual yang saling bertemu, berjarak, bertentangan, maupun melengkapi. Karena itu, karya-karya dalam pameran ini dapat dipandang sebagai potongan-potongan perspektif yang bersama-sama membentuk gambaran mengenai bagaimana Indonesia dirasakan dan diingat oleh masyarakatnya.
Seni visual menjadi salah satu medium utama dalam membangun percakapan tersebut. Melalui bentuk, warna, material, simbol, gestur, dan komposisi, para seniman menghadirkan pengalaman yang mungkin sulit dijelaskan hanya melalui bahasa verbal. Karya visual memungkinkan penonton untuk memasuki ruang interpretasi yang personal. Setiap pengunjung dapat menemukan pengalaman atau ingatannya sendiri ketika berhadapan dengan sebuah karya.
Sementara itu, desain membawa dimensi lain dalam pembacaan tentang Indonesia.
Desain tidak hanya berbicara tentang estetika, tetapi juga tentang bagaimana manusia berinteraksi dengan benda, ruang, informasi, dan lingkungan kehidupan sehari-hari. Dalam pameran ini, desain dapat dilihat sebagai bagian dari budaya visual yang membentuk cara masyarakat mengenali dirinya sendiri. Dari identitas visual hingga benda-benda yang dekat dengan keseharian, desain menjadi bagian dari sejarah sosial yang sering kali tidak disadari.
Kehadiran karya instalatif semakin memperluas pengalaman tersebut. Instalasi memungkinkan karya tidak hanya untuk dilihat, tetapi juga dialami melalui ruang.
Penonton tidak lagi sekadar berada di luar karya sebagai pengamat, melainkan dapat menjadi bagian dari situasi yang dibangun oleh seniman. Ruang, ukuran, material, suara, cahaya, maupun susunan objek dapat menciptakan pengalaman yang bersifat imersif. Dengan demikian, ingatan tentang negeri tidak hanya dipahami sebagai sesuatu yang berada di masa lalu, tetapi juga sebagai pengalaman yang berlangsung di tubuh dan ruang tempat kita hidup.
Dimensi performans juga memberikan kemungkinan bagi karya untuk hadir secara temporal.
Tubuh, gerak, suara, dan interaksi menjadi medium yang membawa gagasan pameran ke dalam pengalaman langsung. Performans dapat menghadirkan sesuatu yang tidak sepenuhnya dapat disimpan sebagai objek. Ia berlangsung, berubah, dan kemudian meninggalkan jejak dalam ingatan penonton. Karakter sementara tersebut justru menjadi pengingat bahwa pengalaman kebangsaan pun terus bergerak dan berubah.
“Surat Cinta Untuk Negeri” juga mengajak publik untuk melihat kembali makna ingatan kolektif. Ingatan tidak hanya tersimpan dalam arsip, buku sejarah, monumen, atau dokumen resmi. Ingatan juga hidup dalam gambar, benda, motif, bahasa, lanskap, tubuh, cerita keluarga, kebiasaan, dan pengalaman sehari-hari. Apa yang kita ingat dan apa yang kita lupakan turut membentuk cara kita memahami identitas bersama.
Dalam pengertian tersebut, pameran ini tidak berusaha memberikan satu kesimpulan mengenai Indonesia. Sebaliknya, ia membuka ruang bagi berbagai kemungkinan pembacaan. Setiap karya membawa sudut pandang tertentu, sementara setiap pengunjung datang dengan latar pengalaman yang berbeda. Pertemuan antara karya dan penonton kemudian menciptakan makna baru yang tidak selalu dapat diprediksi sebelumnya.
Kehadiran para seniman dalam pameran ini memperlihatkan bahwa praktik seni di Indonesia terus berkembang melalui berbagai pendekatan dan medium. Mereka tidak hanya bekerja untuk menghasilkan objek artistik, tetapi juga membangun dialog dengan lingkungan, masyarakat, sejarah, dan persoalan kontemporer. Keragaman praktik tersebut menjadi representasi dari ekosistem kreatif Indonesia yang dinamis.
Pada akhirnya, “Surat Cinta Untuk Negeri” adalah sebuah ajakan untuk berhenti sejenak dan melihat kembali tempat kita berpijak. Di tengah perubahan yang berlangsung cepat, seni memberikan kesempatan untuk memperlambat waktu, mengamati, mengingat, dan mempertanyakan kembali apa yang selama ini dianggap biasa. Pameran ini menjadi ruang pertemuan antara pengalaman personal dan ingatan kolektif; antara masa lalu dan masa kini; antara kritik dan harapan.
Sebagai sebuah “surat”, pameran ini tidak harus memiliki jawaban yang final. Sebuah surat dapat menjadi ungkapan yang terbuka, sebuah pesan yang terus menemukan pembacanya. Demikian pula karya-karya dalam pameran ini diharapkan dapat terus hidup melalui percakapan yang muncul setelah pengunjung meninggalkan ruang pamer.
“Bagi kami, cinta kepada negeri bukan berarti menutup mata terhadap berbagai persoalan yang ada. Sebaliknya, cinta juga dapat hadir melalui keberanian untuk mempertanyakan, mengkritik, dan merawat ingatan. Melalui seni, desain, instalasi, dan performans, kami ingin membuka percakapan yang lebih luas tentang Indonesia—tentang apa yang kita warisi, apa yang sedang kita hadapi, dan Indonesia seperti apa yang ingin kita bayangkan bersama.” ujar Bambang Asrini.

“Surat Cinta Untuk Negeri” pada akhirnya bukan hanya tentang bagaimana seniman berbicara kepada Indonesia, tetapi juga tentang bagaimana Indonesia berbicara kembali melalui karya-karya tersebut. Di antara warna, bentuk, material, ruang, gerak, dan ingatan, pameran ini mengajak kita menyadari bahwa mencintai negeri juga berarti bersedia melihatnya secara utuh—dengan segala keindahan, keragaman, persoalan, kontradiksi, dan harapan yang menyertainya.
“Surat Cinta Untuk Negeri” mempertemukan karya dari sejumlah seniman dengan latar dan pendekatan artistik yang beragam. Mereka adalah Adi Jeihan, Aendra Medita, Agus Widodo, Andi Sopiandi, Arita Savitri, Arti Sugiarti, Bambang Asrini, Budi Pradono, Caki Zoehra, Diyanto, Eivi Desiyanti, Hagung Sihag, Iwhan Gimbal, Sohieb Toyaroja, Supriatna, Yeni Fatmawati, Agus Budiyanto, Enda Ginting, Yulian Sodri, Lena Guslina, Nawa Tunggal, Dwi Putro Mulyono, Lenny Ratnasari, Weichert, Mayek Prayitno, Tegar Abieza, dan Edi Bonetski.
Melalui seni, desain, karya instalatif, Fotogarfi dan performance arts, pameran ini menjadi sebuah ruang kolektif untuk merawat ingatan sekaligus membayangkan masa depan. Sebuah ruang di mana Indonesia tidak hanya dipandang sebagai sebuah tempat, tetapi sebagai pengalaman bersama yang terus ditulis, diperdebatkan, dirasakan, dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. (rilis)
