SOLO, MENARA62.COM – Penyandang disabilitas di Klaten tidak hanya didorong mampu menghasilkan produk batik, tetapi juga menguasai teknologi produksi dan strategi pemasaran agar karya mereka memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Upaya tersebut dilakukan tim dosen Fakultas Teknik (FT) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bersama Paguyuban Penyandang Disabilitas Klaten (PPDK).
Mengusung tema “Penguatan Kemandirian Ekonomi Penyandang Disabilitas pada PPDK melalui Diversifikasi Produk dan Strategi Pemasaran Batik Ciprat dan Shibori”, program tersebut diarahkan untuk meningkatkan produktivitas sekaligus daya saing produk karya anggota PPDK.
Program ini merupakan hasil kolaborasi UMS dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui skema Pengabdian kepada Masyarakat.
Ketua Pelaksana PkM, Dyah Widi Astuti, S.T., M.Sc., mengatakan peningkatan kapasitas penyandang disabilitas tidak cukup hanya dengan memberikan keterampilan produksi.
Kemampuan mengoperasikan peralatan harus berjalan beriringan dengan kemampuan mengemas dan memasarkan produk.
“Penguasaan alat produksi dan strategi display pameran ini menjadi modal penting bagi PPDK untuk memperluas jangkauan pasar dan mencapai kemandirian ekonomi yang berkelanjutan,” ujar Dyah, Rabu (2/9/2026).
Dilatih Mengoperasikan Mesin Produksi
Sebagai langkah konkret, tim FT UMS menggelar workshop pemanfaatan alat bantu produksi dan pemasaran di Kantor PPDK, Klaten, Jumat (28/8/2026).
Peserta mendapatkan pelatihan pengoperasian sejumlah peralatan, mulai dari mesin jahit standar, mesin obras, hingga mesin jahit motif.
Penguasaan peralatan tersebut diharapkan mampu mempercepat proses produksi sekaligus meningkatkan kerapian berbagai produk turunan yang dibuat dari kain Batik Ciprat dan Shibori.
Namun, perhatian tim FT UMS tidak berhenti pada proses produksi.
Para anggota PPDK juga dibekali pengetahuan mengenai optimalisasi properti pameran. Mereka dilatih menata dan menampilkan produk agar terlihat lebih profesional dan mampu menarik perhatian calon konsumen.
Strategi display tersebut diharapkan dapat meningkatkan daya tarik sekaligus nilai jual produk.
Batik Tak Berhenti Jadi Kain
Tim PkM FT UMS juga mendorong anggota PPDK melakukan diversifikasi produk. Kain Batik Ciprat dan Shibori tidak hanya dipasarkan sebagai lembaran kain, tetapi dikembangkan menjadi berbagai produk fashion dan kriya.
Diversifikasi dinilai penting untuk memperluas segmen pasar. Semakin beragam produk yang dihasilkan, semakin banyak pula peluang pemanfaatan dan pemasaran yang dapat dikembangkan.
Pendekatan ini diharapkan membuat anggota PPDK memiliki posisi lebih kuat dalam mengembangkan produk kreatif berbasis potensi mereka sendiri.
Tim PkM FT UMS selanjutnya akan melanjutkan pendampingan produksi secara berkala. Pendampingan difokuskan pada optimalisasi peralatan sekaligus peningkatan kualitas produk.
Disiapkan Tembus Pameran UMKM
Program tersebut juga diarahkan agar PPDK mampu menerapkan keterampilan pemasaran secara langsung melalui berbagai ajang pameran UMKM lokal.
Dyah mengatakan keikutsertaan dalam pameran menjadi bagian penting dari proses pendampingan karena anggota PPDK dapat mempraktikkan strategi display yang telah dipelajari sekaligus berinteraksi langsung dengan konsumen.
“Program Pengabdian kepada Masyarakat ini menjadi salah satu bentuk kontribusi FT UMS dalam mendorong pemberdayaan masyarakat yang inklusif. Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan komunitas penyandang disabilitas, UMS berharap pengembangan keterampilan, inovasi produk, dan strategi pemasaran dapat membuka jalan menuju kemandirian ekonomi yang berkelanjutan,” tegasnya.
Bagi FT UMS, pemberdayaan penyandang disabilitas bukan sekadar meningkatkan keterampilan membuat produk. Tantangan berikutnya adalah memastikan karya tersebut mampu masuk ke pasar dan menghasilkan manfaat ekonomi bagi pembuatnya.
Melalui penguatan produksi, diversifikasi produk, dan strategi pemasaran, Batik Ciprat dan Shibori karya anggota PPDK diharapkan berkembang menjadi produk kreatif yang semakin kompetitif sekaligus membuka jalan menuju kemandirian ekonomi penyandang disabilitas di Klaten. (*)
