SOLO, MENARA62.COM – Kehadiran 59 mahasiswa asing memberi warna berbeda dalam Masa Ta’aruf (Masta) Penyambutan Mahasiswa Baru (PMB) 2026 Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id. Mereka datang dari berbagai negara untuk menempuh pendidikan mulai jenjang sarjana hingga doktoral.
Dari total 8.195 mahasiswa baru UMS tahun akademik 2026, puluhan mahasiswa internasional tersebut menjadi bagian dari upaya kampus membangun lingkungan akademik yang semakin terbuka dan berwawasan global.
Wakil Rektor V UMS Prof. Supriyono, Ph.D., mengatakan kehadiran mahasiswa dari berbagai negara tidak sekadar memperkuat internasionalisasi kampus. Interaksi lintas budaya juga menjadi kesempatan bagi mahasiswa Indonesia untuk belajar menjadi warga dunia.
“UMS mengundang banyak mahasiswa asing masuk ke UMS dalam rangka apa? Dalam rangka memberi wawasan global, Anda bisa bergaul dengan masyarakat internasional. Kuncinya apa? Kita bisa saling menghormati, kita melihat perbedaan, tetapi kita harus bisa menghormati perbedaan itu,” kata Supriyono dalam Masta PMB 2026 di Surakarta, Kamis (3/9/2026).
Menurut dia, era globalisasi membuat batas antarnegara semakin kabur. Karena itu, mahasiswa perlu memiliki pola pikir sebagai global citizen.
Kehadiran mahasiswa internasional di kampus menjadi ruang belajar yang memungkinkan mahasiswa berinteraksi langsung dengan orang-orang dari latar belakang budaya, negara, dan pengalaman yang berbeda.
Mahasiswa Mozambik Pilih UMS
Salah satu mahasiswa internasional yang mengikuti Masta PMB 2026 adalah Diane Esrael Seba dari Mozambik. Mahasiswa Magister Akuntansi itu tampil mengenakan kapulana, pakaian khas negaranya.
Diane mengatakan salah satu alasan memilih UMS adalah reputasi akademik dan lingkungan kampus yang dinilainya ramah terhadap mahasiswa internasional.
“Satu alasan yang membuat saya mendaftar ke UMS adalah karena kampus ini merupakan salah satu universitas terbaik di Indonesia. Ini adalah universitas swasta terbaik di Indonesia, dan sangat ramah bagi mahasiswa internasional,” ujar Diane.
Ia mengetahui UMS dari temannya yang sebelumnya memperoleh beasiswa International Priority Scholarship (IPS). Informasi tersebut mendorong Diane mendaftar hingga akhirnya mendapatkan beasiswa serupa.
“Dan puji syukur saya mendapatkannya,” katanya.
Tak hanya lingkungan kampus, keramahan masyarakat Surakarta juga meninggalkan kesan bagi Diane. Tinggal jauh dari Mozambik tidak membuatnya merasa asing.
“Kesan pertama saya tentang UMS dan Solo adalah karena orang-orang di sini ramah, mereka menyambut mahasiswa internasional dengan sangat baik, dan saya merasa seperti di rumah sendiri meskipun saya berada jauh dari kampung halaman,” ungkapnya.
Dari Sierra Leone hingga Surakarta
Cerita serupa datang dari Osman Turay, mahasiswa sarjana Manajemen asal Sierra Leone, Afrika Barat.
Osman merupakan penerima beasiswa Kemitraan Negara Berkembang (KNB). Ia memilih UMS setelah memperoleh informasi dari pamannya yang sebelumnya menempuh pendidikan di kampus tersebut melalui beasiswa KNB.
Menurut Osman, UMS memiliki lingkungan pendidikan yang baik serta dosen yang kompeten di bidang masing-masing.
“UMS memiliki salah satu lingkungan pendidikan terbaik dan juga para dosen terbaik untuk mengajar mahasiswa yang sangat ahli di jurusan mereka dan segalanya. UMS juga merupakan salah satu universitas terbaik di Surakarta, dan saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Anda semua,” tuturnya.
Pengalaman pertamanya berada di Indonesia juga memperkuat kesan positif tersebut. Osman mengatakan keramahan masyarakat sesuai dengan cerita yang ia dengar sebelum datang ke Indonesia.
“Orang Indonesia sangat menyambut hangat, terutama di Surakarta. Ini adalah salah satu kota terbaik, dan universitas saya, UMS adalah yang terbaik. Terima kasih,” ujarnya.
Kehadiran mahasiswa dari Mozambik, Sierra Leone, dan negara lainnya membuat Masta PMB 2026 UMS tidak hanya menjadi agenda penyambutan mahasiswa baru.
Bagi UMS, perjumpaan mahasiswa dari berbagai negara menjadi bagian dari proses pembelajaran lintas budaya. Mahasiswa tidak hanya dituntut menguasai kompetensi akademik, tetapi juga memiliki kemampuan beradaptasi, berkomunikasi, dan menghormati perbedaan.
Dengan 59 mahasiswa internasional yang bergabung pada tahun akademik 2026, UMS berupaya menjadikan keberagaman sebagai bagian dari pengalaman pendidikan. Kampus tidak hanya ingin mahasiswa belajar tentang dunia dari ruang kelas, tetapi juga mengalaminya melalui perjumpaan langsung dengan masyarakat internasional. (*)
