30.9 C
Jakarta

684 Calon Wisudawan UM Bandung Ikuti Baitul Arqam

Baca Juga:

BANDUNG, MENARA62.COM — Sebanyak 684 calon wisudawan dan wisudawati Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung mengikuti Baitul Arqam Purna Studi (BAPS) sebagai bekal sebelum memasuki dunia kerja dan kehidupan bermasyarakat.

Kegiatan yang diselenggarakan Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Al-Islam Kemuhammadiyahan (LPPAIK) UM Bandung itu berlangsung di Auditorium KH Ahmad Dahlan, UM Bandung, Jalan Soekarno-Hatta Nomor 752, Kamis (10/9/2026).

BAPS menjadi bagian penting dalam mempersiapkan mahasiswa menghadapi fase kehidupan setelah menyelesaikan pendidikan tinggi. Selain penguatan keilmuan, kegiatan tersebut membekali calon lulusan dengan karakter, nilai-nilai keislaman, serta keterampilan yang dibutuhkan di dunia profesional.

Wakil Rektor I UM Bandung, Ayi Yunus Rusyana, mengatakan BAPS bukan sekadar rangkaian kegiatan menjelang wisuda. Menurutnya, forum tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memperkuat kesiapan sebelum terjun ke masyarakat.

“Ini acara penting bagi mahasiswa sebelum terjun ke masyarakat. Anggap saja ini perayaan kelulusan, tetapi dengan cara yang positif, selain wisuda nanti,” ujar Ayi.

Lulusan Diminta Tak Hanya Andalkan Kemampuan Akademik

Ayi menilai kemampuan akademik saja tidak cukup bagi lulusan perguruan tinggi untuk menghadapi perubahan zaman. Perkembangan teknologi dan disrupsi yang berlangsung cepat menuntut mahasiswa memiliki soft skill, karakter, serta pemahaman Al-Islam Kemuhammadiyahan (AIK).

Karena itu, ia berpesan agar calon lulusan tetap membawa identitas dan nilai-nilai Muhammadiyah ketika nantinya menjadi alumni.

Pemahaman AIK, kata Ayi, tidak seharusnya berhenti sebagai pengetahuan yang diperoleh selama kuliah. Nilai tersebut perlu diwujudkan dalam sikap, etika, profesionalitas, dan kontribusi nyata di tengah masyarakat.

“Lulusan UM Bandung tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan akademik. Mereka juga membutuhkan soft skill, karakter, dan pemahaman AIK agar mampu mengambil peran secara lebih bermakna di masyarakat,” katanya.

Menurut Ayi, integrasi antara ilmu pengetahuan, karakter, dan nilai keislaman menjadi bekal penting bagi lulusan untuk menghadapi dunia kerja sekaligus menjalankan peran sosialnya.

Pradana Boy: Sarjana Punya Modal Sosial Istimewa

Pesan serupa disampaikan Pradana Boy ZTF, Asisten Penasihat Khusus Presiden RI Bidang Haji, yang hadir sebagai salah satu pembicara dalam kegiatan BAPS.

Boy mengajak para calon sarjana UM Bandung memandang kelulusan bukan hanya sebagai pencapaian pribadi, tetapi juga sebagai amanah untuk memberikan manfaat yang lebih luas.

Ia mengingatkan bahwa kesempatan memperoleh pendidikan tinggi hingga jenjang sarjana belum dimiliki seluruh masyarakat Indonesia.

“Hanya sedikit saja masyarakat Indonesia yang bergelar sarjana. Anda sekalian menjadi bagian dari enam hingga sepuluh persen masyarakat Indonesia yang berpendidikan tinggi. Ini adalah modal sosial yang sangat bagus. Posisinya sudah sangat istimewa,” kata Boy.

Namun, menurut Boy, posisi tersebut tidak semestinya membuat lulusan merasa lebih tinggi dibandingkan masyarakat lainnya. Justru, pendidikan tinggi harus menjadi modal untuk mengemban tanggung jawab yang lebih besar.

Ia mendorong calon sarjana UM Bandung menjadi bagian dari kelompok yang mampu menggerakkan perubahan, menghadirkan solusi, dan ikut menentukan arah masa depan bangsa.

Bekal pendidikan yang dimiliki, lanjut Boy, perlu diwujudkan melalui kontribusi sesuai bidang keilmuan dan profesi masing-masing.

Materi BAPS Bekali Mahasiswa Hadapi Dunia Kerja

Sebanyak 684 calon wisudawan dari lima fakultas dan 18 program studi sarjana mengikuti kegiatan BAPS dengan khidmat. Mereka mendapatkan sejumlah materi yang dirancang untuk menjembatani masa perkuliahan dengan dunia kerja dan kehidupan profesional.

Materi yang diberikan meliputi etika profesi dan jiwa technopreneur, integrasi keilmuan serta upaya membangun kemandirian ekonomi di dunia kerja.

Selain itu, peserta mendapatkan penguatan keislaman dan kemuhammadiyahan serta materi mengenai tradisi keilmuan dan tajdid melalui peningkatan kapasitas akademik dan kepakaran, termasuk peluang melanjutkan studi.

Melalui BAPS, UM Bandung berupaya mempersiapkan lulusan agar tidak hanya memiliki kompetensi sesuai bidang keilmuan, tetapi juga mampu mengintegrasikan ilmu, nilai, dan keterampilan dalam kehidupan nyata.

Dengan bekal tersebut, gelar sarjana diharapkan menjadi titik awal perjalanan pengabdian yang lebih luas. Kelulusan dari perguruan tinggi bukan semata-mata penanda berakhirnya masa studi, melainkan awal bagi lulusan untuk berkontribusi bagi masyarakat dan bangsa. (FK/FA)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!