JAKARTA, MENARA62.COM — Di tengah penurunan capaian pendidikan yang dialami banyak negara, Indonesia justru mencatat tren positif dalam dua bidang yang diukur melalui Programme for International Student Assessment (PISA) 2025. Skor membaca dan sains siswa Indonesia masing-masing meningkat enam poin, sementara matematika hanya mengalami penurunan dua poin.
Kepala Pusat Asesmen Pendidikan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Rahmawati mengatakan hasil tersebut perlu dibaca secara lebih utuh dan tidak semata-mata dilihat dari peringkat Indonesia di antara negara peserta PISA.
Menurut dia, perubahan jumlah negara peserta dari satu siklus PISA ke siklus lainnya membuat peringkat tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya indikator untuk menilai perkembangan pendidikan suatu negara.
“Kalau hanya tahu nilainya, rankingnya, tapi kita tidak tahu apa yang diukur, kita tidak bisa memaknai,” kata Rahmawati saat memaparkan hasil PISA 2025 Indonesia.
PISA merupakan studi internasional yang diselenggarakan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) untuk mengevaluasi sistem pendidikan melalui kemampuan siswa berusia 15 tahun. Studi ini dilaksanakan setiap tiga tahun sejak 2000.
Pada PISA 2025, sebanyak 91 negara dan ekonomi berpartisipasi. Jumlah itu menjadi yang terbesar sepanjang penyelenggaraan PISA, terdiri atas 38 negara OECD dan 53 negara non-OECD. Lebih dari 760 ribu siswa menjadi sampel dan mewakili sekitar 33 juta siswa berusia 15 tahun di negara-negara peserta.
Skor Membaca dan Sains Indonesia Naik
Rahmawati mengatakan Indonesia mencatat kenaikan enam poin pada kemampuan membaca dan enam poin pada kemampuan sains dibandingkan siklus sebelumnya. Sementara itu, skor matematika turun dua poin.
Kenaikan tersebut menjadi penting karena hasil PISA tidak berdiri sendiri. Indonesia mengalami perluasan akses pendidikan yang cukup besar dalam beberapa dekade terakhir, tetapi performa siswa secara keseluruhan tetap relatif stabil.
Dalam pemaparan OECD, kondisi tersebut menjadi salah satu capaian Indonesia yang patut diperhatikan.
Indonesia dinilai berhasil meningkatkan akses pendidikan tanpa mengorbankan kualitas secara drastis. Tingkat partisipasi siswa berusia 15 tahun hampir berlipat ganda, sementara performa siswa Indonesia dalam PISA relatif stabil.
Rahmawati menjelaskan, dalam PISA terdapat indikator coverage index yang menggambarkan proporsi anak berusia 15 tahun yang masih berada dalam sistem pendidikan formal.
Pada 2003, coverage index Indonesia hanya sekitar 0,46. Artinya, lebih dari separuh populasi anak berusia 15 tahun saat itu belum tercakup dalam sistem pendidikan formal.
Namun, pada 2025 angkanya telah mencapai sekitar 90 persen. “Artinya, kita betul-betul memberikan kesempatan akses yang merata dan meluas kepada setiap murid, kepada setiap penduduk Indonesia, sampai usia 15 tahun dia masih berada di sistem pendidikan formal,” ujar Rahmawati.
Menurut dia, perluasan akses pendidikan biasanya membawa tantangan tersendiri terhadap capaian akademik. Anak-anak yang baru mendapatkan akses pendidikan secara lebih luas antara lain berasal dari wilayah terpencil dan kelompok sosial ekonomi yang lebih rendah.
Kelompok tersebut, kata Rahmawati, secara umum merupakan kelompok yang paling belakangan memperoleh akses pendidikan dan memiliki tantangan lebih besar dalam mendapatkan sumber belajar.
Karena itu, ketika akses diperluas, capaian rata-rata suatu negara berpotensi mengalami tekanan. Namun, kondisi tersebut tidak terjadi secara signifikan pada hasil PISA Indonesia.
Jangan Hanya Melihat Peringkat
Rahmawati juga mengingatkan agar publik tidak buru-buru menyimpulkan kualitas pendidikan Indonesia hanya berdasarkan posisi peringkat. Jumlah peserta PISA terus berubah dari waktu ke waktu. Pada siklus awal, jumlah negara yang mengikuti PISA lebih sedikit, kemudian meningkat hingga mencapai 91 negara atau ekonomi pada 2025.
Selain jumlah peserta yang berubah, komposisi negara peserta juga tidak selalu sama. Ada negara yang mengikuti satu siklus tetapi tidak mengikuti siklus berikutnya. Karena itu, menurut Rahmawati, perubahan peringkat tidak otomatis menunjukkan peningkatan atau penurunan kualitas pendidikan.
Perbandingan skor dan tren capaian dari satu siklus ke siklus lainnya dinilai lebih relevan untuk membaca perkembangan kemampuan siswa Indonesia.
Jika dibandingkan dengan 76 negara yang sama-sama mengikuti PISA 2022 dan 2025, Indonesia menunjukkan tren positif dalam sains dan membaca. Sebaliknya, cukup banyak negara mengalami penurunan capaian.
Dalam kemampuan membaca, skor Indonesia meningkat enam poin. Pada saat yang sama, rata-rata negara OECD turun sekitar 12 poin, sedangkan capaian global turun sekitar delapan poin.
Pada matematika, skor Indonesia turun dua poin. Penurunan juga terjadi pada negara-negara OECD dengan penurunan sekitar delapan poin, sementara secara global penurunannya sekitar satu poin. Untuk sains, Indonesia menunjukkan kenaikan, sementara rata-rata OECD justru mengalami penurunan.
Rahmawati mengatakan hasil tersebut menunjukkan bahwa performa Indonesia dalam konteks perubahan global perlu dilihat secara proporsional.
Peralihan ke Ujian Berbasis Komputer Jadi Faktor Penting
Salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam membandingkan hasil PISA adalah perubahan moda pelaksanaan asesmen.
Indonesia menggunakan computer-based test (CBT) dalam PISA 2025. Dengan moda tersebut, soal yang diberikan kepada siswa dapat memuat simulasi, hyperlink, berbagai tampilan interaktif, serta fitur yang memungkinkan siswa berinteraksi langsung dengan materi soal.
Rahmawati menegaskan, hasil asesmen berbasis komputer tidak dapat disamakan begitu saja dengan asesmen berbasis kertas dan pensil. Perbedaan tersebut bukan sekadar perubahan perangkat untuk mengerjakan soal. Konstruk soal dan pengalaman siswa dalam mengerjakan asesmen juga berubah. “Tidak bisa kita katakan persis sama, ada perbedaan yang cukup signifikan,” ujarnya.
Indonesia sendiri mulai beralih dari paper and pencil menjadi CBT pada PISA 2018. Dampak perubahan moda tersebut dapat terlihat ketika membandingkan negara yang baru melakukan transisi dari ujian berbasis kertas ke komputer.
Rahmawati mencontohkan Vietnam yang pada PISA 2025 beralih dari paper-based menjadi computer-based test. Negara tersebut mengalami penurunan yang cukup dalam pada capaian membaca.
Menurut Rahmawati, pengalaman Indonesia pada 2018 menunjukkan bahwa perpindahan moda asesmen dapat menjadi tantangan tersendiri karena siswa harus beradaptasi dengan soal yang lebih interaktif dan bersifat real time.
Selain itu, PISA 2025 merupakan hasil pengumpulan data yang dilakukan pada April-Mei 2025.
Soal PISA Tak Sekadar Menguji Hafalan
Rahmawati menjelaskan, kemampuan yang diukur PISA tidak hanya berkaitan dengan penguasaan materi pelajaran. Soal dirancang untuk melihat kemampuan siswa menggunakan pengetahuan dalam situasi yang menyerupai persoalan kehidupan nyata.
Dalam literasi sains, misalnya, siswa dapat dihadapkan pada simulasi mengenai sambaran petir. Mereka dapat mengatur variabel seperti intensitas energi dan jarak sambaran, kemudian menjalankan simulasi untuk melihat hubungan antara kondisi tersebut dengan waktu antara kilatan petir dan suara yang terdengar.
Model seperti itu memungkinkan siswa tidak sekadar menjawab pertanyaan berdasarkan hafalan, tetapi melakukan pengamatan terhadap perubahan variabel dan menarik kesimpulan berdasarkan data.
Dalam literasi membaca, siswa juga dihadapkan pada lebih dari satu sumber informasi. Dua teks dapat membahas topik yang sama, tetapi menyajikan pandangan yang bertolak belakang.
Kemampuan yang diuji bukan hanya membaca isi teks, melainkan membandingkan informasi, memahami sudut pandang, serta menilai perbedaan dan kontradiksi antarsumber.
Sementara dalam literasi matematika, siswa dapat dihadapkan pada persoalan kontekstual seperti tren penjualan DVD dari tahun ke tahun. Siswa kemudian diminta menggunakan pemodelan matematika untuk memperkirakan penjualan pada kondisi tertentu.
Model soal tersebut menunjukkan bahwa literasi dalam kerangka PISA berkaitan erat dengan kemampuan menerapkan pengetahuan untuk memahami dan menyelesaikan persoalan.
Indonesia Masih Menghadapi Disparitas Wilayah
Di balik tren positif tersebut, Rahmawati mengakui masih terdapat kesenjangan capaian antardaerah di Indonesia.
Hasil PISA menunjukkan bahwa sejumlah wilayah memiliki capaian di atas rata-rata nasional. DKI Jakarta, misalnya, mencatat rata-rata skor sains sekitar 427, sedangkan Daerah Istimewa Yogyakarta berada di kisaran 422.
Data tersebut sekaligus menunjukkan adanya disparitas antardaerah yang masih perlu menjadi perhatian dalam kebijakan pendidikan.
Karena itu, capaian nasional tidak boleh membuat pemerintah mengabaikan kelompok siswa yang masih menghadapi keterbatasan akses dan kualitas pembelajaran.
Indonesia juga mengikuti domain inovatif PISA 2025, yaitu Learning in a Digital World. Domain tersebut melihat bagaimana siswa mengelola dan menavigasi proses belajarnya secara mandiri dalam lingkungan digital.
Rasa Ingin Tahu Tinggi, tetapi Growth Mindset Masih Lemah
PISA 2025 juga mengumpulkan data melalui kuesioner yang diberikan kepada siswa dan kepala sekolah. Kuesioner tersebut tidak hanya menggali capaian akademik, tetapi juga latar belakang siswa, kebiasaan, persepsi, sikap, iklim sekolah, serta berbagai faktor yang berkaitan dengan proses belajar.
Dari aspek curiosity atau rasa ingin tahu, siswa Indonesia menunjukkan capaian yang relatif baik. Tingkat rasa ingin tahu siswa Indonesia bahkan disebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata OECD.
Iklim kedisiplinan di kelas sains juga menjadi salah satu aspek yang dinilai cukup baik. Namun, terdapat sejumlah catatan yang perlu mendapat perhatian. Salah satunya adalah growth mindset siswa Indonesia yang masih rendah.
Growth mindset berkaitan dengan keyakinan bahwa kemampuan seseorang dapat berkembang melalui usaha, pembelajaran, pengalaman, dan proses yang berkelanjutan.
Rendahnya aspek tersebut menunjukkan bahwa masih diperlukan penguatan keyakinan pada siswa bahwa kemampuan bukan sesuatu yang bersifat tetap.
Dukungan keluarga juga menjadi tantangan lain. Jika dukungan guru dinilai relatif baik, dukungan keluarga terhadap proses belajar siswa masih tergolong rendah dibandingkan capaian secara global.
Empat Pilar Tindak Lanjut
Kemendikdasmen menyiapkan sejumlah langkah tindak lanjut untuk merespons hasil PISA 2025. Rahmawati menyebut setidaknya ada empat pilar utama yang menjadi perhatian, yakni penguatan kompetensi guru, peningkatan kualitas pembelajaran, penguatan sistem asesmen, dan peningkatan peran keluarga.
Pada aspek guru, pemerintah terus mendorong pemenuhan kualifikasi akademik, penguatan profesionalisme, pelatihan berkelanjutan, peningkatan kompetensi melalui pembelajaran mendalam, penguatan kompetensi digital, serta pembangunan budaya belajar sepanjang hayat.
Pada sisi pembelajaran, pemerintah mendorong penerapan pembelajaran mendalam, digitalisasi pembelajaran, penyediaan sumber belajar, penguatan STEM dan kompetensi digital, serta peningkatan literasi, numerasi, karakter, dan kebiasaan belajar siswa.
Sementara dalam sistem asesmen, Indonesia saat ini memiliki dua asesmen berskala nasional, yakni Asesmen Nasional dan Tes Kemampuan Akademik.
Kemendikdasmen juga berupaya menguatkan kemampuan berpikir kritis dan penalaran agar semakin terintegrasi dalam sistem asesmen nasional.
Pemanfaatan platform pendidikan dan berbagai sumber inspirasi asesmen bagi guru maupun siswa juga menjadi bagian dari upaya tersebut.
Adapun pada aspek keluarga, pemerintah mendorong penguatan kebiasaan positif melalui program tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat.
Menurut Rahmawati, pendidikan tidak dapat hanya dibebankan kepada sekolah. Kebiasaan belajar dan pembentukan karakter juga dimulai dari lingkungan rumah sehingga diperlukan kemitraan yang kuat antara orang tua, sekolah, dan masyarakat.
PISA Bukan Sekadar Soal Ranking
Hasil PISA 2025 pada akhirnya memberikan gambaran yang lebih kompleks mengenai kondisi pendidikan Indonesia.
Di satu sisi, Indonesia masih menghadapi tantangan dalam kemampuan matematika, kesenjangan antardaerah, growth mindset, dan dukungan keluarga. Di sisi lain, Indonesia berhasil memperluas akses pendidikan secara signifikan tanpa diikuti penurunan performa secara drastis.
Kenaikan enam poin pada membaca dan sains juga menjadi sinyal positif, terutama ketika sejumlah negara lain justru mengalami penurunan.
Karena itu, hasil PISA tidak cukup dibaca sebagai daftar peringkat 91 negara peserta. Lebih penting dari itu adalah memahami apa yang sebenarnya diukur, bagaimana perubahan konteks pendidikan memengaruhi hasil, serta apa yang harus dilakukan setelah angka-angka tersebut diumumkan.
Bagi Indonesia, tantangan berikutnya bukan sekadar mengejar posisi peringkat, melainkan memastikan semakin banyak anak memperoleh pendidikan berkualitas, mampu berpikir kritis, memiliki rasa ingin tahu, percaya bahwa dirinya dapat berkembang, serta memperoleh dukungan yang konsisten dari sekolah dan keluarga.
Dengan demikian, PISA dapat ditempatkan bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai salah satu cermin untuk melihat bagian mana dari sistem pendidikan Indonesia yang sudah bergerak maju dan bagian mana yang masih membutuhkan pembenahan.

