28.3 C
Jakarta

Profesionalisme Guru Harus Sejalan dengan Komitmen Muhammadiyah

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Profesionalisme guru tidak hanya diukur dari kemampuan mengajar di ruang kelas. Integritas, kebersamaan, loyalitas, serta komitmen terhadap Persyarikatan Muhammadiyah menjadi bagian penting dalam membangun sekolah yang sehat dan berkelanjutan.

 

Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan supervisi dan pembinaan dinas kepala sekolah bagi guru dan karyawan SD Muhammadiyah 1 Ketelan dan SMP Muhammadiyah PKBS Surakarta, Sabtu (5/9/2026).

 

Kegiatan yang berlangsung di SMP Muhammadiyah PKBS Surakarta tersebut diawali dengan olahraga bersama. Para guru dan karyawan mengenakan seragam olahraga dan mengikuti agenda sejak pukul 06.00 hingga 10.00 WIB.

 

Usai olahraga, kegiatan dilanjutkan dengan supervisi serta pembinaan dinas kepala sekolah. Pembinaan diarahkan untuk memperkuat profesionalisme sekaligus menumbuhkan kesadaran bahwa sekolah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Persyarikatan Muhammadiyah.

 

Kepala Sekolah Sri Sayekti mengingatkan seluruh guru dan karyawan agar menjaga sekolah sebagai ruang bersama yang harus dirawat, bukan justru dilemahkan dari dalam.

 

“Jangan pernah melubangi kapal sendiri. Sebab, kalau kita melubangi kapal sendiri, yang akan celaka bukan hanya kita, tetapi kita semua bisa tenggelam,” ujar Sri Sayekti.

 

Ia kemudian menggunakan perumpamaan sumur untuk menggambarkan posisi guru dan karyawan dalam lingkungan sekolah. Menurutnya, mereka ibarat orang-orang yang bersama-sama mengambil air dari satu sumur.

 

Karena digunakan bersama, sumur tersebut harus dijaga kebersihan dan keberlangsungannya.

 

“Jangan pula mengotori sumur tempat bersama kita menimba air dan meminumnya. Kalau sumur kita kotor, bukan hanya yang mengotori yang terkena dampaknya. Kita semua bisa meminum air yang kotor,” imbuhnya.

 

Tekankan Etika dan Loyalitas

 

Dalam pembinaan tersebut, guru dan karyawan juga diingatkan untuk menjaga etika serta hubungan baik dengan sesama. Salah satunya melalui pesan agar tidak melupakan orang yang pernah memberikan pertolongan.

 

“Pentingnya menjaga etika, loyalitas, dan hubungan baik di lingkungan sekolah,” pesannya.

 

Sri Sayekti juga menegaskan bahwa sekolah bukan milik pribadi, melainkan bagian dari Persyarikatan Muhammadiyah. Karena itu, guru dan karyawan memiliki tanggung jawab untuk turut menjaga dan mengembangkan sekolah melalui keterlibatan dalam berbagai aktivitas persyarikatan.

 

Keterlibatan tersebut tidak hanya diwujudkan melalui pekerjaan di sekolah. Guru dan karyawan juga didorong aktif mengikuti kegiatan keagamaan dan dakwah Muhammadiyah, termasuk pengajian persyarikatan dan pengajian keluarga.

 

“Salah satunya dengan memenuhi undangan pengajian yang diselenggarakan Majelis Tabligh dan Dakwah Komunitas PDM Kota Surakarta, seperti kegiatan Pengajian Jumat keempat yang sebelumnya diikuti,” jelasnya.

 

Ke depan, penguatan pembinaan keagamaan juga akan dilakukan melalui rencana pengajian Aisyiyah dengan menghadirkan Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA).

 

Langkah tersebut diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Profesionalisme guru, kekompakan karyawan, serta komitmen terhadap Persyarikatan Muhammadiyah diharapkan dapat berjalan secara beriringan dalam kehidupan sekolah.

 

“Menjaga sekolah tetap sehat, solid, dan terus berkembang,” pungkas Sri Sayekti.

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!