SOLO, MENARA62.COM – Menjadi juara bukan satu-satunya ukuran keberhasilan seorang siswa. Di balik piala dan medali, ada hal yang tak kalah penting: bagaimana seorang anak menjaga ucapan, ibadah, kedisiplinan, hingga tanggung jawab sehari-hari.
Pesan itu mengemuka dalam upacara Hari Senin di SD Muhammadiyah 24 Gajahan Surakarta, Senin (14/9/2026).
Bertindak sebagai pembina upacara, Syamsudin Nawwar Hibatulloh, M.Pd., mengingatkan siswa agar tidak terjebak pada kebiasaan yang tampak sepele, tetapi dapat membentuk karakter mereka dalam jangka panjang.
Salah satunya adalah penggunaan kata-kata kotor.
Syamsudin secara khusus mengingatkan siswa untuk menjaga ucapan, termasuk ketika bermain gim. Menurut dia, kebiasaan melontarkan kata-kata kasar saat bermain dapat terbawa ke lingkungan pergaulan dan menjadi bagian dari perilaku sehari-hari.
Karena itu, siswa diminta mulai membiasakan diri menggunakan bahasa yang baik, sopan, dan mencerminkan akhlak seorang pelajar.
Pesan tersebut menjadi semakin penting karena pendidikan, menurut Syamsudin, bukan sekadar tentang seberapa tinggi nilai yang diperoleh siswa.
“Belajar bukan hanya untuk mengetahui, tetapi juga bagaimana ilmu yang didapat bisa diterapkan dalam kehidupan,” demikian pesan yang disampaikan dalam amanat upacara.
Salat dan Al-Qur’an Jangan Ditinggalkan
Selain menjaga lisan, Syamsudin mengingatkan siswa untuk tidak meninggalkan ibadah.
Salat, terutama salat Subuh, serta kebiasaan membaca Al-Qur’an disebut sebagai bagian dari pembentukan karakter siswa. Konsistensi menjalankan ibadah dinilai dapat melatih kedisiplinan sekaligus memperkuat fondasi spiritual anak.
Di lingkungan sekolah Muhammadiyah, pendidikan karakter tidak dipisahkan dari pendidikan keagamaan.
Siswa tidak hanya didorong untuk memahami ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki adab, tanggung jawab, amanah, dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
Pesan itu kemudian diperluas pada kebiasaan sehari-hari di sekolah.
Siswa diingatkan untuk menjaga kebersihan kelas, membuang sampah pada tempatnya, serta menaati aturan sekolah. Termasuk dalam hal berpakaian, siswa diminta mengenakan atribut secara lengkap, salah satunya sabuk bagi siswa putra.
Hal-hal sederhana tersebut dinilai penting karena kedisiplinan tidak lahir secara instan. Ia dibentuk melalui kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang.
Untuk membuat pesan lebih dekat dengan dunia anak, Syamsudin juga menggunakan pantun sebagai bagian dari amanatnya.
Cara tersebut membuat pesan tentang akhlak, ibadah, kebersihan, dan disiplin tidak disampaikan secara kaku, tetapi lebih mudah diterima siswa.
Empat Siswa Bawa Pulang Prestasi
Menariknya, setelah pesan tentang akhlak dan kedisiplinan disampaikan, sekolah kemudian memberikan penghargaan kepada siswa yang berhasil menorehkan prestasi.
Ada empat siswa SD Muhammadiyah 24 Gajahan yang mendapat apresiasi atas capaian mereka.
Alesha Iftikar Naufalyn, siswa kelas 5, meraih Juara Umum 2 Pemula Taekwondo Kyorugi Pra Cadet CU 33 Putri Piala Wali Kota Solo.
Prestasi serupa datang dari Khaleev Aryzuko At Thoriq, siswa kelas 6, yang meraih Juara 3 Taekwondo Kategori Kelas Berprestasi Piala Wali Kota Solo.
Sementara itu, Felicia Fiona Putri Mardiyan dari kelas 3A berhasil meraih Juara 3 Lomba Mewarnai Kids Coloring Competition Kategori SD Kelas 1–3.
Adapun Shaekano Fathan Alkhalifi dari kelas 2A meraih Juara 3 Kejuprov Pelajar Shorinji Kempo Piala Kadispora Jateng 2026.
Pemberian penghargaan itu menjadi bagian penting dalam upacara. Sekolah tidak hanya mengapresiasi hasil yang diraih, tetapi juga memberikan dorongan agar siswa lain berani mengembangkan bakat dan potensinya.
Di sisi lain, pesan pembina upacara mengingatkan bahwa prestasi dan karakter tidak seharusnya berjalan sendiri-sendiri.
Medali dan piala boleh menjadi kebanggaan. Namun, kemampuan menjaga ucapan, rajin beribadah, disiplin, menjaga kebersihan, serta bertanggung jawab menjadi bekal yang jauh lebih panjang bagi seorang anak.
Bagi SD Muhammadiyah 24 Gajahan, keduanya menjadi bagian dari proses membentuk siswa yang tidak hanya berprestasi, tetapi juga berakhlak dan berkarakter Islami.
Sebab, pada akhirnya, sekolah bukan hanya tempat anak belajar menjadi pintar. Sekolah juga menjadi tempat mereka belajar menjadi manusia yang baik. (*)
