30.9 C
Jakarta

Muhammad Subhan : Masih Ada Kesenjangan antara Riset Akademik dan Kebutuhan Industri

Baca Juga:

YOGYAKARTA, MENARA62.COM — Saat ini, masih ada kesenjangan antara riset akademik dan kebutuhan industri. Kesenjangan tersebut terlihat dari relevansi topik penelitian, kecepatan adopsi inovasi, dan kesiapan sumber daya manusia (SDM). Karena itu, mahasiswa pascasarjana dan profesi dituntut memiliki kemampuan menerjemahkan hasil penelitian menjadi solusi yang menguntungkan bagi industri.

Dr Muhammad Subhan Iswahyudi, General Manager Telkom Corporate University mengemukakan hal tersebut pada Kuliah Umum bertajuk ‘From Research to Industrial Impact: Bridging Academia and Industry’ di Gedung KH Mas Mansyur, Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (FTI UII) Yogyakarta, Sabtu (19/6/2026). Kuliah Umum diikuti mahasiswa baru program Doktor, Magister, dan Profesi Insinyur di lingkungan FTI UII.

Mahasiswa baru berasal dari Program Doktor Rekayasa Industri, Doktor Informatika, Magister Teknik Industri, Magister Informatika, Magister Rekayasa Elektro, Magister Teknik Kimia, dan Profesi Insinyur. Karena itu, mahasiswa Pascasarjana dan Profesi Insinyur dituntut agar hasil penelitiannya mempersempit kesenjangan tersebut.

Muhammad Subhan Iswahyudi menjelaskan di Telkom, riset dan inovasi mulai dikelola secara lebih sistematis. Subhan mengatakan kebijakan resmi tentang riset dan inovasi telah ditetapkan pada 2022 sebagai bagian dari fungsi Learning and Development.

“Pengelolaan kemudian dipusatkan melalui Indonesia Telecommunication and Digital Research Institute (ITDRI) di bawah Telkom Corporate University,” kata Muhammad Subhan Iswahyudi.

Telkom, kata Subhan, membagi riset dan inovasi berdasarkan Three-Horizons of Research and Innovation Framework. Horizon pertama berfokus pada pasar yang telah dikenal dan siap menerapkan solusi. Horizon kedua berkaitan dengan adopsi teknologi pada pasar yang sebagian telah diketahui. Sedang horizon ketiga berisi riset eksploratif pada pasar yang belum diketahui dan menjadi ruang kolaborasi akademia yang lebih besar.

Proses inovasi, kata Muhammad Subhan, semua ide melewati tahapan Define, Design, Develop, Deploy, dan Delivery. Setiap perpindahan tahap dipantau melalui monitoring dan evaluasi serta sidang komite, sementara pembelajaran dicatat dalam IdeaBox.

Subhan juga menawarkan peluang kolaborasi Telkom Corporate University dengan FTI UII. “Kolaborasi bisa melalui riset bersama lintas bidang, forum publikasi dan presentasi riset, serta jalur magang dan penempatan talenta mahasiswa pascasarjana dan profesi,” kata Subhan.

Kuliah Umum juga diisi Mukhammad Andri Setiawan, ST, MSc, PhD, Ketua Program Studi Informatika, Program Sarjana FTI UII. Andri Setiawan mengangkat tema ‘From Research Assistant to Research Agent: The Emerging Role of Agentic AI in Academia.’

Sedang Prof Dr Sri Kusumadewi, SSi, MT, Dekan Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (FTI UII) Yogyakarta menandaskan hasil penelitian lulusan Pascasarjana dan Program Profesi wajib menjadi solusi yang relevan dengan kebutuhan industri. Sebab saat ini, masih terdapat kesenjangan antara dunia akademik dan industri.

Dr Ir Muhammad Khafidh, ST, MT, IPP, Wakil Dekan Bidang Akademik, Riset, dan Rekognisi FTI UII menambahkan Kuliah Umum ini dimaksudkan membantu mahasiswa merancang arah riset dan karier yang relevan dengan kebutuhan industri. FTI UII juga menempatkan kegiatan ini sebagai bagian dari upaya memperkuat hubungan kolaboratif dengan dunia industri, khususnya dalam pengembangan sumber daya manusia dan riset terapan. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!