35.2 C
Jakarta

Wamendikdasmen Ingatkan Maba UM Bandung Soal Kompetensi

Baca Juga:

BANDUNG, MENARA62.COM – Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq mengingatkan mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung agar tidak menjadikan ijazah sebagai satu-satunya tujuan menempuh pendidikan tinggi.

 

Menurut Fajar, mahasiswa perlu membekali diri dengan kompetensi, karakter, keterampilan hidup, kemampuan beradaptasi, serta budaya belajar berkelanjutan untuk menghadapi perubahan dunia kerja.

 

Pesan tersebut disampaikan Fajar saat memberikan sambutan dan motivasi kepada ribuan mahasiswa baru UM Bandung di Auditorium KH Ahmad Dahlan, lantai tiga kampus UM Bandung, Senin (21/9/2026).

 

Fajar mengapresiasi kiprah UM Bandung dalam memberikan layanan pendidikan di Jawa Barat. Ia juga menyambut mahasiswa baru yang menempuh pendidikan melalui jalur Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL).

 

Menurutnya, RPL menjadi salah satu jalur yang relevan bagi masyarakat untuk melanjutkan atau menyelesaikan pendidikan sarjana. Program tersebut juga dinilai berkaitan dengan upaya meningkatkan kualifikasi guru yang belum menyelesaikan pendidikan S1.

 

Jangan Hanya Kejar Ijazah

 

Fajar mengingatkan mahasiswa baru bahwa mereka kini menjadi bagian dari jaringan 164 Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA).

 

Jaringan tersebut, kata dia, dapat menjadi modal sosial bagi mahasiswa untuk memperluas ruang belajar, pengalaman berorganisasi, serta membangun relasi.

 

“Jangan hanya mencari ijazah. Hal yang lebih penting adalah kompetensi,” ujar Fajar.

 

Ia juga menyoroti perubahan kebutuhan dunia kerja yang berlangsung seiring perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

 

Karena itu, mahasiswa didorong tidak hanya fokus pada kegiatan akademik di ruang kelas. Mereka perlu aktif berorganisasi, mengasah komunikasi, membangun kemampuan beradaptasi, serta membiasakan diri belajar secara berkelanjutan.

 

“Mahasiswa harus menyiapkan diri karena dunia kerja akan terus berubah,” pesannya.

 

Fajar juga mengingatkan mahasiswa agar tidak menyia-nyiakan kesempatan menempuh pendidikan tinggi. Kesungguhan dalam belajar, menurutnya, menjadi salah satu cara menghargai perjuangan orang tua yang telah mendukung pendidikan mereka.

 

Selain kompetensi, ia menekankan pentingnya dimensi spiritual dalam proses pendidikan. Menurut Fajar, proses mencari ilmu tidak berhenti ketika seseorang memperoleh gelar akademik, melainkan berlangsung sepanjang hayat dan diharapkan memberi manfaat bagi kehidupan serta menjadi bagian dari pengabdian kepada Allah SWT.

 

Dadang Kahmad Tekankan Integritas

 

Rektor UM Bandung Herry Suhardiyanto menyampaikan apresiasi atas kehadiran Wamendikdasmen di tengah kesibukannya. Ia berharap pesan yang disampaikan Fajar dapat menjadi bekal mahasiswa baru dalam menjalani kehidupan akademik.

 

Herry juga menyampaikan apresiasi kepada Pimpinan Pusat Muhammadiyah atas dukungan terhadap perkembangan UM Bandung. Kampus yang berada di Jalan Soekarno-Hatta Nomor 752 Bandung tersebut disebut telah meraih akreditasi Baik Sekali dalam waktu relatif singkat.

 

“Kami mengucapkan selamat datang kepada para mahasiswa baru yang hari ini mengikuti Pesonamu. Kami juga berharap semoga dukungan semua pihak bisa mempercepat terwujudnya visi Islamic Technopreneurial University,” tuturnya.

 

Sementara itu, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dadang Kahmad mengingatkan mahasiswa baru bahwa mereka kini menjadi bagian dari keluarga besar pendidikan Muhammadiyah.

 

Dadang menyebut sekitar 800 ribu mahasiswa belajar di 164 PTMA. Menurutnya, lingkungan tersebut menjadi bagian dari ekosistem pendidikan yang dapat mendukung mahasiswa mengembangkan diri.

 

Ia menyampaikan lima hal yang perlu menjadi pegangan mahasiswa, yakni membangun budaya belajar, menjaga integritas, memiliki kepedulian sosial, memperluas wawasan global, serta membangun cita-cita melalui kebiasaan kecil dan kedisiplinan.

 

Dadang juga mengingatkan mahasiswa agar menjauhi plagiarisme, menyontek, dan bentuk ketidakjujuran akademik lainnya.

 

“Ilmu melahirkan amal dan amal melahirkan kebaikan,” katanya.

 

Di tengah perkembangan teknologi, mahasiswa juga didorong menguasai bahasa asing dan teknologi tanpa kehilangan jati diri. Kebiasaan datang tepat waktu, disiplin mengikuti perkuliahan, dan kesungguhan belajar dinilai sebagai langkah sederhana yang dapat membentuk kebiasaan positif.

 

“Jadikan kampus ini sebagai pijakan untuk mewujudkan mimpi dan menjadi generasi yang membawa kemajuan bangsa,” pungkas Dadang. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!