SOLO, MENARA62.COM – Ketika penggunaan gawai berlebihan menjadi kekhawatiran banyak orang tua, sekelompok mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) https://www.ums.ac.id/ justru mencoba mengubah teknologi menjadi sarana untuk membantu mengoptimalkan perkembangan kognitif anak.
Gagasan itu mereka tuangkan melalui RoboMind, sebuah ekosistem digital berbasis neuropsikologi yang dirancang untuk menstimulasi fungsi kognitif dan fungsi eksekutif anak usia sekolah dasar.
Inovasi bertajuk “RoboMind: A Neuropsychological Ecosystem to Empower Children’s Prefrontal Cortex Development” tersebut berhasil meraih medali emas kategori Innovative Social Sciences dalam ajang 8th World Invention Competition and Exhibition (WICE) 2026 di Malaysia.
Ketua Tim RoboMind, Deko Bagus Wahyu Handoko, mengatakan ide tersebut berangkat dari kegelisahan terhadap penggunaan gawai secara berlebihan pada anak dan dampaknya terhadap berbagai aspek perkembangan.
“Banyak orang tua melihat penggunaan gawai berlebihan hanya sebagai persoalan perilaku. Padahal, masa kanak-kanak merupakan periode penting bagi perkembangan fungsi eksekutif,” ujar Deko, Kamis (1/10/2026).
Menurut dia, tim kemudian mencoba menghadirkan RoboMind sebagai media yang mengarahkan interaksi anak dengan teknologi menjadi aktivitas yang lebih produktif.
Gabungkan Asesmen dan Permainan Edukatif
RoboMind dikembangkan sebagai ekosistem digital terpadu yang menggabungkan instrumen asesmen dan permainan edukatif adaptif.
Melalui berbagai aktivitas interaktif, anak diajak menstimulasi kemampuan perhatian, kontrol diri, pemecahan masalah, hingga fungsi eksekutif lainnya.
Konsep RoboMind menggunakan prefrontal cortex (PFC) sebagai salah satu landasan pengembangan. Bagian otak tersebut berkaitan dengan sejumlah fungsi eksekutif, seperti perencanaan, pengendalian respons, pengambilan keputusan, dan regulasi perilaku.
Konsep neuropsikologi yang kompleks tersebut kemudian diterjemahkan tim ke dalam aktivitas digital yang lebih sederhana, interaktif, dan ramah bagi anak.
“Tim Psikologi berfokus pada aspek neuropsikologi, asesmen, intervensi emosi, serta desain perilaku anak. Sementara itu, tim Informatika menerjemahkan konsep tersebut menjadi sistem digital, coding, serta desain antarmuka dan pengalaman pengguna atau UI/UX,” kata Deko.
Ia mengakui, tantangan terbesar dalam pengembangan RoboMind adalah menerjemahkan konsep psikologi yang kompleks menjadi teknologi yang mudah dipahami dan menarik bagi anak.
Kolaborasi Tiga Bidang di UMS
RoboMind lahir dari kolaborasi lintas disiplin mahasiswa Psikologi, Pendidikan Teknik Informatika, dan Teknik Informatika UMS.
Tim tersebut terdiri atas Deko Bagus Wahyu Handoko, Taufik Imansyah, Muhammad Rayhan Fahlevi, Samantha Aulia Cahyadi, Yuanda Eka Saputra, Mifthahul Amri, dan Onic Agustino.
Masing-masing anggota mengambil peran sesuai bidang keahlian. Mahasiswa Psikologi menangani aspek neuropsikologi, asesmen, intervensi emosi, dan desain perilaku anak.
Sementara mahasiswa bidang Informatika mengembangkan sistem digital, pemrograman, serta desain antarmuka dan pengalaman pengguna.
Sebelum dibawa ke kompetisi internasional, tim juga telah melakukan perlindungan terhadap karya tersebut. RoboMind telah memperoleh pencatatan Hak Cipta melalui Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) sebagai bagian dari upaya menjaga orisinalitas inovasi.
Tembus Kompetisi Inovasi Internasional
RoboMind kemudian dipresentasikan dalam 8th World Invention Competition and Exhibition (WICE) 2026, yang diselenggarakan Indonesian Young Scientist Association (IYSA) bekerja sama dengan SEGi University & Colleges, Malaysia.
WICE 2026 mempertandingkan lima bidang utama, yakni Applied Life Sciences, Innovative Social Sciences, Applied Physics and Engineering, Environmental Sciences, serta IT and Robotics.
Kompetisi berlangsung secara daring pada 10–14 September 2026. Tahap berikutnya berupa pameran dan penganugerahan secara luring digelar pada 20–24 September 2026 di SEGi University, Kota Damansara, Malaysia.
Bersaing pada kategori Innovative Social Sciences, tim RoboMind mempresentasikan prototipe sekaligus konsep inovasi di hadapan dewan juri internasional.
Perpaduan pendekatan neuropsikologi dan teknologi digital tersebut akhirnya membawa mahasiswa UMS meraih Gold Medal.
Bagi Deko dan tim, medali emas bukan menjadi garis akhir. Penghargaan tersebut justru menjadi pijakan untuk membawa RoboMind ke tahap pengembangan dan implementasi yang lebih luas.
“Kami berharap RoboMind tidak berhenti sebagai karya yang memenangkan kompetisi. Tujuan akhirnya adalah bagaimana inovasi ini bisa memberikan manfaat nyata bagi anak-anak, terutama dalam membantu mereka berinteraksi dengan teknologi secara lebih sehat dan produktif,” pungkasnya.
Ke depan, RoboMind diharapkan dapat terus dikembangkan sebagai alternatif media pendampingan anak di lingkungan pendidikan maupun keluarga.
Perpaduan psikologi, neuropsikologi, pendidikan, dan teknologi informasi dalam inovasi tersebut sekaligus menunjukkan upaya mahasiswa UMS menghadirkan solusi teknologi untuk menjawab tantangan perkembangan anak di era digital. (*)

