34 C
Jakarta

Sekjen MUI: Kasih Sayang Jadi Fondasi Pengasuhan dan Perlindungan Anak

Baca Juga:

JAKARTA, MENARA62.COM – Sekretaris Jenderal (Sekjen) Majelis Ulama Indonesia (MUI), Buya Amirsyah Tambunan, menekankan pentingnya kasih sayang dalam membangun keluarga sekaligus melindungi anak dari berbagai persoalan sosial yang berkembang di tengah masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Buya Amirsyah saat membuka Seminar Penguatan Institusi Pendidikan yang Ramah Anak di Kantor Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Jakarta, Rabu (30/9/2026).

Menurut Buya Amirsyah, kasih sayang merupakan kebutuhan mendasar bagi anak, terutama pada masa pertumbuhan. Kasih sayang dari orang tua menjadi modal penting bagi anak dan keluarga dalam menghadapi berbagai ujian serta persoalan kehidupan.

“Kasih sayang adalah modal utama agar kita menghadapi berbagai ujian, percobaan, dan penyakit dalam masyarakat,” ujar Buya Amirsyah.

Ia mengatakan, keluarga di Indonesia saat ini menghadapi beragam tantangan. Berdasarkan data Long Form Sensus Penduduk yang disampaikannya, jumlah rumah tangga di Indonesia mencapai sekitar 79,5 juta.

Di tengah kondisi tersebut, terdapat rumah tangga yang dikepalai perempuan, baik karena menjadi orang tua tunggal, kehilangan pasangan, maupun karena kondisi tertentu yang menempatkan perempuan sebagai pencari nafkah utama keluarga.

Buya Amirsyah menyebut sekitar 14,3 persen perempuan di Indonesia berstatus sebagai pencari nafkah utama keluarga. Kondisi tersebut membuat perempuan tidak hanya menjalankan tanggung jawab ekonomi, tetapi juga tetap dituntut menjalankan peran pengasuhan terhadap anak.

“Bagaimana seorang ibu yang menjadi kepala rumah tangga dan pencari nafkah utama tetap dapat memberikan kasih sayang dan perhatian yang cukup kepada anak?” katanya.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan pengasuhan anak tidak dapat dipisahkan dari persoalan sosial yang berkembang di masyarakat. Ketika kebutuhan anak akan kasih sayang dan rasa aman tidak terpenuhi, persoalan di dalam keluarga dapat berkembang menjadi luka dan trauma.

Ia menyinggung berbagai kasus kekerasan yang dapat meninggalkan trauma pada anak, baik berupa luka fisik maupun luka batin. Menurutnya, persoalan tersebut dapat muncul dari akumulasi berbagai faktor, antara lain perkembangan teknologi, kurangnya perhatian dan kasih sayang, serta dinamika sosial di lingkungan keluarga dan masyarakat.

Karena itu, Buya Amirsyah mengajak para orang tua untuk menempatkan kasih sayang sebagai bagian penting dalam proses pengasuhan anak.

Ia mengingatkan pesan Rasulullah SAW, “Man la yarham la yurham,” yang berarti, “Siapa yang tidak menyayangi, tidak akan disayangi.”

“Kalau kita ingin melakukan sesuatu tetapi kehilangan kasih sayang, yang terjadi kemudian adalah kekerasan, kekerasan yang terus-menerus,” tuturnya.

Buya Amirsyah juga menyoroti fenomena broken home dan berbagai persoalan sosial yang dapat muncul ketika anak kehilangan figur orang tua atau tidak memperoleh rasa aman di dalam keluarga.

Menurutnya, kehadiran orang tua bagi anak bukan hanya dalam bentuk kehadiran secara fisik, tetapi juga melalui perhatian, perlindungan, pendampingan, dan kasih sayang. Ketika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi, anak dapat mengalami luka batin yang kemudian memengaruhi perilakunya pada masa mendatang.

Ia mengingatkan para orang tua agar tidak mewariskan pola pengasuhan yang berpotensi menimbulkan luka kepada generasi berikutnya.

“Boleh jadi seseorang berhasil secara ekonomi, tetapi menyimpan luka batin, mudah marah, sulit mencintai, atau justru mengulang pola yang sama kepada anak,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian bersama karena dapat membentuk apa yang dikenal sebagai warisan trauma lintas generasi.

Padahal, kata Buya Amirsyah, Islam tidak mengajarkan pola pengasuhan yang dibangun atas kekerasan dan ketakutan. Sebaliknya, Islam mengajarkan rahmat, kelembutan, serta pendekatan yang dilandasi keikhlasan.

“Islam mengajarkan rahmat, yaitu kelembutan dan pendekatan yang penuh ikhlas,” katanya.

Lebih lanjut, Buya Amirsyah mengajak para orang tua untuk melakukan evaluasi terhadap pola pengasuhan yang diterapkan di dalam keluarga. Menurutnya, keberhasilan anak tidak semata-mata dapat diukur dari pencapaian akademik maupun keberhasilan ekonomi.

Sebab, terdapat anak yang secara pendidikan dan ekonomi terlihat berhasil, tetapi belum tentu tumbuh dengan kondisi batin yang sehat. Sebaliknya, keluarga dengan jumlah anak yang lebih sedikit pun tetap dapat menghadapi persoalan pengasuhan yang kompleks.

“Ini tentu menjadi bahan evaluasi di tengah-tengah keluarga kita sekarang,” ujarnya.

Buya Amirsyah berharap penguatan institusi pendidikan yang ramah anak dapat berjalan seiring dengan penguatan keluarga. Menurutnya, lingkungan pendidikan dan keluarga memiliki peran penting dalam menciptakan ruang yang aman, nyaman, penuh kasih sayang, serta mendukung tumbuh kembang anak secara utuh.

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!