Siswa SMP Muhammadiyah PK Kottabarat Borong Tiga Gelar Olimpiade Sains dalam Dua Pekan

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM — Prestasi gemilang ditorehkan Muhammad Wira Adinegara, siswa kelas VIII SMP Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat Surakarta. Dalam waktu kurang dari dua pekan, Wira sukses meraih tiga gelar juara di bidang sains, mulai dari medali emas Olimpiade IPA tingkat Kota Surakarta hingga medali emas Kompetisi Sains Nalaria Realistik (KSNR) tingkat nasional.

 

Tiga prestasi tersebut meliputi medali emas Olimpiade IPA dalam kompetisi Ikatan Kepala Sekolah Swasta (IKSS) tingkat Kota Surakarta di Sahid Jaya Solo, Selasa (20/10/2026); medali emas KSNR tingkat nasional di Bogor, Minggu (18/10/2026); serta juara III bidang IPA Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) tingkat Provinsi Jawa Tengah, Sabtu (10/10/2026).

 

Capaian tersebut bukan sekadar deretan penghargaan. Bagi Wira, keberhasilan itu menjadi bukti kesungguhannya menekuni bidang sains sekaligus memenuhi janji kepada kedua orang tuanya untuk terus berjuang meraih prestasi.

 

Berawal dari Kegagalan, Wira Menemukan Passion di IPA

 

Ketertarikan Wira terhadap olimpiade IPA tumbuh sejak duduk di kelas III sekolah dasar. Saat pertama kali mengikuti kompetisi hingga tingkat provinsi, ia belum berhasil membawa pulang kemenangan.

 

Namun, pengalaman tersebut tidak membuatnya menyerah. Wira justru menjadikan kegagalan sebagai pemacu semangat untuk belajar lebih giat. Setahun kemudian, saat duduk di kelas IV SD, ia kembali mengikuti olimpiade IPA dan berhasil meraih medali emas tingkat nasional.

 

“Awalnya saya merasa tertantang. Setelah mengikuti lomba IPA, saya merasa menemukan passion di bidang ini,” ungkap Wira.

 

Sejak saat itu, ia semakin serius mendalami ilmu pengetahuan alam. Menurutnya, IPA menawarkan pengalaman belajar yang menarik karena mengajaknya menggunakan penalaran untuk memahami berbagai fenomena alam.

 

Kepuasan tersendiri ia rasakan ketika berhasil menemukan jawaban atas persoalan sains. Ketertarikan tersebut juga tumbuh melalui kebiasaan melakukan eksperimen sederhana di rumah, salah satunya membuat simulasi gunung meletus.

 

Dukungan guru dan kedua orang tuanya turut memperkuat minat Wira. Mereka menyediakan buku-buku dan berbagai sumber belajar agar ia dapat mengembangkan pengetahuan serta kemampuannya di bidang sains.

 

Disiplin Belajar Tiga Jam Sehari

 

Di balik tiga gelar juara yang diraihnya, terdapat kebiasaan belajar yang konsisten. Wira mengalokasikan sekitar tiga jam sehari secara khusus untuk mempelajari materi IPA.

 

Ia menerapkan strategi berbeda sesuai dengan karakteristik setiap cabang ilmu. Dalam mempelajari biologi, Wira terbiasa mencatat materi baru dan mengulanginya agar lebih mudah dipahami.

 

Untuk fisika, ia memperkuat penguasaan konsep dasar, perhitungan, rumus, dan simbol. Sementara itu, materi kimia dipelajarinya melalui eksperimen langsung maupun pemanfaatan aplikasi daring.

 

Wira juga aktif mencari referensi dari sumber resmi di internet, membaca ensiklopedia sains, serta mengoleksi buku-buku IPA untuk memperluas wawasan.

 

Baginya, persiapan olimpiade bukan hanya tentang menghafal materi, melainkan juga memahami konsep dan melatih kemampuan berpikir kritis.

 

Tantangan itu terasa saat mengikuti KSNR tingkat nasional. Peserta harus menyelesaikan 32 soal dalam waktu 90 menit. Kompetisi tersebut menguji kemampuan berpikir tingkat tinggi dan menalar berbagai fenomena.

 

Tantangan berbeda dihadapi Wira ketika mengikuti OMI tingkat Provinsi Jawa Tengah. Penggunaan bahasa Arab dalam soal menuntutnya mempelajari kosakata baru agar dapat memahami pertanyaan secara tepat.

 

Berbagai pengalaman itu memperkaya kemampuan Wira dalam menghadapi persoalan dengan karakteristik yang berbeda-beda.

 

Bidik JSTO, IKSC, dan Olimpiade Sains Nasional

 

Tak ingin berhenti pada tiga prestasi yang telah diraih, Wira mulai menyiapkan target berikutnya. Ia berencana mengikuti Junior Science Technology Olympiad (JSTO), International Kangaroo Science Competition (IKSC), dan Olimpiade Sains Nasional (OSN).

 

Keikutsertaan dalam berbagai kompetisi tersebut diharapkan dapat meningkatkan kemampuannya sekaligus memperluas pengalaman berkompetisi di bidang sains.

 

Di tengah kesibukan belajar dan persiapan lomba, Wira tetap berusaha menyeimbangkan kehidupan akademik dengan keluarga dan ibadah. Ia bercita-cita menjadi dokter dan berharap pencapaiannya dapat membahagiakan kedua orang tuanya.

 

Ayah Wira, Sugiyoto, berpesan agar putranya mampu menyikapi setiap hasil perlombaan secara bijak. Baginya, kemenangan bukan alasan untuk berpuas diri, sedangkan kekalahan tidak boleh menjadi penghalang untuk terus berkembang.

 

“Kalah menang dihadapi dan harus melihat ke depan dengan optimistis. Tingkatkan ibadah kepada Allah,” pesan Sugiyoto.

 

Sekolah Apresiasi Prestasi Wira

 

Kepala SMP Muhammadiyah PK Kottabarat Surakarta, Muhdiyatmoko, M.Pd., mengapresiasi pencapaian yang diraih Wira. Ia berharap siswanya dapat terus menjaga konsistensi belajar dan meningkatkan prestasi pada kompetisi berikutnya.

 

Menurutnya, keberhasilan Wira diharapkan menjadi inspirasi bagi siswa lain untuk mengembangkan potensi, tekun belajar, dan berani mengikuti berbagai kompetisi.

 

Prestasi Wira menunjukkan bahwa keberhasilan akademik tidak hadir secara instan. Konsistensi belajar, keberanian menghadapi kegagalan, dukungan keluarga, serta pendampingan guru menjadi bagian penting dalam proses meraih prestasi.

 

Dengan semangat tersebut, Wira berpeluang terus mengembangkan kemampuannya di bidang sains, sekaligus membuktikan bahwa kegagalan pada awal perjalanan dapat menjadi pijakan untuk meraih keberhasilan yang lebih besar. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!