166 BEM PTMA Se-Indonesia Satukan Gagasan di UMS

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Sebanyak 166 Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) dari seluruh Indonesia berkumpul di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id dalam Silaturahmi Nasional (Silatnas) BEM PTMA Indonesia, 29–31 Oktober 2026. Forum nasional ini menjadi momentum konsolidasi mahasiswa untuk menyatukan gagasan, memperkuat gerakan intelektual, sekaligus merumuskan kontribusi nyata bagi persyarikatan dan bangsa.

 

Mengusung tema “Merawat Persyarikatan, Menjaga Indonesia: Kontribusi BEM PTMA untuk Indonesia Raya”, Silatnas tersebut tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi antarmahasiswa, tetapi juga ruang bertukar pemikiran dan membangun kolaborasi dalam menjawab berbagai persoalan kebangsaan.

 

Koordinator Presidium BEM PTMA Indonesia, Yogi Syahputra Alaydrus, menyebut Silatnas sebagai momentum penting untuk mempertemukan gagasan mahasiswa dari berbagai daerah sekaligus memperkuat kebersamaan dalam Persyarikatan Muhammadiyah.

 

“Silatnas ini adalah perayaan gagasan. Gagasan mahasiswa Muhammadiyah di setiap sudut Kota Solo dan UMS diharapkan membawa perubahan besar untuk bangsa dan persyarikatan,” ujarnya, Kamis (29/10/2026), di Gedung Ahmad Syafii Maarif FEB UMS.

 

Yogi berharap forum nasional tersebut mampu memperkuat BEM PTMA Indonesia sebagai aliansi mahasiswa yang solid, tidak hanya dalam memperjuangkan kepentingan mahasiswa, tetapi juga mengembangkan gagasan intelektual yang berdampak bagi masyarakat.

 

Sementara itu, Wakil Rektor I UMS sekaligus Ketua Forum Silaturahmi Pimpinan Kemahasiswaan PTMA (FOSMA PTMA), Prof. Ihwan Susila, S.E., M.Si., Ph.D., menegaskan bahwa BEM PTMA memiliki lima peran strategis.

 

Kelima peran tersebut meliputi kekuatan intelektual dan moral, penggerak konsolidasi mahasiswa, agen perubahan dan kontrol sosial, jembatan aspirasi mahasiswa, serta penggerak kolaborasi dan pengabdian kepada masyarakat.

 

Menurut Ihwan, mahasiswa harus mampu menghadirkan gagasan progresif yang berlandaskan nilai keislaman, kemuhammadiyahan, dan kebangsaan. Gagasan tersebut juga perlu diwujudkan dalam karya nyata melalui penelitian, inovasi, dan pengabdian masyarakat.

 

Ia mencontohkan program Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (PPO) di UMS serta hibah Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) sebagai ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan kapasitas sekaligus menghasilkan solusi atas persoalan masyarakat.

 

“Mahasiswa dengan gerakan konsolidasi dan kolaborasinya diharapkan mampu memberikan kontribusi melalui kerja-kerja intelektual, pemberdayaan umat, dan pembaruan cara berpikir,” ungkapnya.

 

Mahasiswa Diminta Peka terhadap Persoalan Ekonomi

 

Persoalan ekonomi dan keterbatasan lapangan kerja menjadi perhatian Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Bambang Setiaji, M.Si. Dalam sambutannya, ia mengingatkan mahasiswa agar memahami persoalan struktural bangsa sebelum menentukan isu yang akan diperjuangkan melalui gerakan mahasiswa.

 

Menurut Bambang, salah satu tantangan mendasar Indonesia adalah menyediakan lapangan pekerjaan yang layak, terutama bagi lulusan perguruan tinggi. Karena itu, mahasiswa perlu ikut memikirkan solusi untuk memperkuat sektor usaha dan memperluas kesempatan kerja.

 

“Problem utama kita adalah lahirnya pengusaha-pengusaha yang usahanya bagus sehingga bisa memberikan tempat bekerja kepada rakyat Indonesia dan pemuda-pemuda yang menjadikan mereka bermartabat,” tuturnya.

 

Bambang juga menyoroti kondisi pekerja sektor informal, termasuk pengemudi ojek online, yang menjadi salah satu pilihan masyarakat ketika kesempatan kerja formal belum tersedia secara memadai.

 

Ia mendorong mahasiswa untuk ikut memikirkan reformasi ekonomi yang mampu memperluas kesempatan usaha, mendorong pemerataan penguasaan aset ekonomi, serta menciptakan pekerjaan yang lebih layak dan bermartabat.

 

Wali Kota Surakarta Dorong Mahasiswa Kritis dan Inovatif

 

Persoalan lingkungan turut menjadi perhatian dalam Silatnas BEM PTMA. Wali Kota Surakarta, Respati Ahmad Ardianto, S.H., M.Kn., mengajak mahasiswa mengambil peran dalam mengatasi persoalan sampah, pencemaran sungai, hingga sisa makanan.

 

Ia mendorong mahasiswa mengembangkan penelitian dan inovasi pengelolaan sampah yang tidak hanya menyelesaikan persoalan lingkungan, tetapi juga memiliki nilai ekonomi dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

 

Selain inovasi, Respati menekankan pentingnya peran mahasiswa sebagai kekuatan kontrol sosial. Menurutnya, kritik terhadap pemerintah merupakan bagian penting dari proses perbaikan kebijakan, selama disampaikan secara substantif dan didasarkan pada kajian yang kuat.

 

“Perlu kritik yang substantif, kritik-kritik yang mendasar. Itu diperlukan oleh pemerintah kota maupun pemerintah manapun,” ungkapnya.

 

Ia juga mengingatkan bahwa kebijakan publik tidak semestinya hanya berorientasi pada kepentingan jangka pendek. Setiap kebijakan harus mempertimbangkan keberlanjutan dan manfaatnya bagi generasi mendatang.

 

Melalui Silatnas yang diikuti 166 BEM PTMA tersebut, mahasiswa Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah diharapkan mampu memperkuat konsolidasi gerakan sekaligus mengambil peran lebih besar dalam menjawab persoalan bangsa. Forum ini menjadi ruang untuk memastikan bahwa gagasan mahasiswa tidak berhenti pada diskusi, tetapi berlanjut menjadi gerakan intelektual, inovasi, dan pengabdian yang berdampak nyata bagi Indonesia. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!