SOLO, MENARA62.COM – Persaingan marketplace di kawasan ASEAN semakin kompetitif. Keunggulan platform perdagangan digital kini tidak cukup hanya mengandalkan harga murah dan keragaman produk. Kepercayaan konsumen, kecepatan pengiriman, keamanan transaksi, hingga integrasi layanan pembayaran menjadi faktor penting dalam memenangkan persaingan pasar regional.
Strategi membangun daya saing tersebut menjadi salah satu materi yang disampaikan Prof. Kussudyarsana, Ph.D., dosen Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id, dalam Visiting Scholar Program di Shinawatra University, Thailand.
Dalam forum akademik yang berlangsung Selasa (27/10/2026) itu, Kussudyarsana menyampaikan materi bertajuk Industrial Competitiveness and Innovation Management. Kegiatan tersebut diikuti mahasiswa dan akademisi Shinawatra University.
Ia mengulas strategi perusahaan dalam membangun keunggulan kompetitif di pasar ASEAN, faktor yang mendorong dominasi platform marketplace di tingkat regional, serta perspektif teoretis untuk memahami dinamika persaingan industri digital.
Dalam paparannya, Kussudyarsana mengidentifikasi lima aspek utama yang menentukan daya saing marketplace. Kelimanya meliputi keragaman produk (wide product variety), kecepatan dan keandalan pengiriman (delivery speed and reliability), integrasi pembayaran dan pembiayaan (integrated payment and financing strategy), persepsi keamanan (perceived security), serta kemudahan penggunaan (perceived ease of use).
“Kelima aspek tersebut saling berkaitan dalam membangun pengalaman dan kepercayaan konsumen. Keragaman produk memungkinkan konsumen memenuhi berbagai kebutuhan melalui satu platform. Sementara itu, kecepatan pengiriman, kemudahan transaksi, keamanan, dan kenyamanan penggunaan menjadi faktor yang mendorong konsumen untuk terus menggunakan layanan marketplace,” ujarnya, Selasa (3/11/2026).
Efek Jejaring Perkuat Dominasi Marketplace
Selain lima aspek tersebut, Kussudyarsana menjelaskan konsep network effects atau efek jejaring sebagai faktor penting yang memperkuat posisi marketplace dalam persaingan.
Menurutnya, semakin banyak konsumen yang menggunakan suatu platform, semakin besar daya tarik platform tersebut bagi penjual. Sebaliknya, bertambahnya jumlah penjual dan pilihan produk akan mendorong lebih banyak konsumen untuk bergabung.
Interaksi dua arah tersebut menciptakan ekosistem bisnis yang saling menguntungkan sekaligus memperkuat posisi marketplace dalam persaingan pasar regional.
Pembahasan juga diarahkan pada dampak pertumbuhan marketplace terhadap perekonomian domestik dan kawasan ASEAN. Salah satu isu yang mendapat perhatian ialah peluang peningkatan kinerja keuangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui keterlibatan dalam ekosistem perdagangan digital.
Di sisi lain, perkembangan marketplace juga membawa perubahan terhadap struktur ketenagakerjaan di Indonesia. Karena itu, pertumbuhan ekonomi digital perlu diimbangi dengan upaya memastikan manfaatnya dapat dirasakan secara lebih merata oleh berbagai kelompok masyarakat.
Marketplace, menurut perspektif yang disampaikan dalam forum tersebut, tidak semata-mata menjadi instrumen perluasan pasar. Platform digital juga merupakan bagian dari transformasi ekonomi yang memengaruhi pelaku usaha, tenaga kerja, dan pola perdagangan masyarakat.
UMKM Perlu Perkuat Inovasi dan Merek Lokal
Pada aspek kebijakan, Kussudyarsana menyoroti pentingnya penguatan persaingan usaha yang adil, transparansi praktik marketplace, serta peningkatan kapasitas produksi dan keterampilan digital UMKM.
Dukungan terhadap perdagangan lintas batas ASEAN dan ekspor produk UMKM juga dinilai penting untuk memperluas akses pelaku usaha lokal ke pasar regional.
Selain itu, perlindungan konsumen, keamanan data pribadi, dan perlindungan pengguna layanan keuangan digital perlu menjadi perhatian dalam membangun ekosistem perdagangan digital yang berkelanjutan.
Pada tingkat perusahaan, ia mendorong pelaku usaha membangun keunggulan kompetitif melalui peningkatan kualitas, inovasi, dan diferensiasi produk.
“Penguatan merek lokal serta hubungan jangka panjang dengan pelanggan juga menjadi strategi penting agar UMKM mampu bersaing dan memperluas jangkauan pasar di kawasan ASEAN,” tambahnya.
Kussudyarsana sendiri mengajar pada Program Studi S1 Manajemen, Magister Manajemen, dan Doktor Manajemen UMS. Keterlibatannya dalam forum internasional tersebut menjadi bagian dari kontribusi akademisi UMS dalam memperluas kajian mengenai daya saing industri, manajemen inovasi, dan perkembangan ekonomi digital.
Visiting Scholar Program tersebut diselenggarakan melalui kerja sama SICS-Shinawatra University dengan APPSMM Indonesia. UMS menjadi bagian dari jejaring APPSMM Indonesia yang turut mendukung pertukaran pengetahuan dan penguatan hubungan akademik antarperguruan tinggi.
Partisipasi tersebut sekaligus membuka ruang pertukaran gagasan dan peluang kolaborasi akademik antarperguruan tinggi di kawasan ASEAN, khususnya dalam merespons tantangan persaingan industri dan transformasi ekonomi digital. (*)

