Jejak Ilmu 2026, Santri Darul Arqom Belajar Sains dan Sejarah Muhammadiyah

Baca Juga:

PURWOREJO, MENARA62.COM – Meneladani perjuangan KH Ahmad Dahlan sekaligus mengenal perkembangan sains dan teknologi menjadi pengalaman belajar yang diperoleh santri Pondok Pesantren Darul Arqom Muhammadiyah Bayan, Purworejo. Melalui program Jejak Ilmu 2026, para santri diajak menelusuri sejarah kelahiran Muhammadiyah di Kampung Kauman dan mengeksplorasi sains di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, Rabu (4/11/2026).

 

Kegiatan bertema “Meneladani Perjuangan KH Ahmad Dahlan, Mengeksplorasi Sains Teknologi, Membangun Generasi Berkemajuan” tersebut melibatkan siswa kelas VII, VIII, dan IX SMP Muhammadiyah Jono Bayan. Program ini dirancang sebagai pembelajaran luar kelas (outing class) untuk mempertemukan pengetahuan keislaman, sejarah perjuangan Muhammadiyah, dan ilmu pengetahuan modern dalam pengalaman belajar secara langsung.

 

Rangkaian kegiatan dipusatkan di Laboratorium Program Studi Pendidikan Fisika, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UAD Kampus 4 serta kawasan bersejarah Kampung Kauman, Yogyakarta. Para santri didampingi ustaz, ustazah, dan guru selama mengikuti seluruh agenda.

 

Direktur Pondok Pesantren Darul Arqom Muhammadiyah Bayan, Dr. (CAND) Muhammad Nurrosyid Huda Setiawan, S.Th.I., MIRKH, mengatakan Jejak Ilmu merupakan bagian dari upaya pesantren memperluas wawasan dan pengalaman belajar santri.

 

“Besar harapan kami, melalui program Studi Kemuhammadiyahan dan Praktikum Sains ini, para santri dapat membuka wawasan, khususnya dalam meneladani jejak langkah perjuangan pendiri Muhammadiyah sekaligus memiliki angan yang tinggi untuk masa depan mereka, terutama dalam dunia sains,” ungkapnya.

 

Menurutnya, pendidikan pesantren harus mampu melahirkan generasi yang tidak hanya kuat dalam pemahaman agama, tetapi juga memiliki kapasitas intelektual dan kesiapan menghadapi tantangan masa depan.

 

Semangat tersebut sejalan dengan cita-cita pendidikan Muhammadiyah untuk melahirkan ulama yang intelek dan intelek yang ulama. Ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum bukan dua bidang yang harus dipertentangkan, melainkan saling melengkapi.

 

Santri Praktik Fisika Langsung di Laboratorium UAD

 

Pengalaman pertama yang diperoleh para santri adalah mengeksplorasi dunia sains di Laboratorium Pendidikan Fisika FKIP UAD, tepatnya di lantai 5 Gedung Kampus 4 UAD.

 

Di laboratorium tersebut, santri diperkenalkan dengan berbagai perangkat praktikum dan alat peraga fisika. Mereka mendapatkan penjelasan langsung dari Ketua Program Studi Pendidikan Fisika, kepala laboran, serta mahasiswa asisten laboratorium mengenai fungsi dan prinsip kerja peralatan.

 

Tidak sekadar menyaksikan demonstrasi, para peserta juga dilibatkan dalam aktivitas interaktif melalui program fun physics atau permainan ilmiah.

 

Berbagai fenomena fisika diperkenalkan melalui praktik dan pengamatan, mulai dari cahaya, optik, gelombang, listrik dinamis, gerak, hingga gaya. Pendekatan tersebut membantu santri memahami konsep yang sebelumnya dipelajari secara teoretis di kelas melalui pengalaman yang lebih konkret dan menyenangkan.

 

Aktivitas ini sekaligus melatih rasa ingin tahu, keterampilan observasi, kemampuan mengidentifikasi masalah, serta berpikir kritis dalam memahami fenomena di sekitar.

 

Ketua Program Studi Pendidikan Fisika UAD, Eko Nursulistiyo, M.Pd., menyambut baik kunjungan edukatif tersebut. Ia berharap pengalaman praktik di laboratorium dapat meningkatkan ketertarikan peserta didik terhadap ilmu fisika.

 

“Saya berharap program Jejak Ilmu PPDA 2026 yang dilaksanakan di Laboratorium Pendidikan Fisika UAD itu membuat siswa-siswi makin senang belajar fisika. Tadi masih ingin belajar dan masih ingin mencoba alat-alat yang lainnya lagi,” tuturnya.

 

Eko menilai pembelajaran berbasis praktik perlu terus dikembangkan agar peserta didik memiliki kesempatan lebih luas mengenal sains. Ia juga menekankan bahwa ilmu agama dan ilmu pengetahuan tidak seharusnya dipisahkan.

 

“Tidak hanya agamanya yang bagus, tetapi juga dari sisi keilmuannya bagus. Ilmu dan agama ini sebenarnya tidak terpisahkan, keduanya saling bersinergi,” jelasnya.

 

Ia berharap kegiatan serupa dapat kembali dilaksanakan dengan mengeksplorasi lebih banyak fasilitas dan aktivitas pembelajaran di Program Studi Pendidikan Fisika UAD.

 

Kolaborasi antara pesantren dan perguruan tinggi tersebut diharapkan tidak berhenti pada kunjungan laboratorium, tetapi berkembang menjadi kerja sama pendidikan berkelanjutan.

 

Menelusuri Sejarah Kelahiran Muhammadiyah di Kauman

 

Setelah mengeksplorasi sains di UAD, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Kampung Kauman, Yogyakarta. Kawasan ini memiliki arti penting dalam sejarah perkembangan Islam dan pendidikan di Indonesia karena menjadi tempat KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah pada 18 November 1912.

 

Bagi para santri, kunjungan tersebut bukan sekadar wisata sejarah. Mereka diajak memahami secara langsung akar perjuangan persyarikatan sekaligus mengenal nilai-nilai pembaruan yang diwariskan pendirinya.

 

Dengan menyusuri kawasan Kauman, peserta mempelajari dinamika dakwah Muhammadiyah pada masa awal, termasuk perjuangan KH Ahmad Dahlan dalam membangun pendidikan Islam yang memadukan ilmu agama dan pengetahuan umum.

 

Gagasan pembaruan atau tajdid yang dikembangkan KH Ahmad Dahlan menjadi salah satu fondasi penting gerakan Muhammadiyah. Melalui pendidikan, pelayanan sosial, dan pemberdayaan masyarakat, Muhammadiyah berupaya menghadirkan Islam sebagai kekuatan yang mendorong perubahan kehidupan.

 

Dalam perjalanan sejarahnya, Kauman juga menjadi salah satu kawasan penting yang melahirkan tokoh-tokoh Muhammadiyah, seperti KH Ibrahim, Ki Bagus Hadikusumo, KH Ahmad Badawi, KH M. Yunus Anis, dan KH Ahmad Azhar Basyir.

 

Kontribusi perempuan juga mewarnai perkembangan persyarikatan melalui tokoh-tokoh ’Aisyiyah, di antaranya Siti Bariyah, Siti Munjiyah, Siti Hayinah, Siti Badilah, Siti Aisyah Hilal, Prof. Siti Baroroh Baried, dan Prof. Siti Chamamah Soeratno.

 

Sejarah tersebut memberikan gambaran bahwa perkembangan Muhammadiyah merupakan hasil perjuangan panjang lintas generasi. Nilai-nilai pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat yang dirintis para pendahulu terus diwariskan hingga saat ini.

 

Melalui kunjungan tersebut, santri diharapkan memahami bahwa keberadaan lembaga pendidikan Muhammadiyah yang mereka nikmati sekarang merupakan hasil perjuangan dan pengorbanan generasi sebelumnya.

 

Perkuat Kaderisasi Generasi Muda Muhammadiyah

 

Kepala SMP Muhammadiyah Jono Bayan Purworejo, Erlinda Windiastranti, M.Pd., menjelaskan bahwa Jejak Ilmu 2026 dirancang untuk mengintegrasikan pembelajaran sains, teknologi, dan Kemuhammadiyahan.

 

Menurutnya, terdapat tiga tujuan utama yang ingin dicapai. Pertama, menumbuhkan minat peserta didik terhadap sains dan teknologi melalui praktik langsung di laboratorium. Kedua, mengenalkan sejarah perjuangan KH Ahmad Dahlan melalui kunjungan ke situs-situs bersejarah Muhammadiyah. Ketiga, membangun kader generasi unggul yang memiliki loyalitas terhadap persyarikatan.

 

“Kegiatan outing class ini berkaitan dengan tema sains dan pendidikan Kemuhammadiyahan. Anak-anak akan mengunjungi Laboratorium Fisika UAD, menelusuri jejak sejarah KH Ahmad Dahlan, serta mendapatkan pengalaman edukatif melalui kegiatan kunjungan lainnya,” jelasnya.

 

Untuk memastikan kegiatan berjalan sebagai proses pembelajaran, panitia telah menyiapkan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) sebelum keberangkatan.

 

Melalui LKPD tersebut, peserta didik diarahkan melakukan observasi, mencatat informasi penting, mengidentifikasi pengetahuan baru, serta menyusun laporan berdasarkan pengalaman selama kegiatan.

 

Erlinda berharap pengalaman tersebut mampu membentuk peserta didik yang memiliki semangat belajar tinggi, mencintai ilmu pengetahuan, serta berkomitmen terhadap nilai-nilai Kemuhammadiyahan.

 

Jejak Ilmu 2026 Jadi Tradisi Pembelajaran Berkelanjutan

 

Ketua Panitia Jejak Ilmu 2026, Akhmad Maulidin Musdani, mengungkapkan bahwa kegiatan Studi Kemuhammadiyahan di Kauman merupakan pelaksanaan kedua setelah sebelumnya diselenggarakan pada 2024.

 

Jika pada pelaksanaan pertama kegiatan dipadukan dengan studi budaya melalui eksplorasi Museum Sonobudoyo, tahun ini konsepnya dikembangkan dengan menghadirkan eksplorasi sains bersama Program Studi Pendidikan Fisika FKIP UAD.

 

“Program Studi Kemuhammadiyahan di Kauman Yogyakarta ini telah dilaksanakan untuk kedua kalinya. Jika pada 2024 kegiatan disandingkan dengan studi budaya melalui eksplorasi Museum Sonobudoyo, tahun ini kami mengembangkan kegiatan dengan belajar sains bersama Program Studi Pendidikan Fisika UAD Yogyakarta,” ungkapnya.

 

Setelah menyelesaikan agenda edukatif di laboratorium dan kawasan bersejarah Kauman, rombongan melanjutkan perjalanan menuju IBARBO Park di kawasan Jalan Magelang–Yogyakarta.

 

Di tempat tersebut, para santri menikmati berbagai wahana rekreasi, mengenal beragam jenis satwa di kawasan aviari, serta mempererat kebersamaan bersama teman dan guru pendamping.

 

Agenda rekreatif tersebut menjadi penutup kegiatan sekaligus memberikan kesempatan kepada peserta untuk menyegarkan pikiran setelah mengikuti rangkaian pembelajaran sepanjang hari.

 

Jejak Ilmu 2026 pada akhirnya bukan sekadar perjalanan dari Purworejo menuju Yogyakarta. Kegiatan ini menjadi perjalanan intelektual dan spiritual yang mempertemukan keteladanan masa lalu dengan tantangan masa depan.

 

Dari Kauman, para santri belajar tentang perjuangan KH Ahmad Dahlan dan semangat pembaruan pendidikan Islam. Dari laboratorium UAD, mereka memperoleh pengalaman bahwa sains dapat dipahami melalui rasa ingin tahu, keberanian mencoba, dan kesungguhan melakukan pengamatan.

 

Melalui perpaduan pengalaman tersebut, Pondok Pesantren Darul Arqom Muhammadiyah Bayan dan SMP Muhammadiyah Jono berupaya menyiapkan generasi yang tidak hanya memiliki fondasi keislaman kuat, tetapi juga unggul dalam ilmu pengetahuan, teknologi, dan karakter.

 

Meneladani perjuangan para pendahulu, pada akhirnya, bukan sekadar mengenang sejarah. Lebih dari itu, perjuangan harus dilanjutkan melalui karya, prestasi, penguasaan ilmu pengetahuan, serta pengabdian nyata bagi umat dan bangsa. (AMM)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!