MPKS dan Lazismu Sumut Perkuat Filantropi untuk Entaskan Kemiskinan

Baca Juga:

MEDAN, MENARA62.COM – Muhammadiyah terus memperkuat peran filantropi Islam sebagai instrumen pemberdayaan ekonomi dan pengentasan kemiskinan. Upaya tersebut dilakukan melalui sinergi Majelis Pelayanan Kesejahteraan Sosial (MPKS) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sumatera Utara bersama Lazismu Sumatera Utara.

 

Sinergi itu diwujudkan melalui diskusi dan konsolidasi bertajuk Ngobrol Filantropi dan Silaturahmi (Ngopi Silat) di Gedung PWM Sumatera Utara, Kota Medan, Rabu (4/11/2026). Kegiatan ini menjadi ruang penguatan gagasan untuk membangun ekosistem kedermawanan Islam yang lebih produktif dan berkelanjutan.

 

Hadir sebagai narasumber, Wakil Ketua MPKS Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah sekaligus Associate Professor FEB UHAMKA, Faozan Amar. Ia juga dikenal sebagai Direktur Eksekutif Lazismu Pusat pertama.

 

Kegiatan tersebut dihadiri Ketua dan Sekretaris MPKS PWM Sumut, Mohd. Yusri Isfa dan Robie Fanreza, serta Ketua dan Sekretaris Lazismu PWM Sumut, Putrama Al-Khair dan Muhammad Irsyad, bersama jajaran pengurus kedua lembaga.

 

Dalam pemaparannya, Faozan Amar menekankan perlunya perubahan orientasi gerakan filantropi Islam. Menurutnya, pengelolaan zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ZISWAF) tidak boleh hanya berorientasi pada pemberian bantuan konsumtif atau penanganan persoalan sosial dalam jangka pendek.

 

Sebaliknya, potensi dana umat harus diarahkan pada program pemberdayaan ekonomi yang produktif, terukur, dan berkesinambungan. Dengan demikian, filantropi tidak sekadar menjadi instrumen bantuan, tetapi juga mampu memutus mata rantai kemiskinan.

 

“Filantropi Islam melalui instrumen ZISWAF tidak boleh berhenti hanya pada aksi tanggap darurat. Berdasarkan Teologi Al-Ma’un yang diwariskan KH Ahmad Dahlan, lembaga pelayanan sosial Muhammadiyah harus hadir menghimpun dan mendayagunakan dana umat sebagai solusi atas persoalan keumatan, seperti kemiskinan dan kebodohan,” ujar Faozan.

 

Ia menjelaskan, terdapat tiga faktor utama yang mendorong pesatnya perkembangan gerakan filantropi di Indonesia.

 

Pertama, ajaran agama dan tingginya kesadaran beragama masyarakat untuk membantu sesama. Kedua, budaya gotong royong yang telah mengakar kuat dalam kehidupan bangsa Indonesia. Ketiga, perkembangan teknologi digital yang semakin memudahkan masyarakat menyalurkan donasi kapan saja dan dari mana saja.

 

Menurut Faozan, potensi tersebut perlu dioptimalkan melalui tata kelola lembaga filantropi yang profesional serta kolaborasi antarlembaga yang semakin kuat.

 

Ia menilai, penguatan daya beli dan kesejahteraan masyarakat rentan membutuhkan sinergi antara lembaga penghimpun dana kedermawanan dan pelaksana program sosial di lapangan.

 

Dalam konteks Muhammadiyah, Lazismu memiliki peran strategis dalam menghimpun dana umat, sedangkan MPKS menguatkan jaringan pelayanan sosial dan pemberdayaan masyarakat.

 

Keduanya harus menjadi dwitunggal yang solid agar dana ZISWAF dapat dikelola secara optimal dan menghasilkan dampak nyata. Salah satu tujuan pentingnya adalah mentransformasi mustahik (penerima zakat) menjadi muzakki (pemberi zakat).

 

Bangun Gerakan Filantropi yang Berdampak

 

Sementara itu, jajaran MPKS PWM Sumut dan Lazismu Sumut menyambut positif konsolidasi gagasan tersebut. Forum ini dinilai menjadi kesempatan penting untuk memperkuat pemahaman sekaligus merumuskan strategi pengembangan filantropi Islam di Sumatera Utara.

 

“Kita manfaatkan kehadiran Bang Faozan di Medan untuk memberikan pencerahan tentang strategi filantropi yang efektif,” kata Robie Fanreza yang memandu jalannya diskusi.

 

Melalui kegiatan Ngopi Silat, MPKS dan Lazismu Sumut berharap terbangun sinergi yang semakin kuat dalam mengembangkan gerakan filantropi dan pelayanan sosial Muhammadiyah.

 

Ke depan, kolaborasi tersebut diharapkan mampu menghadirkan pengelolaan dana kedermawanan yang lebih terstruktur, transparan, dan akuntabel, sekaligus memperluas jangkauan program pemberdayaan masyarakat.

 

Dengan mengoptimalkan potensi ZISWAF dan memperkuat implementasi Teologi Al-Ma’un, gerakan filantropi Muhammadiyah di Sumatera Utara diharapkan tidak hanya meringankan beban masyarakat miskin, tetapi juga mendorong mereka menuju kemandirian dan kesejahteraan. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!