Buya Amirsyah Ajak Santri MBS Jampang Perkuat Karakter dan Kepedulian Sosial

Baca Juga:

BOGOR, MENARA62.COM – Ketua Majelis Pendayagunaan Wakaf (MPW) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Buya Dr. Amirsyah Tambunan, memotivasi para santri dan orang tua siswa Muhammadiyah Boarding School (MBS) Ki Bagus Hadikusumo Jampang, Bogor, agar memperkuat pendidikan karakter, nilai keagamaan, serta semangat meraih cita-cita.

Pesan tersebut disampaikan Buya Amirsyah saat memberikan tausiyah di Kompleks Muhammadiyah Jampang, Bogor, Jumat (7/11/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari syiar Milad ke-114 Muhammadiyah sekaligus menyambut pelaksanaan Tanwir Muhammadiyah di Palu pada 13–15 November 2026.

Dalam tausiyahnya, Buya Amirsyah mengatakan pendidikan karakter anak tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi juga keluarga. Menurutnya, keluarga merupakan laboratorium pertama pembentukan karakter, sedangkan sekolah menjadi tempat penguatan dan aktualisasi nilai-nilai adab.

“Sinergi antara keluarga dan sekolah harus berjalan dua arah. Anak-anak harus mendapatkan keteladanan di rumah sekaligus penguatan nilai-nilai keislaman dan adab di lingkungan sekolah,” ujar Buya Amirsyah.

Dia menjelaskan, terdapat sejumlah karakter utama yang perlu ditanamkan kepada para santri. Pertama, religiusitas melalui pembiasaan salat berjemaah, doa bersama, ibadah rutin, serta menumbuhkan kecintaan dan ketaatan kepada Allah SWT.

Kedua, kejujuran dan amanah. Buya Amirsyah mencontohkan keteladanan Rasulullah SAW yang dikenal sebagai pribadi terpercaya atau Al-Amin. Nilai kepercayaan juga tercermin dalam kehidupan Khadijah binti Khuwailid, istri pertama Rasulullah SAW, seorang saudagar sukses yang dikenal memiliki integritas, kehormatan, dan kedermawanan.

“Kejujuran dan amanah merupakan modal penting dalam kehidupan. Keberhasilan seseorang tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan, tetapi juga kepercayaan yang dibangun melalui integritas,” jelasnya.

Orang Tua Harus Jadi Teladan

Buya Amirsyah juga mengingatkan pentingnya peran orang tua dalam membentuk karakter anak, terutama di tengah perkembangan teknologi digital.

Dia meminta orang tua memberikan perhatian terhadap penggunaan telepon genggam atau handphone (HP) agar anak tidak mengalami ketergantungan.

Menurutnya, orang tua harus menjadi contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari bersikap jujur, santun, hingga tenang ketika menghadapi persoalan.

“Orang tua harus menjadi teladan. Bersikap tegas, tetapi tetap penuh kasih sayang. Anak juga perlu dibimbing untuk memahami perbedaan antara kebutuhan dan keinginan,” katanya.

Selain itu, orang tua perlu memberikan apresiasi ketika anak melakukan kebaikan serta mengingatkan dengan bijaksana apabila melakukan kesalahan. Dengan demikian, pendidikan karakter tidak hanya berlangsung melalui nasihat, tetapi juga melalui contoh nyata.

Terinspirasi Mandela hingga Jenderal Sudirman

Dalam kesempatan tersebut, Buya Amirsyah turut mengajak para santri membangun motivasi dan keberanian untuk bangkit serta memberikan kontribusi bagi masyarakat dan bangsa.

Dia mencontohkan sejumlah tokoh dunia dan nasional yang memiliki keteguhan prinsip serta mampu membawa perubahan besar.

Pertama, Nelson Mandela, tokoh perjuangan Afrika Selatan yang dikenal karena perannya melawan politik apartheid dan memperjuangkan kesetaraan serta kemanusiaan. Perjalanan hidup Mandela menunjukkan bahwa keteguhan dan keberanian dapat menjadi kekuatan untuk menghadapi ketidakadilan.

Kedua, Lee Kuan Yew, Perdana Menteri pertama Singapura yang memimpin negara tersebut pada 1959–1990. Dia dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam pembangunan Singapura modern hingga menjadi pusat ekonomi dan keuangan di kawasan Asia.

Ketiga, Jenderal Besar Sudirman, tokoh bangsa yang memiliki latar belakang pendidikan Muhammadiyah. Sudirman dikenal sebagai Panglima Besar yang memimpin perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari agresi Belanda.

Meski mengalami sakit paru-paru, Sudirman tetap memimpin perang gerilya. Keteguhan, kedisiplinan, dan pengabdiannya kepada bangsa menjadi teladan bagi generasi muda.

“Anak-anak MBS harus memiliki motivasi yang kuat, berani menghadapi tantangan, teguh pada prinsip dan keyakinan, serta selalu mengutamakan kepentingan masyarakat dan bangsa di atas kepentingan pribadi,” tegas Buya Amirsyah.

Dia berharap MBS Ki Bagus Hadikusumo Jampang dapat melahirkan generasi unggul yang tidak hanya memiliki kecerdasan intelektual dan spiritual, tetapi juga karakter kepemimpinan, integritas, serta semangat pengabdian seperti Jenderal Besar Sudirman.

MBS Ki Bagus Hadikusumo Jampang berdiri di atas tanah wakaf dari pewakif Marsekal Sugiri yang dikelola nazhir persyarikatan di bawah pengelolaan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DKI Jakarta.

Lembaga pendidikan ini resmi diluncurkan pada 5 Mei 2016 dan mulai menerima santri angkatan pertama pada 2017. Di bawah kepemimpinan Dewan Mudir Dr. Endang Mintarja, Dr. Nur Achmad, dan Drs. Ahsin Abdul Wahab, MBS diharapkan terus berkembang menjadi pusat pendidikan kader yang melahirkan generasi berilmu, berakhlak, mandiri, dan siap berkontribusi bagi umat serta bangsa.

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!