SURABAYA, MENARA62.COM – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, mengaku terkesan dengan banyaknya program yang diresmikan dalam kunjungannya ke Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Krembangan, Surabaya, Jumat (1/5/2026).
“Ini peresmian yang paling banyak yang saya alami,” ujar Abdul Mu’ti berseloroh saat menghadiri rangkaian kegiatan bersama Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi.
Kunjungan tersebut merupakan bagian dari agenda kerja Mendikdasmen di Jawa Timur. Setelah dari Kabupaten Bangkalan, Abdul Mu’ti tiba di kawasan Krembangan pada pukul 14.15 WIB, yang dikenal sebagai salah satu wilayah sukses dalam pemberdayaan eks lokalisasi Bangunsari dan Tambakasri.
Kegiatan diawali di TK ABA 4 Bangunsari dengan penampilan drum band serta demo memasak oleh anak-anak. Selanjutnya, rombongan meninjau 13 stand amal usaha bidang pendidikan, sosial, dan kemasjidan yang dipamerkan di sepanjang Jalan Dupak Bangunsari.
Dalam sambutannya di hadapan sekitar seribu undangan, Abdul Mu’ti menyampaikan apresiasi atas kemandirian PCM Krembangan dalam mengembangkan program pendidikan tanpa bergantung pada bantuan pemerintah.
Ia secara khusus menyoroti peresmian Muhlas Boarding Class (MBC) serta inovasi pendidikan yang digagas oleh Aisyiyah melalui program berbasis karakter seperti Entrepreneur Cilik, Skolastik-Tahfidz, Literasi, Smart-Berkarakter, dan Budaya Lokal.
“Saya sangat bangga, ini menunjukkan pendidikan bisa menjadi kekuatan utama dalam mengubah lingkungan,” tegasnya.
Senada, Eri Cahyadi menyebut PCM Krembangan sebagai salah satu cabang Muhammadiyah terbaik di Surabaya yang mampu menjadikan pendidikan sebagai motor perubahan sosial.
Puncak acara ditandai dengan peresmian Muhlas Boarding Class (MBC) dan 13 program unggulan yang mencakup bidang pendidikan, kesehatan, sosial, panti asuhan, hingga dakwah. Gedung MBC yang diresmikan memiliki empat lantai dengan nilai pembangunan mencapai Rp3,1 miliar.
Wakil Ketua PDM Surabaya, M. Arif An, menegaskan bahwa keberhasilan tersebut tidak lepas dari komitmen menghadirkan pendidikan inklusif bagi semua kalangan, tanpa memandang latar belakang ekonomi dan sosial.
“Pendidikan di sini menjadi penggerak perubahan, terutama di wilayah eks lokalisasi yang kini bertransformasi menjadi lingkungan yang lebih baik,” ujarnya.
Sejumlah program unggulan turut diluncurkan, mulai dari digitalisasi pendidikan di SMP Muhammadiyah 11, program Cambridge International di SD Muhammadiyah 11, hingga penguatan layanan kesehatan melalui digitalisasi rekam medis di Klinik Al-Azhar.
Di bidang sosial, pemberdayaan masyarakat eks lokalisasi terus diperkuat, sementara sektor dakwah dikembangkan melalui pengelolaan masjid ramah musafir dan literasi keislaman.
Kunjungan ini menegaskan peran strategis Muhammadiyah dalam menghadirkan pendidikan dan pemberdayaan masyarakat yang berdampak nyata, sekaligus menjadi model transformasi sosial berbasis komunitas di perkotaan. (*)

