25.2 C
Jakarta

Bisnis Bank Sampah Spektakuler

Must read

102 Wilayah di Indonesia Aman dari Wabah Covid-19, Warganya Boleh Beraktivitas Lagi

JAKARTA, MENARA62.COM - Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Wiku Adisasmito menjelaskan bahwa dalam menentukan suatu daerah dapat kembali melaksanakan...

Baru Juga Berencana New Normal, Kasus Positif Covid-19 Meroket Lagi

JAKARTA, MENARA62.COM - Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 mencatat penambahan kasus terkonfirmasi positif Covid-19 per hari ini Minggu (31/5) ada sebanyak 700...

Bukan Lockdown, Swedia Andalkan Herd Immunity untuk Melawan Covid-19

JAKARTA, MENARA62.COM -- Berbeda dengan kebanyakan negara yang menerapkan lockdown, Swedia menjadi satu-satunya negara yang mengandalkan herd immunity untuk menghadapi pandemi COVID-19. Negara ini membiarkan...

Biar Terhindar dari Covid-19, Menu 4 Sehat 5 Sempurna Ini Wajib Dipatuhi

JAKARTA, MENARA62.COM – Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 populerkan kembali slogan empat sehat lima sempurna. Slogan kecukupan gizi yang diinisiasi almarhm Prof...

BOGOR, MENARA62.COM — Bisnis daur ulang sampah melalui bank sampah dinilai cukup potensial. Hal tersebut diungkapkan Staf Ahli Menteri Koperasi dan UKM bidang Ekonomi Makro Hasan Djauhari. Ia juga mengatakan bahwa ada sekitar 4000 bank sampah yang sudah beroperasi dengan mengumpulkan sampah rumah tangga, untuk kemudian dipisahkan berdasarkan jenisnya dan didaur ulang menjadi produk craft atau pupuk siap jual. “Itu nilainya sekitar Rp18 miliar,” ungkap Hasan usai membuka kegiatan Focus Group Discussion (FGD) ‘Bank Sampah Sebagai Entity Bisnis Koperasi’ yang diselenggarakan oleh Kementerian Koperasi dan UKM, Selasa (24/4/2018) di Bogor.

Hasan mengatakan bahwa, potensi bisnis bank sampah tersebut dapat dikembangkan menjadi bisnis yang bernilai jual tinggi, mengingat banyaknya manfaat yang bisa didapatkan dari sampah yang telah diolah menjadi produk kerajinan ataupun pupuk. Namun, untuk mengembangkan bisnis bank sampah, menurutnya masih perlu dioptimalkan dan dibuat kelembagaan formal dalam bentuk koperasi yang mampu mewadahi bank sampah sebagai entitas bisnis untuk menambah pendapatan masyarakat.

“Jika selama ini bank sampah hanya mengelola sampah anorganik yang jumlahnya hanya sebesar 30% dari total sampah yang ada, untuk diolah menjadi berbagai bentuk kerajinan, cendera mata dan sebagainya. Maka setelah menjadi Koperasi Bank Sampah, terbuka peluang usaha yang lebih menarik dengan manajemen pengelolaan yang semakin baik,” jelasnya.

Selain itu Hasan menambahkan, “Mungkin kelompok-kelompok yang bergerak di bidang ini bisa diberi akses permodalan, mungkin istrinya bisa usaha lain, bisa dikasih pendidikan, dan sebagainya,” katanya.

Pembangunan bank sampah, menurutnya, juga dapat menjadi momentum untuk membina kesadaran kolektif masyarakat untuk memulai memilah, mendaur ulang, dan memanfaatkan sampah, karena sampah ternyata mempunyai nilai jual yang cukup baik. Maka bank sampah yang telah terintegrasi dalam wadah koperasi sudah seharusnya melembagakan dirinya sebagai badan usaha yang dikelola secara profesional layaknya lembaga bisnis berprinsip koperasi.

Sementara itu, Agus Saefudin Dirjen PSBL3 KLHK menjelaskan bahwa peluang bisnis bank sampah dilihat berdasarkan jumlah sampah. “Bergantung dari kuantitas sampah kita. Karena kita harus mempunyai perhitungan harga-harga sampah itu. Jadi kalau kita mendirikan bank sampah, nasabah itu komposisinya seperti apa. Misalnya organiknya 50%, non organiknya 50%. Yang akan diolah sampah non organik, seperti kertas, plastik, kaleng,” jelasnya. Namun, bukan berarti sampah organik tidak berpeluang bisnis, tambahnya, sampah organik juga bisa diolah menjadi pupuk.

Ketua Koperasi Warga Mandiri Delima, Prakoso dalam kesempatan yang sama juga menjelaskan bahwa anggota bank sampah belum tentu anggota koperasi bank sampah. Kecuali dana yang dikumpulkan sudah memenuhi persyaratan iuran anggota koperasi, maka anggota bank sampah dapat dinyatakan sebagai anggota koperasi bank sampah.

Saat mendirikan Koperasi Warga Mamdiri Delima, Prakoso mengungkapkan bahwa seringkali pihak kelurahan menegur kegiatan bank sampah, lantaran dicurigai menggunakan anggaran Pemerintah. Sementara modal awal yang digunakan untuk membangun bank sampah adalah berasal dari iuran anggota. “Tetapi kita bertahan, berhasil dan menjadi bank sampah terbaik di 6 kota,” ungkapnya. (Agus Y)

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

102 Wilayah di Indonesia Aman dari Wabah Covid-19, Warganya Boleh Beraktivitas Lagi

JAKARTA, MENARA62.COM - Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Wiku Adisasmito menjelaskan bahwa dalam menentukan suatu daerah dapat kembali melaksanakan...

Baru Juga Berencana New Normal, Kasus Positif Covid-19 Meroket Lagi

JAKARTA, MENARA62.COM - Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 mencatat penambahan kasus terkonfirmasi positif Covid-19 per hari ini Minggu (31/5) ada sebanyak 700...

Bukan Lockdown, Swedia Andalkan Herd Immunity untuk Melawan Covid-19

JAKARTA, MENARA62.COM -- Berbeda dengan kebanyakan negara yang menerapkan lockdown, Swedia menjadi satu-satunya negara yang mengandalkan herd immunity untuk menghadapi pandemi COVID-19. Negara ini membiarkan...

Biar Terhindar dari Covid-19, Menu 4 Sehat 5 Sempurna Ini Wajib Dipatuhi

JAKARTA, MENARA62.COM – Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 populerkan kembali slogan empat sehat lima sempurna. Slogan kecukupan gizi yang diinisiasi almarhm Prof...

Kemenparekraf Pastikan Protokol Normal Baru Jadi Acuan Pelaku Parekraf

JAKARTA, MENARA62.COM -- Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) memastikan protokol normal baru akan menjadi acuan bagi para...