FAKFAK, MENARA62.COM — Enam abad lebih perjalanan Islam di Tanah Papua bukan sekadar catatan sejarah. Di Fakfak, warisan tersebut terus dirawat melalui tradisi, pendidikan, perkaderan, dan dakwah yang berorientasi pada kemajuan serta kehidupan masyarakat yang harmonis.
Puncak peringatan 666 tahun masuknya Islam di Papua pada 8 Agustus 2026 menjadi momentum untuk mengenang jejak para pendahulu sekaligus memperkuat komitmen membangun masa depan dakwah di Bumi Cenderawasih.
Fakfak selama ini dikenal sebagai salah satu wilayah penting dalam sejarah masuknya Islam ke Papua. Seiring perjalanan waktu, Islam berkembang dan berinteraksi dengan budaya lokal, membentuk kehidupan sosial yang khas di tengah keberagaman masyarakat Papua.
Namun, sejarah masuknya Islam ke Papua memiliki beragam perspektif. Selain narasi sejarah yang berkembang di masyarakat, terdapat pula pandangan adat dan legenda rakyat yang meyakini bahwa Islam telah hadir di Papua sejak masa yang sangat awal.
Di tengah beragam versi tersebut, peringatan 666 tahun Islam di Papua dimaknai sebagai momentum untuk menelusuri warisan nilai yang ditinggalkan generasi terdahulu.
Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Papua Barat, Syamsul Inay, mengatakan angka 666 tahun tidak semestinya dipandang sekadar sebagai hitungan usia sejarah.
“666 tahun bukanlah sekadar angka, melainkan berapa banyak peradaban luhur yang diwariskan: tata cara hidup yang santun, ukhuwah yang mengikat suku dan bangsa, sistem perdagangan yang jujur, hingga tata kelola masyarakat yang berlandaskan keadilan,” tegas Syamsul Inay.
Islam Berkemajuan untuk Masa Depan Papua
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) sekaligus Ketua PWM Papua Barat, Mulyadi Djaya, mengajak masyarakat menjadikan momentum tersebut sebagai pijakan untuk membangun masa depan.
Menurut dia, peringatan sejarah tidak cukup berhenti pada kegiatan seremonial. Nilai yang diwariskan para pendahulu harus diterjemahkan dalam kehidupan masyarakat masa kini.
“Saya mengajak kita semua: jadikan momen ini bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan komitmen masa depan,” ujar Mulyadi Djaya.
Ia menekankan pentingnya menjaga persatuan dan toleransi sekaligus menghadirkan dakwah yang mencerahkan.
“Mari kita buktikan bahwa warisan leluhur adalah kekuatan kita membangun tanah air yang makmur dan beradab,” katanya.
Semangat tersebut sejalan dengan gagasan Islam berkemajuan yang mendorong masyarakat untuk membangun kehidupan melalui ilmu pengetahuan, pekerjaan yang mulia, keadilan, serta kepedulian sosial.
Muhammadiyah Perkuat Kader di Fakfak
Upaya merawat dakwah Islam di Fakfak juga dilakukan Muhammadiyah melalui penguatan sumber daya manusia.
Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Fakfak menggelar Baitul Arqam pada 24–26 Juli 2026. Kegiatan perkaderan tersebut menjadi bagian dari upaya mempererat persaudaraan sekaligus memperkuat gerakan dakwah Muhammadiyah di wilayah Fakfak.
Untuk memastikan proses perkaderan berjalan dengan baik, Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah menerjunkan tim instruktur.
Tim tersebut terdiri atas Dian Indriyani, Wakil Rektor II Universitas Muhammadiyah Papua Barat (UMPB), sebagai Master of Training (MoT), Irmawan Alfi Hikayat sebagai Imam of Training (IoT), serta M Irfan Islami sebagai Evaluator of Training (EoT).
Baitul Arqam tersebut menjadi istimewa karena merupakan kegiatan pertama yang diselenggarakan PDM Kabupaten Fakfak.
Selain penguatan kader, Muhammadiyah juga terus mengembangkan pendidikan sebagai bagian dari ikhtiar membangun masyarakat.
Kelola Tujuh Amal Usaha Pendidikan
Ketua PDM Kabupaten Fakfak Karim Abdul Rohman mengatakan Muhammadiyah saat ini telah mengelola tujuh Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) di bidang pendidikan dasar dan menengah.
“Hingga saat ini, PDM Kabupaten Fakfak telah mengelola tujuh Amal Usaha Muhammadiyah di tingkat pendidikan dasar dan menengah,” ujar Karim.
Tujuh AUM tersebut terdiri atas tiga unit TK ‘Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA), MI Muhammadiyah, MTs Muhammadiyah Tahfidz, MTs Muhammadiyah Seberang, dan MA Muhammadiyah Cendikia Onin Fakfak.
Keberadaan lembaga pendidikan tersebut menjadi bagian dari strategi Muhammadiyah untuk menyiapkan generasi Papua yang memiliki fondasi keagamaan sekaligus kemampuan menghadapi tantangan masa depan.
Pendidikan dan perkaderan pun berjalan beriringan. Jika pendidikan menjadi ruang untuk menyiapkan generasi, perkaderan menjadi sarana membangun kepemimpinan dan keberlanjutan gerakan.
Merawat Warisan, Menatap Masa Depan
Peringatan 666 tahun Islam masuk Papua akhirnya menemukan makna yang lebih luas. Fakfak tidak hanya menjadi ruang untuk mengenang perjalanan panjang Islam, tetapi juga tempat menghidupkan kembali nilai-nilai yang diwariskan para pendahulu.
Bagi Muhammadiyah, merawat sejarah berarti memastikan nilai Islam terus menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat. Dakwah tidak hanya disampaikan melalui mimbar, tetapi juga diwujudkan melalui pendidikan, perkaderan, pelayanan sosial, dan penguatan kehidupan masyarakat.
Baitul Arqam PDM Fakfak yang digelar menjelang puncak peringatan 666 tahun Islam di Papua menjadi salah satu simbol kesinambungan tersebut.
Dari sejarah panjang Islam di Fakfak, Muhammadiyah ingin menegaskan satu pesan: warisan masa lalu bukan untuk sekadar dikenang, melainkan menjadi energi untuk membangun Papua yang berilmu, berkeadaban, toleran, dan berkemajuan. (*)
