28.8 C
Jakarta

Buka Tanwir, Presiden Sampaikan Terimakasih kepada Muhammadiyah

Baca Juga:

BENGKULU, MENARA62.COMPresiden Joko Widodo mengucapkan terimakasih kepada Muhammadiyah. Karena Muhammadiyah telah banyak berjuang untuk kemerdekaan Indonesia.

Muhammadiyah banyak melahirkan pahlawan nasional seperti Ir Soekarno, Kasman Singodimedjo, KH Ahmad Dahlan dan lainnya,” kata Presiden saat membuka resmi Tanwir Muhammadiyah di Bengkulu, Jumat (15/2/2019).

Presiden mengaku pernah mengunjungi institusi-institusi Muhammadiyah di berbagai pelosok negeri. Mulai dari institusi pendidikan, rumah sakit, panti asuhan dan lainnya. Bahkan pernah mengunjungi Universitas Aisyiyah di Yogyakarta yang dipimpin dan dikelola oleh para perempuan Muhammadiyah.

“Saya berterimakasih, Muhammadiyah sangat maju,” tambahnya.

Presiden mengatakan dekat dengan Muhammadiyah. Selain sering berkunjung ke institusi Muhammadiyah, istrinya merupakan lulusan perguruan tinggi Muhammadiyah. Cucunya juga lahir di RS PKU Muhammadiyah.

Lebih lanjut Presiden mengatakan bahwa selama 4,5 tahun dirinya memang focus pada infrastrktur. Sebab Indonesia sudah ketinggalan jauh dibanding Negara lain seperti Malaysia dan China.

“Setelah 50 tahun, negara-negara yang tadinya  melihat kita justru jauh meninggalkan kita. Malaysia yang dulu melihat kita kini punya 1800 km. Kita jauh di bawah Malaysia. Apalagi kalau dibandingkan dengan China. Jauh ketinggalan,” tukas Presiden.

Diakui ada dua hambatan dalam membangun jalan tol selain masalah pembebasan lahan. Pertama, jalan melewati hutan konservasi. Padahal bisa saja melewati karena memang ada payung hukumnya. Masaah kedua, lahan milik kodam. Tidak ada yang berani memasuki lahan kodam.

“Saya telepon panglimanya dan selesai. Tidak ada masalah,” sambungnya.

Selain jalan tol, selama 4,5 tahun juga membangun pelabuhan dan airport. Pembangunan infrastrktur tersebut memang menjadi prioritas karena selama ini biaya transportasi sangat mahal akibat infrastruktur tak memadai. Infrastruktur ini untuk keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Bengkulu Lahirkan Tokoh Muhammadiyah

Sementara itu Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir dalam sambutannya mengatakan Muhammadiyah sengaja memilih Bengkulu sebagai lokasi untuk tanwir kali ini. Sebab di bumi raflesia ini lahir tokoh-tokoh Muhammadiyah.

“Kami menyelenggarakan tanwir di kotab Bengkulu ini atas pertimbangan karena Bengkulu punya sejarah. Bengkulu melahirkan tokoh-tokoh Muhammadiyah dan bangsa,” kata Haedar.

Hasan Din lanjut Haedar adalah tokoh Muhammadiyah yang juga seorang pengusaha dan orang penting. Beliau juga ulama dan bapak dari Ibunda Fatmawati. Di sini pula Soekarno pernah mengajar dan menjadi pengurus Muhammadiyah

Ada juga Karim Oe yang merintis dan berjuang untuk bangsa Indonesia. Karim juga tokoh Muhammadiyah yang berasal dari Kota Bengkulu.

“Karenanya kami ingin merajut semua kekuatan dan inspirasi perjuangan itu untuk bangsa Indonesia,” kata Haedar.

Tema tanwir ‘Beragama yang Mencerahkan’ sengaja diambil berdasarkan berbagai pertimbangan. Pertama bahwa Muhammadiyah dan Islam dituntut untuk menyebarkan praktek-praktek yang mencerahkan, agar ummat Islam selalu cerah dalam berpikir dan tindakannnya yang didasarkan dpada ajaran Islam yang bersumber pada Al Qur’an.

Kedua, dalam kehidupan sehari-hari masih banyak pengamalan agama yang belum mencerahkan.

Banyak ekstream dan intoleransi, hoax, dan politisasi agama. Ada juga ajaran-ajaran yang buruk, kebencian, permusuhan, yang memisahkan diri dari orang banyak. Padahal islam mengajarkan rahmatan lil alamin.

“Makanya Muhanmsdiyah ingin mengembalikan keutuhan islam yg mencerahkan, dari kegelapan menjadi bercahayakan nilai-nilai Illahi,” jelas Haedar.

Pencerahan yang diajarkan Islam kata Haedar melekat dengan kerisalahan Muhammad sebagai Nabi dan Rasul ketika menerima wahyu pertama. Iqra bukan hanya membaca secara verbal tetapi juga ayat-ayat kauniah. Sehingga manusia memiliki budi yang utama dan baik.

Iqra mengajarkan setiap muslim untuk memiliki kacamata bayani, burhani dan irfani. Menjadi manusia-manusia yang baik dan unggul.

Islam juga mengajarkan kemuliaan akal budi sebagaimana misi kerisalahan Nabi yaitu untuk menyempurnakan akal budi manusia. Jika akal budi dipraktekkan manusia dalam sikap dan tindakannya maka akan memancarkan rahmat bagi semesta alam.

Menurut Haedar, muslim yang mencerahkan maka tidak akan mudah menyebar marah bagi lingkungan dan alam semesta. Bahkan muslim yang tercerahkan maka dia akan menggelorakan amal saleh. Amal saleh juga akan dilakukan dengan cara yg maruf bukan dengan cara yang munkar.

“Inilah yang mengubah Madinah yang asalnya tidak tercerahkan menjadi tercerahkan. Sebuah daerah yang memberikan pencerahkan peradaban berabad-abad,” kata Haedar.

Haedar mengingatkan bahwa agama yang mencerahkan dapat membangun keadaban publik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam bangsa kita masih banyak hal-hal positif seperti taawun, toleransi, gotong royong. Namun kadang hal positif itu terkalahkan dengan  kepentingan positif yang mudah membelah dan menjadi berhadapan.

Politik menjadi sesuatu yang absolut. Suasana fanatik dan keras itu memunculkan aura untuk berhadapan seperti akan peperangan saudara. Padahal kita adalah satu anak bangsa.

“Mudah-mudahan situasi politik kita mengarahkan pada kekuatan adiluhung dan tidak mengikuti arus kecil yang bernuansa perpecahan,” harap Haedar.

- Advertisement -

Menara62 TV

- Advertisement -

Terbaru!