25.6 C
Jakarta

Buntut Skandal Barang Selundupan di Pesawat Baru, Dirut Garuda di Ujung Tanduk

Must read

IPM Sumsel Luncurkan Gerakan Motivator Penggerak Pemuda

PALEMBANG, MENARA62.COM -- Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah Sumtera Selatan (PW IPM Sumsel) melaksanakan kegiatan Launching Gerakan Motivator Penggerak Pemuda bertempat di salah satu...

Meraih Ketenangan Batin dengan Zikir

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenang dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (Q.S. Ar-Ra’du: 28) Salah satu penyakit...

Wisuda Sehat dari Rumah Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta

    YOGYAKARTA,MENARA62.COM-Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta, Sabtu (26/9), melaksanakan wisuda secara daring dengan tema “Wisuda Sehat dari Rumah”, melalui aplikasi telecoference Zoom dan siaran langsung via...

Muhammadiyah Utamakan Protokol Kesehatan dalam Menangani Bencana Banjir Bandang Sukabumi

    Yogyakarta, MENARA62.COM – Satu pekan pasca banjir bandang yang menerjang Sukabumi, Muhammadiyah tetap taati aturan protokol kesehatan dalam memberikan bantuan pelayanan bagi para penyintas....

TandukJAKARTA, MENARA62.COM – Menyelam sambil minum air adalah pepatah kebajikan. Tapi, menerbangkan pesawat sambil membawa barang selundupan, bukanlah tindakan terpuji. Inilah yang terjadi pada pengiriman pesawat baru milik maskapai Garuda Indonesia jenis Airbus A330-900 seri Neo dari pabriknya di Perancis, yang di dalamnya terdapat titipan barang ilegal suku cadang motor gede (moge) Harley Davidson klasik dan sepeda merek Brompton.

Jelas, itu akal-akalan pelaku untuk menghidari bea masuk, sehingga negara dirugikan karena tidak mendapat pemasukan pajak barang mewah tersebut. Siapa, dalam skandal ini, yang berbuat lancung?

Menteri Badan Usaha MIlik Negara (BUMN), Erick Thohir, mengarahkan telunjuknya kepada sosok berinisial AA sebagai pemesan dan pemilik barang selundupan itu. Sejurus kemudian Erick mengancam pemecatan Direktur Utama (Dirut) Garuda, Ari Askhara. Dengan demikian, kuat dugaan, inisial AA tak lain adalah orang nomor satu di maskapai pelat merah tersebut.

“Dengan itu saya sebagai Kementerian BUMN tentu akan memberhentikan saudara Direktur Utama Garuda,” ujar Erick Thohir dalam jumoa pers bersama Menteri Keuangan Sri Mulyani di Jakarta, Kamis (5/12/2019).

Erick menambahkan, proses pemberhentian itu akan ada prosedurnya lagi, mengingat Garuda merupakan perusahaan publik. Tapi, yang pasti, nasib AA sudah di ujung tanduk.

Temuan Bea Cukai

Berdasarkan informasi yang telah disampaikan sebelumnya, Bea Cukai menerima pemberitahuan dari Garuda tentang kedatangan pesawat baru tipe Airbus A330-900 seri Neo pada 17 November 2019. Bea Cukai kemudian melakukan pemeriksaan sarana pengangkut atau plane zoeking pesawat dengan nomor penerbangan GA 9721 itu.

Pesawat tersebut mengangkut 10 orang awak kabin dan 22 orang penumpang sesuai dokumen passenger manifest. Mereka adalah berinisial lGNA, IGARDD, IJ, ER, RA, MI, RBS, HA, WT, DSRW, LSB, STPN, SAW, NWP, MFR, MHH, S, MET, JPU, JS, ABL, dan LJYG.

Hasil pemeriksaan Bea Cukai, pada bagian kabin cockpit dan penumpang pesawat tidak diketemukan pelanggaran kepabeanan dan barang kargo lain (sesuai dokumen cargo manifest: nil cargo). Namun, pemeriksaan pada Iambung pesawat (tempat bagasi penumpang) ditemukan beberapa koper dan 18 koli yang keseluruhannya memiliki claimtag sebagai bagasi penumpang.

Terhadap bagasi penumpang berupa koper telah dilakukan pemeriksaan dan ditemukan barang-barang keperluan pribadi. Sedangkan pemeriksaan terhadap yang 18 koli, ditemukan 15 koli berisi suku cadang motor Harley Davidson bekas dengan kondisi terurai, dan tiga koli berisi dua unit sepeda Brompton kondisi baru beserta aksesoris sepeda.

Berdasarkan hasil penelusuran di pasaran, perkiraan nilai motor Harley Davidson tersebut berkisar antara Rp200 juta sampai dengan Rp800 juta per unit, sedangkan nilai dari sepeda Brompton berkisar antara Rp50juta hingga Rp60juta per unit. Sehingga, perkiraan total kerugian negara berkisar antara Rp532 juta sampai dengan Rp1,5 miliar.

Dikuatkan Dua Surat

Erick Thohir mengungkapkan, motor Harley Davidson klasik tersebut ditengarai milik AA. Dugaannya ini berdasarkan dua surat yang diterimanya, masing-masing dari Dewan Komisaris dan Komite Audit Garuda.

“Laporan yang kita dapat dari komite audit dalam surat ini disebutkan mempunyai kesaksian tambahan pada Kamis (5/12/2019) siang bahwa motor Harley Davidson diduga milik saudara AA,” ungkap Erick.

Ia menjelaskan, pada 2018 saudara AA memberikan instruksi untuk mencari motor klasik Harley Davidson tipe Shovelhead. “Ini motor jenis tahun 1970-an, jadi itu motor klasik,” kata Erick.

Lalu pembelian dilakukan pada April 2019 dan proses transfer dari Jakarta dilakukan ke rekening pribadi Finance Manager Garuda di Amsterdam, Belanda. “Saudara IJ membantu proses pengiriman dan lain-lain, tapi akhirnya seperti kita ketahui bersama pada hari ini,” ujar Erick.

Kementerian Keuangan cq Bea Cukai juga masih melakukan pemeriksaan terhadap SAW dan LS yang ikut tercantum dalam manifes pesawat . Keduanya diduga ikut berperan dalam tindak penyekundupan tersebut.

Klarifikasi Garuda

Vice President Corporate Secretary Garuda Indonesia, Ikhsan Rosan, sebelumnya sudah memberikan klarifikasi. Menurutnya, suku cadang yang dibawa oleh karyawan yang terbang dalam pesawat tersebut sudah melalui proses kepabeanan pada Delivery Center Airbus di Toulouse, Perancis.

Lalu, sebelum melakukan pendaratan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Garuda menyampaikan surat pemberitahuan dan permohonan izin kepada pihak otoritas bandara. Disampaikan bahwa pesawat akan langsung dibawa ke Garuda Maintenance Facility (GMF) sehingga segala prosedur keimigrasian dan kepabeanan dilakukan di area GMF.

“Suku cadang tersebut dalam ketibaannya di GMF dilaporkan kepada petugas Bea Cukai (self declared) untuk diproses sesuai ketentuan yang berlaku,” kata Ikhsan, Selasa (3/12/2019).

Ia menegaskan, karyawan Garuda yang membawa cuku cadang moge tersebut akan tunduk dan mematuhi segala aturan yang berlaku atas putusan dari kepabeanan. Misalnya, harus membayar bea masuk atau prosedur lain yang akan dikenakan.

“Suku cadang tersebut akan dipergunakan oleh karyawan tersebut dan bukan untuk diperjualbelikan,” kata Ikhsan seperti dikutip Antaranews.com.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

IPM Sumsel Luncurkan Gerakan Motivator Penggerak Pemuda

PALEMBANG, MENARA62.COM -- Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah Sumtera Selatan (PW IPM Sumsel) melaksanakan kegiatan Launching Gerakan Motivator Penggerak Pemuda bertempat di salah satu...

Meraih Ketenangan Batin dengan Zikir

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenang dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (Q.S. Ar-Ra’du: 28) Salah satu penyakit...

Wisuda Sehat dari Rumah Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta

    YOGYAKARTA,MENARA62.COM-Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta, Sabtu (26/9), melaksanakan wisuda secara daring dengan tema “Wisuda Sehat dari Rumah”, melalui aplikasi telecoference Zoom dan siaran langsung via...

Muhammadiyah Utamakan Protokol Kesehatan dalam Menangani Bencana Banjir Bandang Sukabumi

    Yogyakarta, MENARA62.COM – Satu pekan pasca banjir bandang yang menerjang Sukabumi, Muhammadiyah tetap taati aturan protokol kesehatan dalam memberikan bantuan pelayanan bagi para penyintas....

Fraksi PKS Tolak PMN pada Kasus Jiwasraya

JAKARTA, MENARA62.COM - Menteri keuangan Sri Mulyani menyatakan bahwa pihaknya akan menggelontorkan Penyertaan Modal Negara (PMN) kepada PT Bahan Pembinaan Usaha Indonesia (BPUI) pada...