26.1 C
Jakarta

Dampak Pembelajaran Daring Terhadap Pembelajaran Sosiologi di SMA Muhammadiyah 1 Sragen

Baca Juga:

Oleh: Hesti Sulistyani, S. Pd *)

SRAGEN, MENARA62.COM-Sudah satu tahun lebih wabah virus corona melanda negara di seluruh dunia. Salah satu negara yang terjangkit adalah negara kita yaitu negara Indonesia. Adanya wabah ini mengakibatkan berbagai dampak di setiap aspek kehidupan. Dari dampak yang paling kecil sampai dampak yang besar sudah dirasakan oleh masyarakat. Beberapa aspek yang terlihat terdapat perubahan secara signifikan adalah pada aspek ekonomi dan pendidikan. Semenjak virus corona ada dan ditetapkan di Indonesia sebagai wabah internasional atau pandemi semenjak Maret 2020 kemarin, perekonomian masyarakat mengalami ketidakstabilan, begitupun dengan dunia pendidikan. Dalam dunia pendidikan pun semenjak virus corona mulai merebak di masyarakat, peserta didik mulai dari usia dini sampai sekolah menengah atas sudah melakukan pembelajaran jarak jauh atau daring.
Pembelajaran daring merupakan salah satu solusi yang digunakan di SMA Muhammadiyah 1 Sragen supaya peserta didik tetap mendapatkan materi pelajaran dari guru. Bahkan menurut saya tidak hanya di SMA Muhammadiyah 1 Sragen saja, di SMA se-kabupaten maupun provinsi, dan nasionalpun juga melakukan pembelajaran daring. Mengupas tuntas tentang pembelajaran daring, saya melihat dan merasa bahwa terdapat kelemahan dan kelebihan yang saya peroleh sebagai guru yang mengampu mata pelajaran sosiologi di SMA Muhammadiyah 1 Sragen.
Dilihat dari subyek peserta didik, pada era revolusi industri 4.0 ini sangat familier dengan media IT, salah satunya adalah smart phone. Fasilitas yang mereka miliki ini sebenarnya dapat mendukung pembelajaran mereka selama melakukan daring, namun jika dikaitkan dengan mata pelajaran yang saya ampu yaitu mata pelajaran sosiologi masih memiliki kekurangan baik itu dari segi peserta didik, guru, maupun proses pembelajaran.
Proses pembelajaran daring memiliki kelemahan dan kelebihan. Kelebihan pembelajaran secara daring adalah walaupun belajar tidak secara tatap muka di sekolahan peserta didik tetap mendapatkan materi pelajaran dari guru, selain itu peserta didik merasa senang karena fasilitas yang mereka gunakan adalah fasilitas yang familier dengan mereka yaitu smart phone atau gadget. Belajar bisa dilakukan dimanapun, apalagi kalau pembelajaran secara asinkronus biasanya bisa dikerjakan kapanpun selagi masih dalam masa tenggat penugasan tersebut. Pembelajaran daring untuk membahas tentang materi sosiologi itu sangat menyenangkan karena contoh di internet, media massa maupun lingkungan tempat tinggal mereka sehari-haripun sangat banyak dan mudah mereka jumpai. Guru sangat terbantu dengan keadaan seperti ini karena yang dulunya guru memberikan penjelasan di depan kelas namun selama pembelajaran daring ini guru membebaskan peserta didik untuk mengeksplore kemampuan, keingintahuan, dan kreativitas mereka untuk mendalami materi pelajaran sosiologi. Pada akhir pembelajaran guru hanya memberikan penguatan tentang materi sosiologi yang mereka telah pelajari tersebut. Dengan kegiatan seperti ini harapannya memberikan imbas ke peserta didik yaitu mereka menjadi lebih aktif dan tentunya bisa menjadi pelajar yang sesuai abad-21 yaitu pelajar yang mampu melakukan critical thinking dan tentunya memiliki peran dalam melakukan problem solving terhadap permasalahan yang sedang terjadi di masyarakat, misalnya saja permasalahan tentang corona, peserta didik membuat poster atau media interaktif di medsos seperti tiktok, IG, FB, Twitter atau youtube yang isinya adalah persuasif atau ajakan untuk tetap melakukan 5M. Pembelajaran daring juga dapat menjadikan siswa sebagai pusat pembelajaran atau biasa dikenal dengan istilah student center.
Di sisi lain pembelajaran yang sudah didesain sedemikian rupa untuk memfasilitasi peserta didik di masa pandemi juga memiliki kelemahan. Kelemahan yang terlihat dalam pembelajaran sosiologi di masa daring adalah peserta didik cenderung tidak bisa melakukan pembelajaran praktik yang dilakukan secara berkelompok, misalnya dengan melakukan sosio drama, eksplorasi dalam melakukan tugas yang berkaitan dengan out door juga sangat terbatas. Apalagi masih masa PPKM seperti ini jadi anak jika ditugaskan untuk melakukan observasi ataupun mencari data tentang mata pelajaran sosiologi langsung terjun ke lapangan saya rasa juga kurang pas. Selama pembelajaran jarak jauh guru kurang bisa mengontrol sikap maupun progress peningkatan sikap maupun nilai norma yang dimiliki oleh peserta didik karena saat pembelajaran jarak jauh peserta didik maupun guru hanya bisa berjumpa lewat tatap maya saja, tanpa mengetahui secara langsung karakter peserta didik.
Secara mutlak pembelajaran jarak jauh atau daring memang sangat perlu dilakukan untuk menyampaikan pembelajaran sosiologi kepada peserta didik, namun solusi seperti ini tidak seutuhnya memiliki dampak positif, namun juga terdapat dampak negatif seperti yang telah saya paparkan di atas. Dengan melihat situasi dan kondisi seperti ini maka sebagai guru yang profesional harus pandai dalam menyajikan pembelajaran kepada peserta didik, khususnya di mata pelajaran sosiologi. Sajian pembelajaran yang mengasyikkan bagi peserta didik itu bisa diolah dengan komposisi yang pas yaitu pemilihan metode, model, media, maupun materi atau bahan ajar yang pas untuk diterapkan kepada peserta didik dari berbagai kalangan dan tentunya mereka enjoy menerima pelajaran yang disampaikan oleh guru. Tetap semangat, tetap tangguh, guru hebat, peserta didik hebat, insya Alloh dapat menciptakan generasi penerus bangsa yang tangguh.

*)guru Sosiologi SMA Muhammadiyah 1 Sragen

- Advertisement -

Menara62 TV

- Advertisement -

Terbaru!