27.2 C
Jakarta

FAI UM Bandung Dorong Pemanfaatan AI Tetap Berbasis Adab

Baca Juga:

BANDUNG, MENARA62.COM — Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung mendorong mahasiswa dan dosen memanfaatkan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam kegiatan akademik secara kritis, etis, dan bertanggung jawab.

 

Pesan tersebut disampaikan Dekan FAI UM Bandung Cecep Taufikurrohman MA PhD saat membuka Stadium Generale FAI UM Bandung di Auditorium KH Ahmad Dahlan, Rabu (30/9/2026).

 

Dalam kegiatan yang mengangkat tema pemanfaatan teknologi informasi dan AI untuk mendukung pembelajaran, penulisan karya ilmiah, hingga penyelesaian tugas akhir itu, Cecep menekankan pentingnya adab dalam proses menuntut ilmu.

 

“Sejatinya sebelum ilmu itu intinya adab dulu. Kalau adabnya bagus, ilmunya juga pasti bagus. Kalau adabnya tidak bagus, ilmunya pun sama tidak bagus,” ujar Cecep.

 

Menurut dia, stadium generale menjadi tradisi akademik untuk mengawali tahun akademik sekaligus membangun semangat sivitas akademika. Momentum tersebut dinilai penting untuk membekali mahasiswa dan dosen menghadapi perkembangan teknologi yang semakin cepat.

 

Cecep mengatakan, perkembangan AI merupakan bagian dari kemajuan peradaban yang telah merambah berbagai bidang kehidupan, termasuk pendidikan dan keagamaan.

 

Karena itu, AI dinilai tidak semestinya dihindari. Sebaliknya, teknologi tersebut perlu dipahami dan dimanfaatkan secara tepat agar memberikan manfaat bagi proses akademik.

 

“AI jangan dibiarkan, dihindari, apalagi dimusuhi. Teknologi ini harus kita pahami dan manfaatkan secara bijak agar tidak justru membuat manusia bergantung, malas berpikir, dan kehilangan kemampuan untuk berkembang,” katanya.

 

AI Tak Boleh Menggerus Integritas Akademik

 

Cecep juga mengingatkan pentingnya menjaga integritas akademik dalam pemanfaatan AI di perguruan tinggi. Mahasiswa dan dosen perlu memiliki etika serta pedoman yang jelas agar AI tidak digunakan untuk memanipulasi tugas atau menghasilkan karya akademik tanpa proses berpikir yang memadai.

 

Untuk memperkuat pemahaman tersebut, FAI UM Bandung menghadirkan Dosen Kelompok Keahlian Fisika Teoretik ITB Dr Wahyu Hidayat SSi MSi sebagai narasumber utama.

 

Wahyu menjelaskan, transformasi digital di perguruan tinggi menuntut dosen dan mahasiswa tidak sekadar mampu menggunakan teknologi. Lebih dari itu, mereka harus memahami cara memanfaatkannya secara kritis dan bertanggung jawab.

 

Menurut Wahyu, AI dapat membantu berbagai aktivitas akademik, mulai dari pembelajaran, penulisan karya ilmiah, hingga penelitian. Namun, AI bukan mesin yang mengetahui seluruh informasi secara mutlak.

 

AI merupakan sistem yang dilatih menggunakan data dalam jumlah besar untuk menghasilkan prediksi, rekomendasi, maupun konten. Karena itu, setiap informasi yang dihasilkan AI tetap perlu diperiksa dan diverifikasi.

 

“Teknologi seharusnya menjadi alat yang membantu dosen dan mahasiswa meningkatkan kualitas akademik. Sementara itu, tanggung jawab intelektual, proses berpikir, dan keputusan akhir tetap berada pada manusia,” jelasnya.

 

Wahyu juga menekankan pentingnya etika, integritas akademik, dan prinsip responsible AI. Menurut dia, penggunaan AI dalam pembelajaran, penelitian, maupun asesmen harus mempertimbangkan manfaat sekaligus risiko yang mungkin ditimbulkan.

 

Di akhir kegiatan, Cecep berharap stadium generale tersebut tidak berhenti pada penambahan pengetahuan tentang AI. Kegiatan itu diharapkan mampu memperkuat kesadaran sivitas akademika FAI UM Bandung untuk tetap mengedepankan adab dalam setiap proses pembelajaran.

 

Ia juga berharap kegiatan tersebut menjadi majelis ilmu yang memberikan manfaat sekaligus keberkahan bagi seluruh peserta. (FA/*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!