25.6 C
Jakarta

Industri Kecil Batik Bantul dan Peran Mahasiswa melalui KKN di Tengah Pandemi

Must read

Terapkan Protokol Kesehatan dengan Baik, Menhub Apresiasi Petugas Pelabuhan Tanjung Priok

JAKARTA, MENARA62.COM -- Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengapresiasi para petugas di Pelabuhan Tanjung Priok yang telah menerapkan protokol kesehatan dengan baik. Hal tersebut disampaikan...

Authenticity Meraih Dua Penghargaan Bergengsi dari ICMA 2020

JAKARTA, MENARA62.COM -- Authenticity meraih dua penghargaan bergengsi melalui program digitalnya. Penghargaan tersebut diantaranya, "1st Winner untuk kategori The Best Content Marketing Implementation in...

Malam Puncak Acara “Tegal Youth Fest 2020”, Komunitas Kepemudaan di Tegal Adakan Silaturahmi Bersama dan Luncurkan Buku

TEGAL, MENARA62.COM -- Organisasi kepemudaan Tegal adakan silaturahmi bersama secara langsung dengan undangan terbatas supaya tetap mengikuti protokol kesehatan di Gamelan Kopi, Tegal pada...

Toekang Ketjos, Bisnis Unik Dua Kawan Lama

JAKARTA, MENARA62.COM – Pandemi memberikan dampak finansial kepada hampir seluruh pelaku usaha di dunia. Tak terkecuali dengan Obin dan Derry. Mereka berdua sebelumnya memiliki...
Fajar Junaedi
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

YOGYAKARTA, MENARA62.COM — Terdesak oleh batik pabrik besar dan impor, industri kecil batik semakin tersudut kala pandemi Covid-19 menerjang. Suparyantini, perempuan dengan dua anak yang telah bekerja sebagai pegawai negeri, bercerita tentang ini. Suparyantini adalah pemilik batik Trisno Idaman yang berlokasi Gesikan, Wijirejo, Pandak, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.  Usaha batiknya dijalankan sebagai ikhtiar merawat tradisi. “Usaha batik Trisno Idaman ini sudah berjalan  sejak sekitar waktu gempa melanda Yogyakarta tahun 2006,” kenangnya, Senin (24/8/2020). Kini batik lokal harus bersaing dengan produk pabrik besar dan impor yang membanjiri pasar

“Kami meneruskan usaha keluarga yang sudah berjalan sejak tahun 1970-an. Awalnya ibu saya membuka usaha batik namanya Roro Ireng. Sempat punya pegawai sekitar dua puluh orang di masa keemasan sampai gempa melanda,” ujarnya. Gempa membuat show room rusak, rata dengan tanah. Suparyantini menerawang masa sulit itu.

“Covid-19 ini menjadi ujian berat bagi kami, perajin batik. Di masa normal, banyak pengunjung yang datang. Umumnya datang dengan gethok tular (ucapan dari mulut ke mulut-redaksi). Ada yang untuk pribadi, keluarga, kantor dan sekolah. Kini sepi lagi,” jelasnya. Suparyantini menyebut, tenaga kerja yang membuat batik bahkan berkurang hanya menjadi empat orang saja.

Kegelisahan Suparyantini menemui titik terang ketika sekelompok mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) datang. Mereka melakukan program pengabdian masyarakat melalui Kuliah Kerja Nyata (KKN) berbasis Teknologi Informasi. Kebetulan keponakannya berkuliah di Program Studi Kedokteran Gigi UMY, namanya Dian Novia Istiana. Melalui Dian, tim KKN 117 UMY, yang terdiri dari Sagara Fawwaz Pratama (Teknik Mesin), Okto Aulia Susanto (Teknik Mesin), Eriawan Indrianto (Ilmu Keperawatan), dan Ayu Nur’aini Putri (Akuntansi) bisa berjumpa dengan Suparyantini di awal bulan Juli 2020.

Bersama tim KKN UMY ini, Suparyantini mulai mengembangkan pemasaran berbasis digital. Harapannya agar produk batiknya yang terdiri dari batik tulis, cap dan kontemporer bisa dikenal lebih luas dengan memanfaatkan platform media digital. Dosen pembimbing lapangan KKN, Fajar Junaedi menyatakan bahwa yang menarik dari  program KKN yang dilakukan oleh mahasiswa dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di masa pandemi. “Pandemi telah memberi pelajaran bahwa pemasaran online adalah keniscayaan yang harus segera diadaptasi oleh UMKM,” terang Fajar saat mendampingi mahasiswa yang menjalankan program pengabdian di Batik Trisno Idaman. Fajar menambahkan bahwa KKN ini juga merupakan implementasi catur darma perguruan tinggi Muhammadiyah.

Suparyantini mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada Muhammadiyah melalui KKN UMY yang telah memberikan bantuan untuk menyiapkan platform dan konten digital bagi batik Batik Trisno Idaman. “Saya ingin batik terus bertahan dalam masa apapun, juga di masa teknologi digital saat ini, karena keberadaan batik kami adalah bagian merawat tradisi,” terangnya. Suparyantini juga berharap dengan teknologi digital usaha batiknya bisa terus berjalan.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Terapkan Protokol Kesehatan dengan Baik, Menhub Apresiasi Petugas Pelabuhan Tanjung Priok

JAKARTA, MENARA62.COM -- Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengapresiasi para petugas di Pelabuhan Tanjung Priok yang telah menerapkan protokol kesehatan dengan baik. Hal tersebut disampaikan...

Authenticity Meraih Dua Penghargaan Bergengsi dari ICMA 2020

JAKARTA, MENARA62.COM -- Authenticity meraih dua penghargaan bergengsi melalui program digitalnya. Penghargaan tersebut diantaranya, "1st Winner untuk kategori The Best Content Marketing Implementation in...

Malam Puncak Acara “Tegal Youth Fest 2020”, Komunitas Kepemudaan di Tegal Adakan Silaturahmi Bersama dan Luncurkan Buku

TEGAL, MENARA62.COM -- Organisasi kepemudaan Tegal adakan silaturahmi bersama secara langsung dengan undangan terbatas supaya tetap mengikuti protokol kesehatan di Gamelan Kopi, Tegal pada...

Toekang Ketjos, Bisnis Unik Dua Kawan Lama

JAKARTA, MENARA62.COM – Pandemi memberikan dampak finansial kepada hampir seluruh pelaku usaha di dunia. Tak terkecuali dengan Obin dan Derry. Mereka berdua sebelumnya memiliki...

LBH PP Muhammadiyah Desak Polri Proses Hukum Oknum Pemukul Relawan MDMC

JAKARTA, MENARA62.COM - LBH PP Muhammadiyah, Majelis Hukum dan HAM PP Muhammadiyah, MDMC (Muhammadiyah Disaster Management Center) PP Muhammadiyah, YLBHI, KontraS, LBH Masyarakat, LBH...