SURABAYA, MENARA62.COM — Kaderisasi tidak cukup dilakukan melalui pelatihan formal dan penerbitan surat keputusan (SK) kepengurusan. Proses panjang mendampingi senior, terlibat dalam kegiatan masjid, menggerakkan amal usaha, hingga melayani masyarakat justru menjadi salah satu kunci lahirnya kader Muhammadiyah yang tangguh.
Pola itulah yang dikembangkan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Krembangan, Kota Surabaya, melalui tradisi kader kintilan. Istilah dalam bahasa Jawa tersebut berarti mengikuti atau mendampingi senior dalam menjalankan aktivitas organisasi, dakwah, dan pelayanan umat.
Model kaderisasi ini telah tumbuh sejak era 1980-an, ketika tokoh Muhammadiyah Krembangan, almarhum Ustaz Cholil Subarie dan Ustaz Muhammad Hatta, menggelorakan pentingnya kader muda belajar langsung dari para pendahulunya.
Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Surabaya sekaligus Ketua PCM Krembangan periode 2012–2017, M. Arif An, menilai pola tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat regenerasi kepemimpinan di Krembangan terus berjalan.
Di tengah tantangan organisasi Muhammadiyah yang semakin besar dan kompleks, PCM Krembangan justru dinilai memiliki ketersediaan kader dengan beragam karakter, minat, dan kompetensi.
“Pengaderan dibangun tidak sekadar formal, tetapi juga melalui kegiatan nonformal. Kader muda mengikuti seniornya dalam beraktivitas, kemudian ditempa di lingkungan internal PCM sebelum diberi ruang untuk berkontribusi lebih luas,” tulis M. Arif An dalam opininya.
Pengajian Keluarga Sakinah, Jantung Kaderisasi
Salah satu fondasi utama kaderisasi PCM Krembangan adalah pembinaan mubaligh dan pengajian Keluarga Sakinah. Keduanya dirancang bukan hanya untuk memperkuat pemahaman keislaman, tetapi juga membangun ikatan keluarga dengan persyarikatan Muhammadiyah.
Pembinaan kader mubaligh dilaksanakan melalui kerja sama Majelis Tabligh dan Majelis Pendidikan Kader (MPK). Kegiatannya meliputi pembinaan rutin, pelatihan ilmu hisab, hingga pemantauan mubaligh yang menyampaikan kultum subuh selama Ramadan.
Sementara itu, Pengajian Keluarga Sakinah dilaksanakan setiap bulan dengan lokasi bergiliran di ranting dan amal usaha Muhammadiyah (AUM). Tradisi yang telah berlangsung sekitar tiga dekade tersebut menjadi salah satu kegiatan utama PCM Krembangan, dengan jumlah jamaah yang disebut mencapai lebih dari 1.000 orang.
Pelibatan keluarga menjadi strategi penting untuk memperkenalkan Muhammadiyah kepada generasi berikutnya. Anak-anak tidak hanya mengenal persyarikatan melalui cerita orang tua, tetapi juga merasakan langsung kehidupan berjamaah dan aktivitas organisasi.
PCM Krembangan juga rutin menggelar silaturahmi keluarga besar Muhammadiyah yang mempertemukan berbagai organisasi otonom (ortom), seperti Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Tapak Suci, dan Hizbul Wathan (HW).
Dalam kegiatan tahunan tersebut, Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) tidak sekadar menjadi peserta, tetapi juga diberi tanggung jawab sebagai penyelenggara. Dengan begitu, kader muda belajar mengelola kegiatan, menghadapi persoalan, dan menerima pengalaman dari para senior.
Masjid, Sekolah, dan Panti Menjadi Basis Kader
Bagi PCM Krembangan, kaderisasi tidak dapat dilepaskan dari penguatan masjid, keluarga, dan amal usaha. Ketiganya menjadi ruang pembentukan karakter sekaligus tempat kader muda menemukan peran nyata dalam kehidupan persyarikatan.
Dua masjid yang disebut menjadi penopang penting aktivitas kaderisasi adalah Masjid Al Azhar Dupak Bandarejo dan Masjid At Taqwa Dupak Bangunsari. Upaya menghidupkan masjid dan menjadikannya ramah anak turut membuka ruang keterlibatan generasi muda dalam kegiatan keagamaan dan sosial.
Keberadaan tiga lembaga kesejahteraan sosial anak (LKSA), yakni Panti Ahmad Dahlan, Panti Walidah, dan Rumah Pintar Matahari, juga memperluas ruang pengabdian kader.
Di bidang pendidikan, SD Muhammadiyah 11 dan SMP Muhammadiyah 11 menjadi bagian penting dari strategi menumbuhkan kecintaan terhadap persyarikatan sejak usia sekolah.
Arif menegaskan, akses pendidikan bagi anak-anak pimpinan dan anggota Muhammadiyah harus menjadi perhatian. Jangan sampai persoalan biaya menghalangi mereka memperoleh pendidikan di sekolah Muhammadiyah.
Pandangan tersebut sejalan dengan pesan Al-Qur’an dalam Surah An-Nisa ayat 9 tentang pentingnya menyiapkan keturunan yang kuat dan tidak meninggalkan generasi dalam keadaan lemah.
Dengan demikian, kaderisasi tidak hanya dimaknai sebagai upaya menyiapkan pengurus organisasi, tetapi juga membangun generasi yang memiliki fondasi keislaman, kepedulian sosial, dan komitmen terhadap persyarikatan.
Tiga Ruang Kader Muda: Belajar, Berkontribusi, Bertumbuh
PCM Krembangan juga mendorong cabang dan ranting menjadi ruang aktualisasi bagi generasi muda. Prinsipnya, kader tidak akan berkembang apabila hanya dilibatkan dalam rapat tanpa kesempatan untuk berkarya.
Karena itu, kaderisasi diarahkan melalui tiga ruang utama.
Pertama, ruang belajar. Pembelajaran tidak berhenti pada kegiatan formal seperti Darul Arqam atau Baitul Arqam. PCM Krembangan juga mengembangkan konsep living Baitul Arqam, yakni belajar melalui aktivitas sehari-hari di masjid, amal usaha, lapangan futsal, tenis meja, dan kegiatan olahraga lainnya.
Melalui pendekatan tersebut, kader dapat mempelajari kepemimpinan, kedisiplinan, komunikasi, dan kebersamaan secara langsung.
Kedua, ruang berkontribusi. Kader muda didorong aktif mengikuti kegiatan Muhammadiyah di tingkat daerah, wilayah, hingga pusat. Mereka juga dilibatkan dalam menerjemahkan instruksi pimpinan menjadi program yang tertata dan dijalankan secara konsisten.
Salah satu contoh aktual adalah pelaksanaan salat istiska di Lapangan Bangunsari pada 23 Oktober 2026. Kegiatan tersebut menjadi bentuk keterlibatan PCM Krembangan dalam merespons instruksi pimpinan Muhammadiyah terkait ikhtiar menghadapi persoalan kekeringan.
Ketiga, ruang bertumbuh. Organisasi otonom, seperti KOKAM, Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyiyah, Tapak Suci, dan Hizbul Wathan, diberi kesempatan merancang serta menjalankan kegiatan. Mereka bukan hanya menjadi peserta, melainkan juga subjek yang menentukan arah dan pelaksanaan program.
Kader muda juga didorong membangun hubungan lintas amal usaha agar pengalaman berorganisasi dan semangat pengabdian berkembang sejak usia sekolah.
Arif menekankan pentingnya suasana organisasi yang menggembirakan, setara, dan terbuka terhadap nasihat. Kader senior tetap dihormati, sedangkan kader muda diberi kesempatan menyampaikan gagasan dan mengambil tanggung jawab.
Prinsip tersebut membuat kaderisasi tidak berhenti sebagai agenda seremonial, melainkan menjadi proses pembelajaran yang terus berlangsung.
Kaderisasi Spesialis Sesuai Minat dan Kompetensi
Selain membangun kader melalui pendampingan, PCM Krembangan mulai mengembangkan pendekatan kaderisasi berdasarkan minat dan bidang keahlian.
Gagasan ini sejalan dengan pandangan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti, yang juga merupakan tokoh Muhammadiyah, mengenai pentingnya menyiapkan kader dengan kompetensi yang lebih spesifik.
Kader yang memiliki minat di bidang dakwah diarahkan untuk berkiprah melalui Majelis Tabligh dan Lembaga Dakwah Komunitas (LDK). Mereka yang berminat di bidang pendidikan didorong mengambil peran dalam pengelolaan sekolah, termasuk menjadi kepala sekolah.
Sementara itu, kader yang memiliki kepedulian terhadap persoalan sosial dapat diberi tanggung jawab mengelola lembaga kesejahteraan sosial, panti asuhan, serta program zakat, infak, dan sedekah (ZIS). Mereka juga dilibatkan dalam kegiatan sosial Ramadan, pelayanan kurban, dan dukungan bagi marbot masjid.
Pendekatan ini memungkinkan kader berkembang sesuai kapasitasnya sekaligus menjawab kebutuhan organisasi dan masyarakat.
Dengan pola tersebut, kaderisasi tidak lagi hanya berorientasi pada pengisian struktur kepengurusan, tetapi juga pada penyiapan sumber daya manusia yang kompeten untuk mengelola dakwah, pendidikan, dan pelayanan sosial.
Dari Cholil Subarie hingga Generasi Z
Tradisi kader kintilan di Krembangan telah melahirkan kader dari beberapa generasi. Arif menyebut sejumlah tokoh yang berkontribusi dalam perjalanan Muhammadiyah, antara lain almarhum H. Cholil Subarie, yang pernah menjadi anggota DPRD Jawa Timur pada 1980-an dan Ketua Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Jawa Timur; almarhum H. Muhammad Hatta, yang pernah berkiprah di PDM Kota Surabaya; serta almarhum H. Noor Faqih, yang pernah bertugas di Majelis Ekonomi Pimpinan Wilayah Muhammadiyah.
Pada generasi berikutnya, terdapat nama-nama seperti Untung Suhartono, Subekhan, Supartiningwik, Sudarjo, Toha Afifi, M. Saiful, Akhwan Hamid, Soedjono, M. Arif An, Sutikno, M. Yusuf, Adi Sulasono, Zuhrotul Mar’ah, Mursiah, Lanang, Heri Subagyo, Zahid Nawawi, Warsono, dan Achmad Zainul Arifin.
Regenerasi berlanjut melalui kader angkatan sekitar 2015, antara lain Choirul Alimin, Teguh Suryadi, Falih Fanani, Muhaimin, Arif Himawan, Agung Budianto, Widodo Kurniawan, hingga generasi Z yang di antaranya disebut bernama Mujadid, Indah, dan Rayhan Mahardhika.
Deretan nama tersebut menggambarkan upaya meneruskan kepemimpinan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Tantangannya adalah memastikan tradisi itu terus berkembang dan mampu menjawab kebutuhan zaman.
Bagi PCM Krembangan, kunci regenerasi terletak pada ekosistem yang menghidupkan cabang, ranting, masjid, sekolah, dan lembaga sosial sebagai tempat kader belajar sekaligus mengabdi.
Kaderisasi yang kuat tidak lahir hanya dari forum formal, melainkan melalui proses panjang bergaul dengan jamaah, merasakan tanggung jawab pelayanan, serta mengamalkan nilai-nilai persyarikatan dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui tradisi kader kintilan, PCM Krembangan berupaya memastikan bahwa Muhammadiyah tidak hanya tumbuh semakin besar, tetapi juga terus memiliki kader yang siap meneruskan dakwah, mengembangkan amal usaha, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Penulis: M. Arif An, Wakil Ketua PDM Kota Surabaya dan Ketua PCM Krembangan periode 2012–2017.
