SOLO, MENARA62.COM – Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Kota Surakarta bersama Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (KOKAM) menggelar refleksi Milad ke-61 KOKAM dengan mengangkat kembali sejarah peristiwa Kedung Kopi 22 Oktober 1965. Kegiatan ini menjadi momentum merawat ingatan sejarah sekaligus meneruskan nilai perjuangan kepada generasi muda.
Mengusung tema “Jejak Darah di Kedung Kopi: Refleksi 61 Tahun KOKAM, Melawan Lupa dan Merawat Bangsa”, kegiatan tersebut berlangsung di Gedung Dakwah Balai Muhammadiyah Surakarta, Jumat (23/10/2026). Sekitar 350 peserta hadir, mulai dari anggota KOKAM Solo, senior Pemuda Muhammadiyah dan KOKAM, Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah (PCPM) se-Solo, hingga jamaah pengajian umum.
Acara diawali dengan pemutaran film Kedung Kopi karya sutradara Akbar Vandebar. Setelah pemutaran film, Akbar memaparkan proses produksi dan latar belakang penggarapan film yang mengangkat peristiwa sejarah tersebut.
Kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Surakarta, Drs. K.H. Subari. Rangkaian acara juga diisi dengan sesi tanya jawab bersama jamaah serta penyerahan cendera mata kepada tokoh KOKAM dan narasumber.
Film Kedung Kopi untuk Melawan Lupa
Dalam pemaparannya, Akbar Vandebar menjelaskan bahwa film Kedung Kopi 22 Oktober 1965 diproduksi pada 2017, sekitar 52 tahun setelah peristiwa tersebut terjadi. Film itu menjadi salah satu upaya mendokumentasikan kembali sejarah yang dinilai mulai luput dari ingatan masyarakat.
Gagasan pembuatan film bermula dari pertemuan Akbar dengan sejumlah tokoh di Solo, termasuk Usman Amiruddin. Dari pertemuan tersebut, ia memperoleh cerita mengenai berbagai peristiwa yang berkaitan dengan PKI di Kota Solo.
Cerita-cerita itu kemudian menjadi bahan untuk merekam kisah sejarah dan perjuangan para pendahulu agar dapat dikenal oleh generasi berikutnya.
“Esensi dari film ini bagaimana kita bisa mengemas sejarah, bagaimana mengemas cerita tentang heroisme orang-orang terdahulu untuk melanjutkan jejak perjuangan mereka,” ujar Akbar.
Menurutnya, dokumentasi sejarah memiliki peran penting dalam menjaga ingatan kolektif masyarakat. Film, multimedia, sinematografi, dan tulisan dapat menjadi sarana untuk menyampaikan kembali peristiwa masa lalu kepada generasi muda.
Akbar juga mendorong generasi muda Muhammadiyah agar terlibat aktif dalam mendokumentasikan sejarah. Upaya tersebut, katanya, tidak harus bergantung pada peralatan canggih, tetapi lebih membutuhkan kemampuan mengolah cerita dan menyampaikan nilai perjuangan secara menarik kepada masyarakat.
Ia berharap film Kedung Kopi dapat menjadi ikhtiar untuk menjaga ingatan masyarakat terhadap peristiwa tersebut sekaligus menumbuhkan kesadaran generasi penerus akan pentingnya mempelajari sejarah.
Kedung Kopi dan Sejarah Perjuangan KOKAM
Sementara itu, Wakil Ketua PDM Kota Surakarta, Drs. K.H. Subari, menyampaikan ucapan selamat atas Milad ke-61 KOKAM. Ia berharap organisasi tersebut terus berkembang dan mempertahankan perannya dalam perjuangan Muhammadiyah.
Subari menjelaskan, peristiwa Kedung Kopi menjadi salah satu peristiwa yang membekas dalam ingatan Angkatan Muda Muhammadiyah. Ia menuturkan, para pemuda yang menjadi korban dalam peristiwa tersebut diketahui berangkat dari Balai Muhammadiyah sebelum menuju kampung halaman mereka di Kampung Sewu.
Menurut Subari, peristiwa tersebut berkaitan dengan situasi yang melatarbelakangi tumbuhnya kesiapsiagaan di kalangan Angkatan Muda Muhammadiyah.
Ia juga menjelaskan bahwa KOKAM didirikan di Jakarta pada 1 Oktober dan pembentukannya kemudian mendapat sambutan di berbagai daerah, termasuk Surakarta. Pada masa awal perkembangannya di Solo, KOKAM dipimpin oleh Ketua Pemuda Muhammadiyah, almarhum Suwardi.
Refleksi sejarah dalam momentum Milad ke-61 ini menjadi pengingat bahwa perjalanan KOKAM tidak dapat dilepaskan dari dinamika sejarah dan perjuangan Angkatan Muda Muhammadiyah.
Merawat Sejarah, Meneruskan Perjuangan
Melalui kegiatan tersebut, PDPM Kota Surakarta dan KOKAM mengajak generasi muda untuk tidak sekadar mengenal sejarah, tetapi juga mengambil pelajaran dari perjuangan para pendahulu.
Dokumentasi sejarah melalui film, tulisan, dan berbagai media dinilai menjadi langkah penting agar peristiwa masa lalu tidak hilang dari ingatan kolektif masyarakat.
Semangat itu sejalan dengan pesan Jas Merah atau “Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah”. Sejarah bukan hanya catatan tentang masa lalu, melainkan juga pijakan untuk memahami perjalanan bangsa dan menentukan arah perjuangan pada masa mendatang.
Refleksi Milad ke-61 KOKAM di Surakarta pun menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran sejarah, menjaga nilai perjuangan, serta meneguhkan komitmen generasi muda Muhammadiyah dalam merawat persatuan dan keutuhan bangsa. (*)

