SOLO, MENARA62.COM – Keluarga Alumni SMA Negeri 7 Surakarta Angkatan 1992 (Kalmapita ’92) menutup masa kepengurusan periode Agustus 2025–Juli 2026 dengan menggelar Workshop UMKM bertajuk “Kuliner Berjaya dari Usaha Rumahan: Mengubah Resep Menjadi Rezeki” di Meet Room De Mbakoe Resto, Kamis (23/7/2026).
Kegiatan ini menjadi penanda komitmen Kabinet Lestari untuk mengubah organisasi alumni dari sekadar wadah silaturahmi menjadi ruang pemberdayaan ekonomi, kolaborasi, dan pengembangan kapasitas anggotanya. Workshop diikuti alumni Kalmapita ’92, pelaku UMKM, serta mahasiswa dari Universitas Diponegoro, Universitas Sebelas Maret (UNS), dan ITB AAS Surakarta.
Ketua Umum Kalmapita ’92, Iriana Indrawati, mengatakan pemilihan workshop UMKM sebagai penutup masa kepengurusan bukan tanpa alasan. Menurutnya, kondisi ekonomi yang dinamis membutuhkan ruang bagi masyarakat untuk belajar, berbagi pengalaman, dan membangun jejaring usaha.
“Kami ingin meninggalkan warisan yang dapat terus bertumbuh. Persaudaraan alumni akan semakin bermakna apabila mampu saling menguatkan, membuka jejaring, dan menciptakan kemandirian ekonomi bersama. Karena itu, workshop ini kami pilih sebagai penutup perjalanan Kabinet Lestari,” ujarnya.
Dorong UMKM Naik Kelas
Pada sesi pertama, Ketua Komite Tetap UMKM, Kewirausahaan, dan Koperasi KADIN Kota Surakarta, Maliyana Nur Wijayanti, S.Pd., M.M., mengajak pelaku usaha mengubah pola pikir dari sekadar berdagang menjadi membangun bisnis yang berkelanjutan.
Ia menekankan pentingnya peningkatan kualitas produk, penguatan identitas merek (branding), pemahaman perilaku konsumen, pemanfaatan pemasaran digital, serta pengelolaan usaha yang profesional.
Selain itu, inovasi, pencatatan keuangan yang baik, legalitas usaha, dan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi menjadi faktor penting agar UMKM mampu memperluas pasar dan meningkatkan daya saing.
“Usaha yang bertahan bukan selalu yang paling besar, tetapi yang paling siap beradaptasi dan terus belajar,” pesannya.
Belajar Bangkit dari Kegagalan
Sesi berikutnya menghadirkan pasangan pengusaha kuliner Lorida Ratna Sari dan Togaryan Anantyo S., pendiri Rumah Makan Sereh Ketumbar. Keduanya berbagi pengalaman membangun usaha dari dapur rumah hingga berkembang menjadi bisnis kuliner yang dikenal masyarakat.
Mereka menceritakan berbagai tantangan yang pernah dihadapi, mulai dari kegagalan usaha, penurunan penjualan, hingga keterbatasan modal. Namun, setiap hambatan dijadikan bahan evaluasi untuk memperbaiki kualitas produk, pelayanan, dan strategi bisnis.
Menurut mereka, pelanggan bukan sekadar pembeli, melainkan mitra yang harus dijaga kepercayaannya. Konsistensi rasa, pelayanan yang tulus, keterbukaan terhadap kritik, serta keberanian berinovasi menjadi kunci mempertahankan usaha.
Kisah tersebut memberikan motivasi kepada peserta bahwa kesuksesan usaha dibangun melalui ketekunan, daya juang, dan kemampuan bangkit dari setiap kegagalan.
Warisan Organisasi yang Memberdayakan
Workshop UMKM menjadi penutup rangkaian program Kabinet Lestari setelah selama setahun menghadirkan berbagai kegiatan, seperti Alumni Mengajar, kampanye #SafeSpaceForAll, Rapat Akbar Kalmapita, Gerakan Berbagi 2.000 Takjil Ramadan bersama TNI dan Polri, hingga beragam aksi sosial lainnya.
Seluruh program tersebut memiliki benang merah yang sama, yakni mengubah semangat persaudaraan alumni menjadi kontribusi nyata bagi almamater, sesama alumni, dan masyarakat.
Menjelang berakhirnya masa bakti, Iriana berharap semangat kolaborasi dan pengabdian yang telah dibangun dapat terus dilanjutkan oleh kepengurusan berikutnya.
“Teruslah mengabdi tanpa menunggu dihargai. Sebab manfaat bagi sesama adalah warisan bernilai sepanjang masa,” tuturnya.
Melalui workshop ini, Kalmapita ’92 ingin menegaskan bahwa organisasi alumni mampu menjadi pusat pembelajaran, kolaborasi, dan pemberdayaan ekonomi. Harapannya, estafet kepemimpinan selanjutnya dapat melanjutkan semangat tersebut sehingga Kalmapita tidak hanya dikenang sebagai wadah nostalgia, tetapi juga sebagai organisasi yang menghadirkan karya dan manfaat nyata bagi masyarakat. (*)

