PIDIE, MENARA62.COM – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mempercepat rehabilitasi dan rekonstruksi sekolah terdampak bencana hidrometeorologi di Aceh melalui kolaborasi bersama pemerintah daerah dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Darat.
Upaya tersebut dilakukan untuk memastikan ribuan peserta didik tetap mendapatkan layanan pendidikan yang aman dan layak meskipun sejumlah sekolah mengalami kerusakan akibat bencana.
Saat meninjau langsung progres rehabilitasi sekolah di Aceh, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menyampaikan bahwa pemerintah menargetkan sebagian besar sekolah terdampak dapat kembali digunakan pada tahun ajaran 2026/2027.
“Kami menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi Aceh, pemerintah kabupaten/kota, serta jajaran TNI AD yang telah bermitra dalam proses revitalisasi, rehabilitasi, dan rekonstruksi sekolah-sekolah terdampak bencana,” ujar Abdul Mu’ti.
Menurutnya, Kemendikdasmen juga telah menyiapkan ruang kelas darurat yang lebih representatif bagi sekolah yang masih dalam tahap pembangunan atau relokasi. Hal itu dilakukan agar kegiatan belajar mengajar tetap berjalan tanpa terhenti.
“Mudah-mudahan proses revitalisasi, rehabilitasi, dan rekonstruksi dapat diselesaikan secepatnya sehingga anak-anak Aceh dapat kembali belajar secara optimal di sekolahnya,” katanya.
190 Sekolah Direhabilitasi TNI AD
Salah satu sekolah yang menjadi sasaran rehabilitasi adalah SD Negeri Utue, Kabupaten Pidie, Aceh. Sekolah yang berdiri sejak 1984 itu mengalami kerusakan pada beberapa ruang kelas, plafon, toilet, serta sistem drainase yang menyebabkan genangan saat hujan.
Pada tahun ini, SD Negeri Utue mendapatkan anggaran sebesar Rp1,83 miliar untuk rehabilitasi tujuh ruang kelas, satu ruang perpustakaan, dua ruang administrasi, satu paket toilet beserta sanitasi, pengadaan perabot ruang kelas, perabot perpustakaan, perabot UKS, serta penataan lingkungan sekolah.
Komandan Pelaksana Rehabilitasi, Letkol Inf. Arino Vranta Sinurat, menjelaskan bahwa SD Negeri Utue merupakan bagian dari program rehabilitasi 190 sekolah terdampak bencana di Provinsi Aceh.
“Di Provinsi Aceh terdapat 190 sekolah yang direhabilitasi oleh TNI AD akibat dampak bencana hidrometeorologi. Khusus di SD Negeri Utue, kami mengerjakan tujuh ruang kelas, dua ruang administrasi, kamar mandi, pengadaan mebel, serta penataan lingkungan sekolah,” jelasnya.
Pembangunan dilakukan melalui pola swakelola tipe II dengan melibatkan tenaga profesional sipil dan personel TNI.
“Kami melibatkan delapan tenaga tukang sipil dan tiga personel TNI yang bekerja bersama agar pembangunan berjalan efektif dan selesai sesuai target,” tambah Arino.
Belajar Tetap Berjalan Saat Sekolah Dibangun
Kepala SD Negeri Utue, Suwarni, mengapresiasi proses pembangunan yang tetap memungkinkan pembelajaran berlangsung.
Ia mengatakan, siswa tidak perlu dipindahkan ke lokasi lain karena pekerjaan dilakukan secara bertahap dengan tetap memperhatikan keamanan peserta didik.
“Alhamdulillah, kami tidak perlu merelokasi siswa ke tempat lain. Pekerjaan dilakukan bertahap sehingga ruang yang masih layak dapat digunakan untuk belajar. Guru dan TNI juga bersama-sama memastikan keamanan siswa selama proses pembangunan,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, menyebut berdasarkan hasil verifikasi terdapat 2.920 sekolah terdampak bencana. Dari jumlah tersebut, 188 sekolah mengalami kerusakan berat dan 63 sekolah harus direlokasi.
“Banyak sekolah yang terlihat masih menggunakan kelas darurat bukan karena tidak ditangani, tetapi karena proses revitalisasi sedang berlangsung. Yang terpenting, pembelajaran tetap berjalan sambil pembangunan dilakukan,” jelasnya.
Siswa Antusias Sambut Sekolah Baru
Program rehabilitasi tersebut mendapat sambutan positif dari para siswa SD Negeri Utue. Mereka mengaku senang dan tidak sabar menempati ruang kelas baru setelah pembangunan selesai.
Farhan, siswa kelas 4, mengungkapkan kegembiraannya melihat sekolahnya diperbaiki.
“Senang sekali kalau sekolah kami bisa tambah bagus nanti,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Afkar, siswa kelas 4 yang bercita-cita menjadi tentara. Ia mengaku tidak sabar belajar di kelas baru.
“Saya tidak sabar untuk bisa belajar di kelas baru. Saya senang sekolah di sini,” katanya.
Siswa lainnya, Salman, juga berjanji akan terus belajar dengan giat. Kedatangan Mendikdasmen ke sekolahnya menjadi motivasi baru bagi dirinya dan teman-temannya.
“Saya akan giat belajar, bermain dengan rukun, dan menjadi anak yang pemberani,” tutur Salman.
Melalui sinergi Kemendikdasmen, pemerintah daerah, dan TNI AD, rehabilitasi sekolah di Aceh diharapkan tidak hanya memperbaiki bangunan yang rusak, tetapi juga menghadirkan kembali ruang belajar yang aman, nyaman, dan mendukung masa depan generasi muda Aceh. (*)

