YOGYAKARTA, MENARA62.COM – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan tidak cukup hanya mengandalkan kecerdasan intelektual, tetapi harus ditopang oleh keteladanan nyata dari para pemimpin dan pendidik.
Dalam refleksi Hari Pendidikan Nasional, Sabtu (2/5), Haedar menyampaikan bahwa cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana tertuang dalam konstitusi menuntut pendekatan pendidikan yang lebih menyeluruh. Menurutnya, pendidikan harus mampu membentuk manusia berkarakter kuat, berakhlak mulia, serta memiliki integritas dan kepedulian sosial tinggi.
“Pendidikan harus bersifat holistik, tidak hanya menekankan nalar dan sains, tetapi juga membangun dimensi spiritual, moral, dan tindakan nyata yang luhur,” ujarnya.
Haedar mengingatkan bahwa Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional telah menegaskan tujuan pendidikan untuk mengembangkan potensi peserta didik secara utuh. Karena itu, pendidikan tidak boleh direduksi hanya pada capaian akademik semata.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa keteladanan para elite bangsa menjadi faktor krusial dalam membentuk karakter generasi muda. Menurutnya, masyarakat cenderung meniru perilaku pemimpinnya, sehingga figur teladan menjadi rujukan utama dalam kehidupan sosial.
“Jika para pemimpin menunjukkan keteladanan yang baik, masyarakat akan meniru secara positif. Sebaliknya, ketika keteladanan hilang, maka hilang pula rujukan kebajikan di negeri ini,” tegasnya.
Haedar juga mengutip pesan pendiri Muhammadiyah, Ahmad Dahlan, tentang pentingnya kepemimpinan yang mencerahkan dan mengayomi. Selain itu, ia menilai filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara tetap relevan, khususnya prinsip “Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani.”
Momentum Hari Pendidikan Nasional, lanjutnya, harus dimanfaatkan sebagai refleksi bersama untuk menghidupkan kembali budaya keteladanan dalam dunia pendidikan dan kehidupan berbangsa. Guru, orang tua, hingga pemimpin di berbagai sektor dinilai memiliki tanggung jawab besar dalam memberikan contoh nyata.
“Apalah arti pendidikan tanpa keteladanan sebagai role model? Kata-kata tentang pentingnya sumber daya manusia akan kehilangan makna jika tidak diwujudkan dalam tindakan nyata,” katanya.
Ia juga menyoroti kebutuhan generasi muda saat ini, termasuk Generasi Z dan Alfa, terhadap figur teladan yang autentik, bukan sekadar simbol atau retorika di ruang publik maupun media sosial.
Menutup pernyataannya, Haedar mengajak seluruh elemen bangsa untuk membangun gerakan keteladanan secara kolektif, dimulai dari para pemimpin sebagai pusat pengaruh.
“Keteladanan bukan sekadar jargon. Kuncinya sederhana: kata sejalan dengan tindakan, yang luhur dan serba utama,” pungkasnya. (*)

