33 C
Jakarta

Kopi Subuh

Baca Juga:

Suhu udara di kota Takengon sungguh dingin. Kaus lengan panjang dan jaket tebal yang saya pakai hanya sedikit menolong. Padahal, hujan malam itu telah menyebabkan suhu tidak sedingin biasanya.

Selepas shalat subuh, saya putuskan jalan kaki menyusuri kawasan niaga dari Hotel Bayu Hill hingga Simpang Empat. Jaraknya sekitar 2 Km. Saya mencari kopi panas. Pada pagi hari yang dingin, menyeruput segelas kopi sanger yang hangat pasti nikmat.

Sepanjang jalan saya lihat banyak warung kopi. Dari kelas kaki lima hingga cafe yang besar. Tapi belum ada satu pun yang buka. Bahkan kilang kopi Aman Kuba yang legendaris itu pun masih tutup.

Saya merasa heran. Mengapa di pusat perdagangan kopi Gayo tidak ada warung kopi yang buka pagi hari? Padahal kegiatan masyarakat sepagi itu sudah ramai.

Di SPBU satu-satunya di kawasan itu, ratusan truk mengantre sejak tengah malam. Bukan karena kehabisan BBM. Tapi menunggu jam pelayanan. Saya bisa membayangkan, para driver truk itu pasti kedinginan.

Sekitar pukul 07:00, barulah saya menemukan warung kopi Mila. Lokasinya persis di perempatan Simpang Empat. Saat saya masuk, sudah ada tiga orang tamu yang sedang menyeruput kopi sanger.

Usai ngopi saya kembali ke hotel. Di lobi sudah ada Rahmat dan Nikmah, kawan satu almamater di Undip. Juga teman di grup whatsapp alumni. Tapi belum pernah berjumpa.

Nikmah yang asli Magelang alumni fakultas hukum. Rahmat yang asli Takengon alumni fakultas ekonomi. Pasangan suami-istri yang menetap di Takengon itu dikaruniai satu anak berusia 10 tahun.

Rahmat, ternyata masih keluarga dekat Hasyim, pendiri kilang kopi Aman Kuba yang sangat kesohor sejak zaman penjajahan Belanda itu. Usaha yang digeluti Rahmat pun tidak jauh-jauh dari kopi.

Rahmat punya kebun kopi sendiri. Hasil panennya diolah menjadi roasted bean dengan merk Owen Coffee. Ia ingin mengembangkan usaha kopinya. ”Mengapa tidak membuka kopi subuh di Takengon?” tanya saya.

Ternyata Rahmat sudah punya rencana yang sama. Ia sudah sering mendengar keluhan para pendatang yang kesulitan menikmati kopi Gayo yang top markotop itu pada pagi buta. ”Saya memang sedang mencari-cari model bisnisnya,” terang Rahmat.

Saya kemudian bercerita tentang konsep usaha kopi kekinian Kupielon dan Kopi Gunung Halu yang dikembangkan Teh Rani Mayasari di Bandung. Kupielon sebagai kanal distribusi. Kopi Gunung Halu sebagai sumber bahan baku. Meningkatnya penjualan Kupielon akan mendongkrak penjualan kopi Gunung Halu.

”Sepertinya Kupielon dan kopi Gunung Halu ini menarik. Kami punya kebun sebagai sumber bahan baku. Tapi kami belum mengembangkan coffee shop sebagai lini pemasaran. Kami perlu belajar dari Teh Rani,” timpal Nikmah.

- Advertisement -

Menara62 TV

- Advertisement -

Terbaru!