27.4 C
Jakarta

Libatkan SMA Muhammadiyah se-Kota Depok, Uhamka Gelar Diskusi Pengembangan Kawasan Tanpa Rokok

Baca Juga:

DEPOK, MENARA62.COM– Cegah makin banyaknya remaja menjadi perokok, Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (Uhamka) gelar diskusi terkait pengembangan kawasan tanpa rokok. Kegiatan bertema Peningkatan Kapasitas Pimpinan Sekolah dan Siswa Dalam Mewujudkan Kawasan Bebas Asap Rokok Pada Sekolah Menengah Atas Muhammadiyah se-Kota Depok digelar melalui skema Pemberdayaan dan Pengabdian Masyarakat Uhamka dan bekerjasama dengan Majelis Dikdasmen PDM Kota Depok.

Ada enam SMA Muhammadiyah yang ambil bagian dalam diskusi tersebut. Yakni SMK Muhammadiyah 1, MA Darul Arqam, SMA Muhammadiyah 1, SMA Muhammadiyah 2 Beji Timur, SMA Muhammadiyah 4 dan SMA Muhammadiyah 7.

Setelah diskusi dengan pimpinan sekolah, selanjutnya tim pengabdian masyarakat melakukan kunjungan ke enam sekolah tersebut untuk melakukan penyuluhan kepada siswa serta pemberian spanduk Kawasan Tanpa Rokok kepada sekolah.

Ahmadi selaku Ketua Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah PDM Kota Depok, serta seluruh Pimpinan Sekolah yang terlibat dalam kegiatan menyambut baik dan mendukung kegiatan tersebut.

Tim pengabdian masyarakat terdiri dari dosen yang berasal dari Prodi Kesehatan Masyarakat dan Prodi Gizi UHAMKA, Yuyun Umniyatun, SKM, MARS, selaku Ketua Tim dan M. Iqbal Nurmansyah, M.Sc. dan Miftahul Jannah, M.Gizi selaku anggota tim.

Yuyun mengatakan bahwa kegiatan ini menjadi bentuk sinergisitas antar Amal Usaha Muhammadiyah serta menjadi salah satu upaya FIKES UHAMKA untuk mewujudkan masyarakat sehat dan berkemajuan.

Berbagai studi menyatakan bahwa perilaku merokok menjadi penyebab berbagai penyakit seperti kanker, penyakit jantung dan penyakit paru obstruktif kronis. Karena itu kasus-kasus penyakit tersebut cenderung meningkat dalam beberapa tahun terakhir ini.

Tim Pengabdian Masyarakat Uhamka gelar sosialisasi kawasan tanpa rokok

Mengutip Data World Health Organization bahwa pada tahun 2015, Indonesia menjadi salah satu Negara dengan prevalensi perokok tertinggi di dunia.

“Kondisi tersebut menjadi semakin buruk mengingat bahwa kebanyakan perokok ialah masyarakat dengan kelas ekonomi menengah kebawah,” jelas Yuyun.

Data Kementerian Kesehatan menyebutkan bahwa usia pertama kali merokok ialah usia 18 tahun. Prevalensi remaja usia 16-19 tahun yang merokok meningkat 3 kali lipat dari 7,1% di tahun 1995 menjadi 20,5% pada tahun 2014.

Kota Depok menjadi salah satu kota dengan prevalensi perokok pelajar yang cukup tinggi dimana berdasarkan data yang diperoleh peneliti dari Universitas Indonesia, disebutkan bahwa prevalensi pelajar yang merokok di Kota Depok mencapai 23,4% dimana angka tersebut lebih tinggi daripada rata-rata prevalensi di tingkat nasional.

Beberapa alasan mengapa remaja mulai merokok jelas Yuyun adalah ingin terlihat keren, dewasa dan dapat diterima di komunitasnya serta percaya bahwa merokok dapat mengurangi stress.

“Pengaruh dari teman sebaya serta keberadaan iklan rokok juga menjadi faktor yang tidak kalah penting dalam mempengaruhi remaja untuk merokok,” tukasnya.

Kegiatan pengembangan kawasan tanpa rokok tersebut dimulai dengan mengadakan diskusi bersama pimpinan sekolah Muhammadiyah tanggal 13 Desember 2017 di Kota Depok.

- Advertisement -

Menara62 TV

- Advertisement -

Terbaru!