32.1 C
Jakarta

Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia UM Purwokerta Diminta Tampil di Jogja

Baca Juga:

PURWOKERTA, MENARA62.COM — Keluarga besar Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah (UM) Purwokerto patut berbangga. Pasalnya, mahasiswanya sukses memberikan pertunjukan istimewanya bertajuk Dramaturgi A3, yang merupakan acara tahunan dalam rangka merampungkan studi matakuliah Dramaturgi. Keberhasilan pementasan ini, membuat mereka mendapat undangan tampil di Yogyakarta, Jumat (21/7/2017).

Sebelumnya, pertunjukan teater yang bertempat di Auditorium Ukuwah Islamiyah, Selasa-kamis (13-15/6/2017) dihadiri para penikmat dan penggeliat seni teater dan sastra yang datang dari dalam dan luar kota.

Di bawah naungan Edi Romadhon dan Sony Asmoro selaku dosen pengampu, mahasiswa penempuh matakuliah ini diasah untuk mampu terjun secara langsung dalam proses kreatif kinerja produksi pementasan.Pementasan ini merupakan salah satu mata kuliah wajib, dramaturgi, yang berjumlah 2 SKS dengan melibatkan seluruh mahasiswa semester 6 angkatan 2014.

Sony mengatakan, persaingan menjadi guru semakin ketat, hal itu ditandai dengan makin banyaknya lulusan PBSI dari kampus lain. Oleh karenanya, mahasiswa UMP harus ada nilai lain yang bisa diunggulkan yaitu peningkatan softskill.

“Salah satu upaya kami untuk menambah keterampilan menjadi guru bahasa dan sastra Indonesia yaitu mempunyai keterampilan lebih dalam berteater, membaca puisi, dan terlibat kesenian lain,” ujarnya.

Pertunjukan dihadiri langsung oleh Tri Wintolo, orang yang sering mendampingi pementasan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun dengan Kyai Kanjengnya. Dramaturgi pada tahun ini menampilkan pementasan yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, yakni menampilkan tiga pementasan teater.

Tiga pementasan itu merupakan naskah penulis Nasional yaitu Balanda Orang-orang Terusir karya Aryaguna yang disutradarai oleh Laeli Nurul J.N, Lautan Jilbab, karya Emha Ainun Najib (Cak Nun yang disutradarai oleh Diana Risshinga, serta Sang Bedaya (adaptasi novel Ronggeng Dukuh Paruk) karya Akhmad Tohari yang disutradarai oleh Faqih Irvan Asyafi.

Dalam pementasannya Tri Wintolo yang sudah kesekian kali mendampingi pementasan Emha Aintun Nadjib (cak Nun) memberikan apresiasi kepada para peserta.

“Pentas malam ini merupakan pentas terbaik selama 10 tahun terakhir dari sejumlah perguruan tinggi. Saya siap menjadi mediator untuk mahasiswa yang tampil sukses malam ini bisa tampil di UGM,” katanya.

Ia akan mengenalkan pentas apik malam ini pada Prof  Dr Faruk HT (Pusat Studi Kebudyaan UGM), untuk diberi kesempatan tampil di kota budaya,  Yogyakarta,  khususnya di UGM dan akan disaksikan secara langsung oleh Emha Ainun Nadjib beserta istri.

Acara pementasan berlangsung dengan lancar dan berhasil memukau penonton yang hadir. Banyak pujian datang dan diberikan para dosen yang menonton.

Tim produksi dramaturgi Wiladan Aji mengatakan, pementasan ini berlangsung dengan lancar dan dapat memukau penonton yang hadir. hal ini dapat terlihat dari pujian yang diberikan oleh dosen penonton.

“Kritik dan saran membangun juga disampaikan untuk kebaikkan pementasan dramaturgi mendatang,” katananya.

–Tegar Roli–

- Advertisement -

Menara62 TV

- Advertisement -

Terbaru!