Mahasiswa Psikologi UMS Dampingi Penyintas Gempa NTT

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id Bramantyo Wijaya Kusuma terjun langsung dalam misi kemanusiaan bersama Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Jawa Tengah untuk mendampingi penyintas gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Selain menyalurkan bantuan kebutuhan dasar, relawan juga memberikan pendampingan psikososial bagi anak-anak terdampak bencana.

 

Bramantyo bersama rombongan relawan bertolak menuju lokasi bencana pada 8 September 2026 menggunakan armada mobil. Perjalanan darat dan laut yang ditempuh membutuhkan waktu hingga 39 jam sebelum rombongan tiba di Pelabuhan Bung Karno, Ende.

 

Perjalanan belum berakhir. Setibanya di Ende, para relawan masih harus menempuh perjalanan darat selama 12 jam menuju posko layanan di Desa Mbay 1, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo.

 

“Setibanya di pelabuhan, kami para relawan masih harus menempuh perjalanan darat selama 12 jam menuju titik posko layanan di Desa Mbay 1, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo,” kata Bramantyo, Kamis (22/10/2026).

 

Rombongan resmi tiba di posko yang berpusat di Klinik Utama Muhammadiyah Ende pada 10 September 2026. Sehari kemudian, tim melakukan asesmen dan observasi lapangan untuk mengidentifikasi kebutuhan mendesak masyarakat sekaligus memetakan kondisi layanan yang telah berjalan.

 

Proses tersebut diperkuat melalui koordinasi dengan MDMC Flores Timur dan Ketua Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Nagekeo. Langkah ini dilakukan untuk mengidentifikasi kendala di lapangan dan menentukan bentuk bantuan yang sesuai dengan kebutuhan penyintas.

 

Dirikan Hunian Darurat hingga Salurkan Bantuan Sekolah

 

Pada 12 September 2026, relawan MDMC Jawa Tengah mulai mendirikan hunian sementara dan menyalurkan bahan pangan pokok kepada warga terdampak gempa.

 

“Pendirian hunian darurat merupakan kegiatan awal yang kami lakukan sebagai tempat singgah sementara bagi para penyintas,” ujar Bramantyo.

 

Upaya pemulihan tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan fisik. Tim juga memberikan perhatian terhadap kondisi psikologis anak-anak yang terdampak bencana melalui pendampingan intensif.

 

Pada 13 September 2026, relawan menggelar layanan kesehatan gratis. Kegiatan tersebut dilanjutkan dengan perancangan program edukasi keselamatan gempa dan penyaluran bantuan peralatan sekolah. Sehari berselang, tim berkoordinasi dengan pengelola sekolah untuk memastikan pelaksanaan program sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

 

Puncak kegiatan psikososial berlangsung pada Jumat (18/9/2026) di MTsN Nagekeo. Dalam kegiatan itu, relawan memberikan edukasi mengenai langkah-langkah menyelamatkan diri saat terjadi gempa sekaligus menyalurkan sekitar 500 paket alat tulis atau school kit dari MDMC Jawa Tengah.

 

Bramantyo mengungkapkan, kondisi bangunan sekolah di wilayah terdampak masih memprihatinkan sehingga kegiatan belajar mengajar belum dapat berlangsung secara normal.

 

“Gedung sekolah belum bisa dipakai untuk kegiatan belajar karena banyak bagian tembok yang retak dan plafon ambruk,” tuturnya.

 

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dampak gempa tidak hanya menyentuh aspek keselamatan dan tempat tinggal, tetapi juga mengganggu keberlangsungan pendidikan anak-anak.

 

Karena itu, bantuan perlengkapan sekolah dan edukasi kebencanaan menjadi bagian penting dari upaya mendukung pemulihan aktivitas pendidikan sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana.

 

Pulihkan Semangat Anak Melalui Kegiatan Kreatif

 

Rangkaian misi kemanusiaan ditutup pada Minggu (20/9/2026) melalui edukasi gempa dan lomba mewarnai bertema keindahan alam. Kegiatan tersebut diikuti 16 anak berusia 4–12 tahun.

 

Lomba mewarnai dirancang sebagai sarana hiburan sekaligus ruang bagi anak-anak untuk kembali merasakan suasana menyenangkan di tengah situasi pascabencana. Kegiatan ini juga menjadi pengganti perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang terhenti akibat gempa.

 

Melalui rangkaian aksi tersebut, keterlibatan Bramantyo sebagai mahasiswa Psikologi UMS bersama MDMC Jawa Tengah memperlihatkan pentingnya pendekatan kemanusiaan yang menyeluruh dalam penanganan bencana.

 

Pemulihan penyintas tidak cukup dilakukan melalui bantuan pangan, hunian sementara, dan layanan kesehatan. Pendampingan psikososial, edukasi keselamatan, serta dukungan terhadap keberlangsungan pendidikan juga menjadi bagian penting untuk membantu masyarakat bangkit setelah bencana. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!