35 C
Jakarta

Mahasiswa UMS Raih Perunggu JDIE 2026 Lewat Inovasi PharmaSwift

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id meraih medali perunggu dalam ajang Japan Design, Idea and Invention Expo (JDIE) 2026 melalui inovasi teknologi kefarmasian bernama PharmaSwift: Reducing Waits, Delivering Care. Berbasis Internet of Things (IoT), alat ini dirancang untuk mempercepat proses penyiapan obat berdasarkan resep dokter sekaligus meningkatkan efisiensi pelayanan kesehatan.

 

Inovasi tersebut berangkat dari keresahan mahasiswa terhadap lamanya waktu tunggu pasien saat menebus obat. Dalam proses konvensional, apoteker perlu mengambil dan menyiapkan obat satu per satu sesuai resep serta dosis yang telah ditentukan.

 

Ketua tim pengembang PharmaSwift, Satria Gemilang Kusuma Perdana dari Program Studi Teknik Mesin UMS, mengatakan gagasan itu muncul dari pengalaman melihat proses penyiapan obat yang membutuhkan waktu cukup lama.

 

“PharmaSwift ini berawal dari keresahan kami sebagai mahasiswa. Ketika melakukan pemeriksaan kesehatan, waktu tunggu atau peracikan obat memakan waktu cukup lama. Dari situ, kami berpikir bagaimana membuat sebuah alat yang bisa meracik berdasarkan resep menjadi satu bentuk obat yang sesuai dengan resep tersebut,” jelas Gemilang, Selasa (13/10/2026).

 

Libatkan Mahasiswa Lintas Disiplin

 

Pengembangan PharmaSwift melibatkan mahasiswa dari berbagai program studi untuk menggabungkan keahlian teknik, kesehatan, dan farmasi.

 

Tim tersebut terdiri atas Satria Gemilang Kusuma Perdana dari Program Studi Teknik Mesin; Maulia Hidayah dari Program Studi Gizi, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK); Muhammad Akmal Indratma dari Program Studi Teknik Mesin, Fakultas Teknik (FT); Faiz Al Erza dari Program Studi Kedokteran, Fakultas Kedokteran (FK); Bilqis Khans dari Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknik; serta Dani Hendrawan dari Program Studi Farmasi, Fakultas Farmasi (FF).

 

Pengembangan inovasi ini juga mendapat pendampingan dari dosen pembimbing Ir. Muhammad Al Fatih Hendrawan, S.T., M.T.

 

Dalam pengembangannya, PharmaSwift memanfaatkan mikrokontroler ESP32 sebagai pusat kendali sistem. Perangkat ini dilengkapi sejumlah sensor untuk mendukung operasional alat, mulai dari sensor udara, sensor kelembapan, sensor pendeteksi jumlah obat yang dikeluarkan, hingga komponen pendukung proses sterilisasi obat.

 

Kombinasi teknologi tersebut dirancang untuk membantu proses penyiapan obat agar lebih efisien dan terukur.

 

Terintegrasi dengan MedLink Smart

 

PharmaSwift juga dirancang terintegrasi dengan inovasi sebelumnya, yakni MedLink Smart. Kedua sistem tersebut memiliki fungsi yang saling melengkapi dalam mendukung pelayanan kesehatan, mulai dari registrasi pasien hingga penyiapan obat berdasarkan resep dokter.

 

Alur pelayanan dimulai ketika pasien melakukan registrasi dan pemeriksaan kesehatan. Selanjutnya, dokter memasukkan informasi kondisi pasien beserta resep obat melalui situs web yang telah disediakan.

 

Resep tersebut kemudian terhubung dengan sistem yang dapat diakses apoteker untuk diperiksa kembali. Setelah resep dinyatakan sesuai, apoteker dapat mengirimkan instruksi ke perangkat PharmaSwift untuk memulai proses penyiapan obat secara otomatis.

 

Perangkat ini bekerja dengan mendeteksi resep dan menyalurkan obat ke dalam baki atau tray sesuai mekanisme yang dirancang. Dengan demikian, proses penyiapan obat dapat dibantu oleh sistem, sehingga apoteker berpeluang lebih fokus pada verifikasi resep dan aspek keselamatan pasien.

 

Gemilang menegaskan, kehadiran PharmaSwift bukan untuk menggantikan peran apoteker dalam pelayanan kesehatan.

 

Menurut dia, apoteker tetap memegang peran penting dalam memastikan kesesuaian obat dan dosis dengan usia serta kondisi pasien. Pemeriksaan juga diperlukan untuk mempertimbangkan kemungkinan alergi terhadap obat tertentu.

 

“Setelah resep dinyatakan sesuai, apoteker dapat mengirimkannya ke perangkat PharmaSwift untuk diproses secara otomatis,” kata Gemilang.

 

Dengan mekanisme tersebut, PharmaSwift dikembangkan sebagai perangkat pendukung yang mengintegrasikan teknologi dengan pengawasan tenaga profesional, bukan sebagai pengganti keputusan klinis apoteker.

 

Dikembangkan Selama Tiga Bulan

 

Di balik pencapaian medali perunggu JDIE 2026, tim membutuhkan waktu sekitar tiga bulan untuk mengembangkan PharmaSwift. Proses tersebut mencakup pencarian gagasan, persiapan, hingga pembuatan inovasi.

 

Meski berhasil meraih penghargaan di ajang internasional, tim menilai waktu pengembangan yang tersedia masih terbatas untuk menyempurnakan kemampuan perangkat.

 

Tambahan waktu riset diharapkan dapat membuka peluang untuk meningkatkan kinerja sistem dan mengembangkan fitur-fitur baru agar PharmaSwift semakin optimal dalam mendukung pelayanan kefarmasian.

 

“Persiapan tiga bulan itu masih terlalu mepet untuk kami. Kalau bisa diberi waktu lebih lama lagi, mungkin kami akan mengembangkan PharmaSwift lebih lanjut,” ungkapnya.

 

Pencapaian ini menjadi pengalaman penting bagi mahasiswa UMS dalam mengembangkan inovasi lintas disiplin yang menghubungkan teknologi dan kebutuhan nyata di bidang kesehatan. Ke depan, PharmaSwift diharapkan dapat terus disempurnakan agar berpotensi mendukung pelayanan obat yang lebih efisien, tanpa mengesampingkan ketelitian dan keselamatan pasien.(*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!