26.7 C
Jakarta

Makanan Halal dan Troli Berbayar di Wollongong

Baca Juga:

Sebagai Muslim, tidak menjadikan makanan halal sebagai sesuatu yang sulit dicari meskipun berasa di kawasan minoritas, di Wollongong, New South Wales, Australia. Walaupun kita tidak mudah mendapatkannya, tetapi harus dengan niat yang tulus mencari, maka makanan halal itu dapat diperoleh dengan penuh dinamika.

Makanan halal adalah makanan yang dibenarkan dalam agama Islam. Makanan halal terdiri atas zatnya dan yang kedua adalah cara mengelolanya. Diantara kita, masih ada yang hanya menganggap makanan haram karena zatnya saja, sedangkan dari cara pengolahannya cenderung diabaikan atau tidak dianggapnya sebagai sesuatu yang bermasalah. Padahal keduanya adalah penting.

Makanan yang tidak halal dari sisi zatnya sudah jelas nama-nama hewannya dan sesuatu yang disembelih tidak dengan sesuai syariat. Kemudian, zat yang halal bisa menjadi haram jika terjadi percampuran diantara keduanya. Baik campuran itu sedikit atau banyak. Maupun, jika proses itu disengaja atau tidak. Jika sudah diketahui, makanan itu haruslah dihindari.

Misalnya, alat menyembelih, alat memotong, alat memasak, bertemu dalam satu bungkusan, tangan yang memegang antara kedua zat berkenaan, dan seterusnya.

Sebagai Muslim, tentu harus memerhatikan yang demikian. Kita tidak langsung makan sembarangan dengan alasan sulit, atau tidak tahu, tidak ada, dan seterusnya. Kita harus berusaha dan berikhtiar dulu. Jangan sampai, kita hanya mencari mudahnya saja. Memang dalam Islam, ada juga hukum kedaruratan yang membolehkan sesuatu dalam keadaan tertentu. Islam memang mudah, tapi jangan sengaja dimudah-mudahkan.

Demikianlah, kami di sini tentu berusaha mencari makanan yang halal. Paling mudah adalah dengan cara belanja dan memasak sendiri. Jika belanja di restoran atau kedai, biasanya akan kesulitan jika mau makanan jadi atau siap saji, juga makanan ringan. Kecuali misalnya hanya minuman atau buah-buahan.

Jika mau beli roti dan makanan ringan, mesti hati-hati. Perhatian baik-baik kontennya. Harus dibaca dulu zat yang menjadi bahan baku pembuatannya. Dalam pembungkus, selalu ada penjelasan tentang sumber atau bahan bakunya, lengkap dengan kapasitas. Jika ada zat yang tidak halal, tentu hal itu menjadi haram bagi kita. Anak-anak biasa tidak memerhatikan ini, disinilah pentingnya peran kita sebagai orang tua.

Belanja Sendiri

Untuk kebutuhan sehari-hari, kami belanja sendiri. Misalnya pada hari ini, setelah mengantar anak ke sekolah. Kami pergi belanja ke bebeberapa toko bahan makanan, biasanya untuk persiapan selama satu minggu.

Mulanya kami belanja di daerah Gipps road, Gwynneville. Tak jauh dari sekolah anak kami, bisa ditempuh jalan kaki sekitar 10 menit. Di sini, terdapat beberapa toko dengan berbagai jenis jualan. Ada juga cafe terbuka, yang mengeluarkan bau kopi yang harum semerbak dengan rasa menggoda.

belanja makanan halal
Belanja makanan halal.

Pertama kami belanja di toko Lana food. Di toko ini semua bahan makanan adalah halal. Penjualnya keturunan Arab. Hampir semua dijual adalah bumbu masakan. Mulai dari bumbu untuk gulai daging, kari ayam, dan berbagai jenis masakan Arab.

Satu hal yang membuat saya terkesima adalah bumbu berupa jeruk nipis yang dikeringkan, bentuknya tetap utuh bulat sebesar bola pimpong. Dalam satu kantong plastik ada delapan buah. Harganya sekitar Rp 30 ribu per kantong. Katanya biasa dipakai untuk menambah rasa nasi Arab, nasi kebuli.

Ya, jeruk nipis yang dikeringkan. Heran saya. Padahal di belakang rumah di Bakung Gowa, hampir puluhan buah jeruk berjauhan setiap hari. Jika saya tak bawa ke kampus atau kasikan tetengga, maka akan busuk begitu saja. Ternyata jeruk nipis yang dikeringkan dengan kulitnya, dapat menambah rasa nasi kebuli.

Saya juga salut dengan sang pemilik toko yang keturunan Arab ini. Dia membantu mengangkatkan barang belanjaan seorang nenek hingga ke halte bus yang agak jauh. Ada sekitar 10 menit dia tinggalkan kami berdua dengan nyonya dalam toko. Saya juga sempat numpang ke kamar kecilnya. Bersih dan bagus.

Kemudian tak jauh dari toko Arab ini, kami masuk ke toko YiJia, milik keturunan Cina. Di sini kami belanja sayur-sayuran dan bumbu segar seperti bawang merah dan tomat. Di toko ini, banyak juga makanan halal, sebagian besar diimpor dari Thailand dan Malaysia.

Dari kedua negara tersebut tentu ada label halalnya. Khususnya dari Thailand, saya jadi teringat peran cucu KH Ahmad Dahlan, yakni Prof Winai Dahlan, seorang tokoh makanan halal di Bangkok.

Misalnya adalah ikan kaleng dan minuman kemasan seperti teh tarik, Thai Tea, dan milo. Ada juga ikan kering dalam kemasan, ikan bilis. Dan banyak lagi. Sayang sekali, di toko ini, produk dari Indonesia terbatas, kecuali mie goreng produksi Indofood.

Lalu kami naik bus sekitar lima belas menit ke kawasan lain, masih dalam Kota Wollongong. Tepatnya di kawasan Fairy Meadow di tiga toko, berturut turut supermarket Aldi, toko daging halal OzHeart dan supermarket Woolworths.

Troli Berbayar
Troli Berbayar

Pada ketiga tempat yang masih berdekatan tersebut, kami masih belanja bahan makanan sehari-hari. Seperti buah-buahan segar dan sayuran. Di sini belanja, agak aneh. Untuk memakai troly, harus membayar sekitar lima ribu Rupiah. Mengapa harus membayar?

Ini untuk memaksa orang membawa keranjang sendiri, sehingga mengurangi pemakaian kantong plastik. Jika tidak bawa kantongan, silahkan tenteng sendiri.

Di sini warga lokal tidak malu menenteng telur atau belanjaan lainnya naik dalam bus. Itulah bentuk partisipasi pihak supermarket dalam mengantisipasi banyaknya sampah plastik di lautan dan mengurangi pemanasan global atas pembakaran sampah.

Sedangkan di toko OzHeart, kami belanja daging halal. Toko kecil, ukuran 5×7 meter. Di sini memang menjual daging halal seperti sapi, kambing, dan ayam, yang segar. Semua disembelih sesuai syariat Islam. Dikelola oleh keturunan Arab. Mereka juga menjual roti Arab, bumbu dan kurma. Ada juga roti Pakistan yang ukurannya seperti piring besar.

Daging Halal di Wollongong
Daging Halal di Wollongong.

Ketika belanja di toko daging halal ini, tampaknya nyonyaku sudah familiar dengan pengelolanya. Langsung saja mereka saling sapa seolah-olah sudah saling kenal lama. Ternyata nyonyaku sudah langganan di sini. Bahkan istri sang kasir, teman kuliahnya di UoW. Yang menarik adalah, meskipun ini toko daging halal, beberapa orang warga lokal yang tidak pakai jilbab, pun datang ke situ belanja daging. Bahkan ada seorang ibu dengan pakaian minum sambil mendorong bayinya, belanja di sini. Padahal di sampingnya ada juga supermarket Woolworths yang juga menjual daging. Memang di sini, kepercayaan warga terhadap makanan halal, terutama daging semakin tinggi.

Di supermarket Aldi, tadi saya melihat banyak buah-buahan segar. Seperti pepaya dan nenas. Di sisi pepaya dipatok dengan harga 40 -50 ribu per kg, demikian juga nenas. Padahal di pasar Minasamaupa Gowa, harganya hanya 5-10 ribu Rupiah per buah. Buah-buahan tersebut disebut berasal dari Thailand.

Saya kembali heran, kenapa bukan dari Enrekang atau Pinrang? Padahal di sana, buah tersebut tumbuh dengan subur. Sekiranya dari daerah tersebut diimpor ke sini, tentu semakin meningkatkan kesejahteraan petani. Kesejahteraan rakyat Indonesia. Ini menjadi tantangan kita semua.

Penulis:Haidir Fitra Siagian, Gwynneville, Rabu (12/6/2019), ba’da Isya

- Advertisement -

Menara62 TV

- Advertisement -

Terbaru!