27.2 C
Jakarta

Memberi Inspirasi Dunia Akademisi

Masalah Ekonomi Bukan Hambatan Sukses

Baca Juga:

Weni Hastuti SKep MKes. Weni menjadi tokoh inspiratif. Ia menularkan inspirasi bagi semua mahasiswanya, disamping itu ia juga dikenal sebagai sosok pekerja keras dan menjadi teladan bagi pengelola Institusi PTS Kesehatan di Solo Raya.

Berangkat dari keluarga yang sederhana, Weni Hastuti, wanita kelahiran Sragen, April 1978 lalu memupuk mimpi untuk meraih sukses.

Tinggal di Desa Plumbungan Kabupaten Sragen, Weni tumbuh menjadi wanita yang dikenal cerdas meskipun berasal dari keluarga yang sederhana atau kurang mampu secara ekonomi.

Hal itu tidak menjadikan halangan bagi Weni untuk memupuk asa meraih sukses. Bahkan, sejak SMP dia rela membuat batu bata untuk membantu ekonomi keuarganya, dan berangkat ke sekolah bersepeda onthel sejauh 12 kilometer setiap hari.

Weni saat ditemui Kamis (28/3/2019) mengatakan, orang tuanya adalah seorang buruh kuli panggul yang berpenghasilan jauh dari cukup, sehingga dirinya sejak kecil dididik hidup serba sederhana.

Awal kesuksesannya bermula saat dia masuk kuliah di Akper yang sekarang Stikes PKU Muhammadiyah pada tahun 2000 silam. Tinggal jauh dari orang tuanya Weni harus hidup di Asrama kampus.

Weni menceriterakan tantangan hidupnya waktu kuliah pertama kalinya. “Saat itu tetangga ada yang bilang pada ibu saya, untuk makan saja susah kok memaksakan diri menguliahkan saya,” ujarnya.

Beratnya masa lalu Weni bukan hanya itu saja, bahkan untuk mandi saja harus menumpang ke rumah tetangga, kebetulan keluarganya belum memiliki kamar mandi.
Dia mengakui saat saat itu merupakan masa sulit, bahkan saat tinggal di Asrama dia rela berpuasa karena uang saku yang terbatas untuk makan.

“Kalau saya tidak puasa pasti uang saya tidak cukup, kadang saya makan cukup nasi ditaburi garam agar tetap bisa makan dan uang cukup untuk iuran tugas-tugas kuliah,” ujar weni.

Namun, perjuangan itu tidaklah sia-sia. Ibu dua anak ini sukses meraih mimpinya hingga lulus Magister Kesehatan dan saat ini sedang melanjutkan studinya pada program doktoral di Management and Science University (MSU) Malaysia. Saat ini Weni menjabat sebagai Ketua Stikes PKU Muhammadiyah sejak 2012 lalu.

Selain itu, rentetan jabatan diembannya saat ini, mulai dari Wakil Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi) Jawa Tengah, Sekretaris Dewan Pertimbangan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Surakarta, Dewan Penasehat pada Ikatan Perawat Kesehatan Jiwa Indonesia (lPKJI ) Jawa Tengah. Sejak tahun 2015 menjadi Ketua Himpunan Perguruan Tinggi Kesehatan (HPTKes) Tingkat Propinsi Jawa Tengah.

Dibawah kepemimpinan Weni Hastuti, Stikes PKU mengalami banyak kemajuan, semua prodi di tahun 2016 mendapatkan akreditasi B, hingga diraihnya Akreditasi Institusi B dari BAN-PT tahun 2017. Di tahun 2018 Stikes PKU Muhammadiyah Surakarta berhasil mendapatkan 4 SK prodi baru sekaligus, yakni Sarjana Terapan Keperawatan Anestesiologi, Teknologi Rekayasa Elektromedis, S1 Keperawatan Anestesiologi dan Prodi Pendidikan Profesi Ners.

Disamping itu mulai tahun 2015 stikes PKU Muhammadiyah Surakarta semakin sering memenangkan berbagai Hibah dari Menristek Dikti mulai dari hibah penelitian dan pengabdian Dosen, hibah PKM, hibah Program Pengembangan PTS serta Hibah Internasional dari USAID. Dan yang tidak kalah pentingnya tahun 2019 Stikes PKU Muhammadiyah Surakarta dibawah kepemimpinan Weni Hastuti akan beralih bentuk menjadi Institut Teknologi Sains dan Kesehatan PKU Muhammadiyah Surakarta, yang saat ini tinggal menunggu SK.

Weni berpesan agar semua anak muda untuk tetap bisa melanjutkan pendidikannya. Menurutnya hal itu harus terus dilakukan untuk mengejar mimpi dan mengangkat derajat orang tua. “Yang jelas masalah ekonomi bukanlah hambatan untuk menuju sukses,” ujar dia.

“Perkembangan yang pesat di Stikes PKU Muhammadiyah Surakarta saat ini tidak lepas pula dari kemudahan dan pertolongan dari Allah SWT. Kami berusaha untuk menjadi yang terbaik dan menjadi rujukan dari PTS kesehatan baik tingkat regional maupun Nasional dan alhamdulillah di tahun ini bisa dikatakan terbukti dengan indikator selama tahun 2018-2019 Stikes PKU Muhammadiyah Surakarta menjadi rujukan tempat studi banding PTS Kesehatan sejenis mulai dari lingkup Solo Raya, Semarang, Kendal, Banten, bahkan dari Banda Aceh maupun Lhokseumawe,” ujar Weni Hastuti.

Berbicara masalah media, Weni Hastuti mengungkapkan bahwa untuk mengembangkan sebuah Perguruan tinggi Swasta kita tidak akan terlepas dari peran sebuah media. Seorang pengelola harus pandai betul untuk bekerjasama dan memanfaatkan peran media yang selalu dapat menyampaikan pesan kepada khalayak umum tentang brand yang baru dikembangkan sebuah institusi atau lembaga.

“Media bagi kami bukanlah sebuah sosok menakutkan akan tetapi sebuah partner kerja yang simbiosis mutualisme,” ujarnya.

Stikes PKU Muhammadiyah Surakarta ini dapat berkembang dengan pesat tidak lebih juga andil dari pemberitaan yang dilakukan oleh media. “Dan ini kami tanamkan betul kepada civitas Stikes PKU untuk sadar betul akan arti penting sebuah media. Dan bahkan kami mengajarkan dan memberikan pelatihan dunia jurnalistik kepada tenaga pendidik dan kependidikan kami,” kata Weni.

- Advertisement -

Menara62 TV

- Advertisement -

Terbaru!