31 C
Jakarta

Memberi Kepercayaan Harus Cermat

Baca Juga:

Memberi Kepercayaan Harus Cermat

Oleh Dr Mulyono D Prawiro

Hampir semua pekerjaan yang ada di mana-mana di seluruh dunia ini dapat diselesaikan dengan cara yang lebih bijak, terutama pada hubungan antar manusia yang ada di dalam organisasi. Untuk membangun hubungan yang kuat tidak hanya membutuhkan sebuah fondasi karakter saja, tetapi juga membutuhkan kemauan untuk memaksakan diri dan mengembangkan kemampuan-kemampuan antar pribadi yang baru dan vital. Banyak sekali tantangan-tantangan yang harus dihadapi saat kita berhubungan dengan orang lain dalam membangun kepercayaan. Mungkin ada orang bertanya, bagaimana sebenarnya melakukan komunikasi yang baik dan efektif tanpa adanya kepercayaan. Hal ini tentu sulit dilaksanakan dan bahkan tidak mungkin bisa dicapai.

Membangun komunikasi tanpa adanya kepercayaan, bagaikan orang berjalan melalui sebuah ladang yang dipenuhi dengan ranjau-ranjau, sehingga mustahil dapat terlaksana dengan baik. Komunikasi yang tepat dan jelas harus dilandasi dengan adanya kepercayaan, dan tidak harus mencari-cari makna dan maksud yang tersembunyi, dan bisa mengakibatkan munculnya multi tafsir dan perbedaan yang mendasar. Ketidak-percayaan antar sahabat membuat hubungan menjadi buruk dan berpeluang untuk saling curiga satu sama lainnya. Menurut Stephen R Covey, tidak ada yang menyamai kecepatan kepercayaan, karena kepercayaan lebih cepat daripada apa pun yang kita pikirkan. Kepercayaan lebih cepat dari internet, oleh karena itu jika ada kepercayaan, maka kesalahan akan dimaafkan dan dilupakan. Kepercayaan merupakan pengikat kehidupan, menyatukan organisasi, budaya dan hubungan-hubungan menjadi satu kesatuan yang utuh. Ironisnya kepercayaan itu munculnya secara pelan dengan menjalankannya secara lambat.

Biasanya komunikasi dengan tingkat kepercayaan yang tinggi tidak memerlukan upaya berat dan berlangsung seketika, meskipun kita melakukan kesalahan, bila sudah terdapat kepercayaan dengan komunikasi yang tinggi, maka kesalahan itu hampir tidak berarti apa-apa, karena orang lain sudah mengetahui dengan jelas siapa kita. Maka dengan demikian orang akan mengatakan: “Jangan kuatir, saya paham dan lupakan itu, karena saya paham maksudmu dan saya kenal kamu”.

Teknologi apa pun yang pernah diciptakan, tidak ada yang bisa mengupayakan hal itu. Itulah sebabnya mengapa jantung itu lebih penting daripada otak. Bila seseorang yang otaknya sudah mati, tetapi jika jantungnya masih tetap bisa memompa, maka orang tersebut masih tetap dianggap hidup, tetapi jika jantungnya berhenti, maka orang tersebut sudah dianggap mati. Dalam gambaran itu, bahwa sebenarnya hubungan itu telah diatur oleh hukum-hukum alam. Begitu juga dengan kepercayaan, karena kepercayaan yang bertahan lama di dalam hubungan tidak dapat dipalsukan, karena itu merupakan buah dari tindakan-tindakan yang dilakukan secara teratur yang diilhami oleh suara hati dan jiwa.

Seperti yang diibaratkan oleh Stephen R Covey, dalam memperkenalkan sebuah metafora untuk kepercayaan yang disebutnya sebagai Rekening Bank Emosi. Dikatakannya bahwa sebuah rekening finansial bank, dimana didalamnya kita melakukan setoran dan penarikan, begitulah Rekening Bank Emosi itu. Pada rekening tersebut kita bisa membuat setoran dan penarikan emosional untuk hubungan-hubungan kita, yang selanjutnya akan memperkuat atau pun merusak hubungan-hubungan itu. Setiap kali kita memberikan perhatian kepada sabahat kita atau siapa pun, itu artinya kita memberikan setoran pada Rekening Bank Emosi dan menjadikannya hubungan itu menjadi lebih kuat dan lebih baik.

Namun sebaliknya, setiap kali kita abaikan hubungan itu, maka kita akan menguras Rekening Bank Emosi itu, dan hubungan kita akan menjadi renggang bahkan memburuk. Dari gambaran itu terlihat, seperti semua metafora yang lain, metafora itu pun akan memperlihatkan keterbatasannya jika kita merunutnya terlalu jauh, tetapi secara umum metafora itu secara sederhana namun efektif dapat menggambarkan kualitas dari sebuah hubungan. Memberikan kepercayaan kepada orang lain tidaklah mudah, apalagi memberi tugas dan tanggung-jawab yang melampaui pengalaman dan anggapan mengenai kemampuan yang dimilikinya, serta track-recordnya. Mempercayai dan mengharapkan agar bisa tumbuh untuk memenuhi tantangan dan memperlakukan seperti yang diharapkan biasanya didasarkan pada keyakinan, dan itu merupakan potensi diri dan memperkuat nilai, sehingga menjadi inspirasi untuk melihat kesungguhan dari orang yang kita percayai.

Bila kita mendapatkan kepercayaan dari orang lain, dalam diri kita akan tumbuh keinginan untuk mencapai potensi yang tertinggi dan mengikuti dorongan-dorongan yang paling mulia, meskipun kita tidak sempurna, tetapi yakin betapa besarnya pertumbuhan yang akan kita alami. Hal ini tentunya bisa menjadi dorongan semangat dan filosofi kehidupan kita. Seorang penyair yang bernama Goethe pernah mengatakan, “Perlakukan seseorang sebagaimana dia apa adanya, maka dia akan tetap seperti dirinya itu; perlakukan seseorang seperti bagaimana dia bisa dan seharusnya bisa, dan dia akan menjadi apa yang dia bisa dan seharusnya bisa dia capai”. Mempercayai adalah menyampaikan kepada orang lain nilai dan potensi mereka dengan amat jelas, sehingga mereka terilhami untuk melihat sendiri hal itu di dalam diri mereka.

Mempercayai seseorang bukan hanya merupakan buah dari kelayakan untuk dipercaya, tetapi juga merupakan akar dari motivasi, bahkan merupakan bentuk dari motivasi yang paling tinggi. Bila kita mempercayai orang lain, itu berarti kita melihat nilai dan potensi orang tersebut, dan memberinya peluang yang sangat luas, serta memberikan dorongan agar potensinya terarah dan dapat menghasilkan karya-karya yang cemerlang. Memberikan kepercayaan kepada seseorang, meskipun mereka adalah orang terdekat, kalau tidak hati-hati dan kurang cermat, apalagi kalau yang bersangkutan tidak menjalankan amanah dan tidak dengan sepenuh hati, maka kepercayaan itu akan menjadi rusak dan mereka tidak akan terilhami untuk melihat nilai dan potensinya. Akan terlihat, bila seseorang yang tidak memiliki kelayakan untuk dipercaya akan amat sulit mempercayai siapa pun atau memiliki keyakinan terhadap orang lain dalam cara yang bisa bertahan lama. (Penulis adalah Dosen Pascasarjana dan Anggota Senat Universitas Satyagama dan Universitas Trilogi, Jakarta)

- Advertisement -

Menara62 TV

- Advertisement -

Terbaru!