30 C
Jakarta

Mengupas Sosok KH Hasyim Asy’ari dalam Sejarah Perlawanan Kolonialisme

Baca Juga:

JAKARTA, MENARA62.COM – Peran ulama dan cendekiawan muslim tidak bisa dihindarkan, bahkan menjadi penggerak dalam perlawanan terhadap penjajah dan merebut kemerdekaan. Namun peran tersebut  banyak yang tidak  tahu bahkan namanya pun terasa asing ditelinga dalam wawasan milenial.

Karena itu perlu untuk terus digaungkan peran besar ulama dan cendekiawan tersebut dalam berbagai kegiatan sebagaimana di gelarnya Seri Webinar #3 Perjuangan Melawan Kolonialisme: Kontribusi Cendekiawan Muslim di Asia Tenggara pada Ahad (21/11/2021) melalui aplikasi zoom. Dengan mengangkat tema perjuangan “KH Muhammad Hasyim Asy’ari’ seminar ini menghadirkan pembicara Assoc. Prof. Dr. Anis Malik Thoha Universiti Islam Sultan Sharif Ali, Brunei Darussalam dan Dr. Ahmad Domocao A. Alonto tokoh perjuangan muslim dari Philipina, Prof. Dr. Alizaman D. Gamon Universiti Islam Antarabangsa Malaysia.

Dalam sambutan dan pembukaannya, Prof. M. Habib Chirzin, Perwakilan IIIT Indonesia menyampaikan kenangan tentang betapa kedekatan para ulama sejak awal mereka belajar seperti KH Hasyim Asy’ari dan Kiai Ahmad Dahlan yang mempunyai kedekatan dan ini harus dicontoh oleh para penerusnya.

Secara pribadi kedekatan dengan cucu Kyai Pendiri NU ini dirasakan ketika mulai berkenalan dengan Gus Sholah dan Gus Dur pada tahun 1974. “Ketika bersilaturahmi  di kediaman Bu Wachid di Taman Amir Hamzah, Matraman, dan dilain kesempatan pernah dibonceng oleh Gus Dur dengan Vespa biru, dari Tebuireng ke Denanyar Jombang dan kedekatan diberbagai komunitas dan kegiatan Keislaman lain,” tuturnya.

Prof. Dr. Anis Malik Thoha Universiti Islam Sultan Sharif Ali, Brunei Darussalam menyampaiakan Hadratussyaikh Hasyim Asy‘ari, adalah seorang ulama Jawa yang menjadi
panutan banyak dari para kyai di Indonesia. Beliau lahir di desa Gedang, sekitar dua kilometer sebelah timur Jombang, pada tanggal 24 Dzul Qa‘dah 1287 H, bertepatan pada tanggal 14 Februari 1871.

Nama asli yang diberikan oleh orang tua beliau adalah Muhammad Hasyim, sedangkan ayahnya bernama Asy‘ari dan ibunya bernama Halimah. Dipercayai bahwa mereka adalah keturunan raja Muslim Jawa, Jaka Tingkir, dan raja Hindu Majapahit, Brawijaya VI, juga dipercayai merupakan keturunan bangsawan.

Hasyim Asy‘ari merupakan pendiri Nahdlatul Ulama, bersama K.H. Wahab Hasbullah dan K.H. Bisri Syamsuri, yang didirikan di Surabaya pada tanggal 16 Rajab 1344, bertepatan tanggal 31 Januari 1926 .

Ketika menimba ilmu di Makkah dalam sebuah pertemuan di Multazam bersama para sahabat seangkatannya dari Afrika, Asia, dan juga negara-negara Arab sebelum Kiai Hasyim kembali ke Indonesia lahir kesepakatan di antara mereka untuk mengangkat sumpah di hadapan “Multazam”, dekat pintu ka’bah untuk menyikapi kondisi di negara masing-masing yang dalam keadaan terjajah yaitu  janji yang harus ditepati apabila mereka sudah sampai dan berada di negara masing-masing berupa tekad untuk berjuang di jalan Allah SWT demi tegaknya agama Islam, berusaha mempersatukan umat Islam dalam kegiatan penyebaran ilmu pengetahuan serta pendalaman ilmu agama Islam.

Dimasa perang kemerdekaan mensikapi gejolak jaman pada 22 Oktober 1945, PBNU mengadakan rapat pleno yang dipimpin KH Abdul Wahab Chasbullah. Rapat pleno itu mengambil keputusan tentang Jihad fi Sabilillah dalam membela tanah air dan bangsa yang diserukan kepada umat Islam. Kedua, menyerukan Resolusi Jihad fi Sabilillah yang disampaikan kepada Pemerintah Republik Indonesia.

“Pertentangan antara Muhammadiyah  dan NU lebih dikembangkan oleh masing-masing pihak yang terlampau serius dalam memaknai perbedaan fikih dan kalam. Padahal, sejarah hubungan Muhammadiyah dan NU adalah hubungan persaudaraan yang erat sebagaimana digambarkan dua pendirinya Kiai Ahmad Dahlan dan Kiai Hasyim Asy’ari”.

Sementara Prof. Dr. Alizaman D. Gamon dari Universiti Islam Antarabangsa Malaysia mengupas peran Dr. Ahmad Domocao A. Alonto  tokoh Perjuangan Muslim dari Philipina  yang karena perjuangannya mendapatkan Penghargaan Internasional Raja Faisal  1988 dibidang pelayanan Islam .

Pria kelahiran 1 Agustus 1914 di Ditsaan Ramain Philipina serta meninggal  11 Desember 2002,di Marawi  dikenal sebagai seorang Senator Philipina Ahmad Damacao Alonto adalah satu dari 100 pemimpin hebat Muslim di abad ke20, kontribusinya yang luar biasa terhadap sosio politik dan reformasi pendidikan, diplomasi dan peningkatan perdagangan internasional antar Negara Muslim dan  wacana intra religion dalam bidang akademi.

- Advertisement -

Menara62 TV

- Advertisement -

Terbaru!