29 C
Jakarta

Menyatunya Solidaritas Moral Demonstran Irak dan Lebanon

Baca Juga:

HATI dan emosi rakyat Irak dan Lebanon bertautan, rasa solidaritas pun bersahutan dari kejauhan. Mereka mengibarkan simbol kedua negara secara silang, seakan satu sama lain hadir saling mewakili di arena aksi jalanan masing-masing.

Sebuah bendera Lebanon berkibar di tengah lautan aksi protes rakyat di ibukota Irak, Baghdad. Pada saat bersamaan, pada jarak lebih dari 900 kilometer jauhnya, nyanyian revolusioner Irak juga menggema dari arena demonstran di Beirut, ibukota Lebanon.

Mereka berada pada dua negara yang tengah bergolak oleh gelombang protes rakyat anti-pemerintahan bobrok yang sama-sama pecah sejak Oktober 2019. “Mereka adalah sekelompok pencuri,” suara koor nyanyian yang dicuplik dari lirik sekelompok musisi Lebanon dalam dialek Irak.

Cuplikan lirik lagu itu mereka sematkan pada para pemimpin politik yang dianggap tidak kompeten, korup, dan tidak mewakili aspirasi rakyat. “Identitasnya saja orang Lebanon,” lanjut senandung demonstran, seperti dikutip laman aawsat.com dari AFP, Selasa (12/11/2019)

Pertunjukan solidaritas baru-baru ini telah menjadi fenomena umum dari arena protes di kedua negara. “masing-masing saling mengamati dan belajar… Mereka ingin menunjukkan kesamaan antara dua gerakan dan meningkatkan moral (aksi),” ungkap Farah Qadour (26 tahun), anggota kelompok musisi Lebanon yang mengadopsi nyanyian Al-Karbalai, yang berkumandang di tengah aksi protes.

Masalah korupsi, pengangguran, dan buruknya layanan publik telah menjadi pemicu gerakan jalanan besar-besaran yang belum pernah terjadi sebelumnya di Irak maupun Lebanon. Mereka menuntut pemecatan seluruh lapisan politik yang mengendalikan pemerintahan, yang sama-sama diwarnai kuarnya pengaruh Syiah-Iran.

Di kota selatan Nabatiyeh, Lebanon, ratusan orang juga mengibarkan bendera Lebanon sambil berteriak: “Dari Irak ke Beirut, satu revolusi yang tidak pernah mati.”

Dan, di kota utara Tripoli, gerakan protes Lebanon ditandai aksi seorang pria yang berdiri di podium dan melambaikan tiang kayu yang mengibarkan bendera kedua negara. “Dari Lebanon ke Irak, rasa sakit kita adalah satu, hak kita adalah satu, dan kemenangan sudah dekat,” ujarnya.

Akumulasi Masalah

Di Tahrir Square, yang merupakan jantung dari gerakan protes yang telah berlangsung selama sebulan di Baghdad, para demonstran juga mengibarkan bendera Lebanon bersama bendera Irak. Mereka menggantungnya pula di beberapa di restoran Turki yang ditinggalkan pemiliknya dan diubah oleh demonstran Irak sebagai menara kontrol protes.

Spanduk bertuliskan “Dari Beirut ke Baghdad, satu revolusi melawan para koruptor” dapat dilihat di mana-mana.

“Apa yang terjadi di jalanan di Irak dan Lebanon adalah hasil dari akumulasi masalah selama bertahun-tahun,” kata Samah, seorang demonstran Lebanon berusia 28 tahun.

Demonstran Lebanon telah berhasil menekan mundur Perdana Menteri (PM) Saad Hariri. Sementara PM Irak Adel Abdul Mahdi, yang menghadapi unjuk rasa rakyat dengan sangat represif, sudah berada diujung tandung.

Sebuah video yang beredar di jaringan media sosial menunjukkan seorang demonstran Lebanon bertopeng Irak mengenakan seragam militer, juga menuntut pengunduran diri Menteri Luar Negeri Lebanon Gebran Bassil. Putra Presiden Lebanon Michel Auon ini menjadi target utama lainnya untuk diusir dari pemerintahan.

Dalam sebuah video lain yang dirilis secara online, sekelompok pemuda Irak bernyanyi, “Lebanon, kami bersama Anda!

Kedua gerakan ini juga tampaknya mengadopsi strategi protes yang serupa. Di kedua negara, barisan kendaraan yang diparkir telah memblokir lalu lintas di sepanjang jalan utama dalam beberapa minggu terakhir.

Para demonstran dari kalngan kampus mengenakan masker medis atau kacamata mata anti gas air mata. Mereka menduduki jembatan dan jalan laying di jantung ibukota sebagai cara menolak untuk meyakini janji reformasi dari kedua pemerintahan.

Satu Tujuan

Perbedaan besar adalah bahwa di Irak, demonstrasi telah berubah mematikan. Lebih dari 300 orang tewas, sebagian besar demonstran, sejak gerakan dimulai 1 Oktober 2019.

Gerakan jalanan Lebanon, yang dimulai pada 17 Oktober, sebagian besar bebas dari insiden mematikan. Meskipun terjadi bentrok dengan pasukan keamanan dan demonstran kontra-demonstran yang mendukung partai-partai mapan, tidak tidak menimbulkan korban jiwa.

Kedua gerakan itu, bersatu dalam kemarahan mereka tentang sistem politik yang sektarian dan pembagian kekuasaan antarelite politik yang tidak mempertimbangkan komptensi di dalam pemerintahan. Mereka gagal memenuhi tuntutan rakyat untuk menciptakan kondisi kehidupan yang lebih baik.

“Kami dipersatukan oleh rasa kewajiban patriotik dalam menghadapi sistem politik sektarian ini,” kata Obeida (29), demonstrans dari Tripoli.

Sistem pembagian kekuasaan secara sektarian, bagi Irak, relative. Ia muncul setelah jatuhnya Presiden Saddam Hussein pada 2003 lewat invasi pasukan sekutu pimpinan Amerika Serikat (AS).

“Di Lebanon, ini (sistem sectarian) lebih mengakar,” lanjut Obeida, tentang sistem sektarian di Lebanon yang mengakhiri perang saudara pada 1975-1990.

 

- Advertisement -

Menara62 TV

- Advertisement -

Terbaru!