25.6 C
Jakarta

Ngeri, Difteri Sudah Menyebar di 28 Provinsi

Must read

MDMC  dan LazisMu Salurkan Hasil Penggalangan Dana Peduli Korban Kebakaran

LAHAT,MENARA62.COM- Surat Keputusan Pimpinan Daerah  Muhammadiyah Kabupaten Lahat Tentang Pembentukan Pengurusan Pos Koordinasi (POSKOR) MDMC Lahat pada hari senin tanggal 5 Oktober 2020,  Dikarenakan telah...

Peringati Hari Santri, Menag Minta Pesantren Jangan Jadi Klaster Covid-19

Jakarta,Menara62.com - Menteri Agama Fachrul Razi meminta pondok pesantren lebih meningkatkan kewaspadaan terhadap serangan Covid-19. Hampir setahun sejak wabah covid melanda negeri ini,...

Angka Stunting Ditargetkan Turun Menjadi 14 Persen pada Akhir 2024

JAKARTA, MENARA62.COM - Staf khusus Wakil Presiden RI Bambang Widianto mengatakkan, pemerintah berkomitmen akan menurunkan stunting pada akhir 2024 menjadi 14%. Sudah tentu ini...

Pandemi Covid-19, Kekerasan Berbasis Gender Meningkat

JAKARTA, MENARA62.COM- Kekerasan terhadap perempuan bukan hanya terjadi di situasi normal sebelum pandemi Covid-19 terjadi. Di tengah pendemi yang sudah memasuki bulan ke delapan...

JAKARTA, MENARA62.COM–  Mengerikan, wabah difteri kini sudah meluas dan ditemukan di 28 provinsi dan 142 kabupaten/kota. Dari jumlah propinsi terpapar difteri sebanyak itu, pemeirntah baru memberlakukan kebijakan Outbreak Respone Immunization (ORI) pada tiga propinsi yaknu DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten.

“Sebanyak 25 provinsi sudah menanyakan apakah perlu ORI atau harus imunisasi difteri mandiri, agar tidak menjadi wabah,” kata Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Dr. Aman Pulungan, Sp.A. (K) , Senin (18/12/2017).

Sejak kasus merebak, hingga kini IDAI telah mencatat sebanyak 40 anak meninggal dan 600 anak lainnya dirawat di rumah sakit akibat difteri ini. Dari 40 anak yang meninggal tersebut 75 persen diketahui tidak mendapatkan imunisasi difteri sejak bayi dengan berbagai alasan. Salah satunya penolakan dari orang tua.

“Ada yang mendapatkan imunisasi, tetapi tidak lengkap. Sehingga si anak terkena difteri,” jelas Aman.

Aman mengatakan ORI yang digelar sejak Desember lalu ternyata tidak mencapai targetnya. Seperti di Jawa Barat, ternyata hanya 20 persen anak-anak yang mengikuti ORI.

Menurut Aman salah satu kendala mengapa ORI tidak mencapai target sasaran karena anak-anak sudah memasuki masa liburan semester. Sehingga ORI tidak bisa dilakukan secara massal di sekolah-sekolah.

“Padahal jika dilakukan di sekolah-sekolah, akan jauh lebih efektif dan bisa menyasar lebih banyak lagi anak-anak usia sekolah dibanding harus ke Puskesmas. Karena dalam keseharian Puskesmas sudah terbebani dengan tugas pelayanan lainnya,” lanjut Aman.

Sejak kasus merebak, diakui Aman, sudah ada 25 provinsi yang menanyakan apakah perlu dilakukan ORI atau atau mengadakan imunisasi difteri secara mandiri. Mereka masih menunggu kebijakan dari pemerintah pusat terkait penanganan difteri ini.

Senada juga dikatakan Ketua Umum PB IDI Prof. Dr. Ilham Oetama Marsis. Ia mengatakan seharusnya anak-anak semuanya mendapatkan haknya untuk imunisasi.

“Tidak ada seorangpun boleh menghalang-halangi imunisasi difteri ini, bahkan orang tua. Hak anak mendapatkan imunisasi sudah diatur dalam undang-undang,” tukasnya.

Agar gerakan imunisasi difteri lebih maksimal, menurut Oetama perlu dimulai dari kepala negara. Jika presiden memulainya, ia yakin ke bawah instruksinya akan jauh lebih mudah.

Imunisasi difteri dilakukan pada Desember ini, lalu lanjut pada satu bulan kemudian dan 5 bulan lagi dilakukan imunisasi difteri ketiga.

Sementara itu Dr. Sudjatmiko, Sp,A. (K), spesialis dan konsultan kesehatan anak menjelaskan dari 40 kasus anak meninggal karena difteri, ternyata 75 persen tidak mendapatkan imunisasi difteri secara lengkap sejak bayi. Bahkan ada yang sama sekali tidak mendapatkan imunisasi akibat penolakan dari orangtua.

“Coba cek kartu imunisasi atau kartu menuju sehat anak-anak kita. Apakah sudah lengkap atau belum imunisasi difterinya,” kata Sudjatmiko.

Untuk anak hingga usia 2 tahun, imunisasi difteri diberikan 4 kali DPT, lalu dilanjutkan pada usia 5 tahun dan dua kali pada masa usia sekolah SD. Total seorang anak harus mendapatkan imunisasi difteri antara 7 hingga 8 kali.

Sudjatmiko mengingatkan bahwa difteri adalah penyakit yang sangat berbahaya. Penyakit ini mudah menular melalui kontak bersin, batuk atau yang lainnya.

Difteri tergolong mematikan. Area yang diserang adalah bagian tenggorokan yang kemudian bisa menyerang paru-paru dan jantung. anak dengan difteri parah, bisa menyebabkan leher dibuatkan lubang untuk bantuan napas.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

MDMC  dan LazisMu Salurkan Hasil Penggalangan Dana Peduli Korban Kebakaran

LAHAT,MENARA62.COM- Surat Keputusan Pimpinan Daerah  Muhammadiyah Kabupaten Lahat Tentang Pembentukan Pengurusan Pos Koordinasi (POSKOR) MDMC Lahat pada hari senin tanggal 5 Oktober 2020,  Dikarenakan telah...

Peringati Hari Santri, Menag Minta Pesantren Jangan Jadi Klaster Covid-19

Jakarta,Menara62.com - Menteri Agama Fachrul Razi meminta pondok pesantren lebih meningkatkan kewaspadaan terhadap serangan Covid-19. Hampir setahun sejak wabah covid melanda negeri ini,...

Angka Stunting Ditargetkan Turun Menjadi 14 Persen pada Akhir 2024

JAKARTA, MENARA62.COM - Staf khusus Wakil Presiden RI Bambang Widianto mengatakkan, pemerintah berkomitmen akan menurunkan stunting pada akhir 2024 menjadi 14%. Sudah tentu ini...

Pandemi Covid-19, Kekerasan Berbasis Gender Meningkat

JAKARTA, MENARA62.COM- Kekerasan terhadap perempuan bukan hanya terjadi di situasi normal sebelum pandemi Covid-19 terjadi. Di tengah pendemi yang sudah memasuki bulan ke delapan...

Kunjungi Kali Sentiong, Wagub Riza Pastikan Wilayah Siap Hadapi Banjir

JAKARTA, MENARA62.COM – Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria melakukan kunjungan ke Kali Sentiong di kawasan Johar Baru, Jakarta Pusat, Rabu (14/10/2020). Kunjungan...