29 C
Jakarta

Pada Puncak Hardiknas, Mendikbud Ingatkan Tantangan Era Revolusi Industri 4.0

Baca Juga:

LOMBOK – Puncak Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2018 yang berlangsung di Lombok City Center, Mataram, Nusa Tenggara Barat berlangsung meriah, Senin (7/5). Peringatan yang dijadikan satu dengan even Lomba Kompetensi Siswa (LKS) SMK tingkat nasional, dan Lomba Kompetensi Guru tingkat nasional tersebut diperkirakan melibatkan lebih dari 3.500 peserta.

Dalam sambutannya Menteri Pendidikan Nasional (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengatakan tantangan pembangunan pendidikan di Indonesia saat ini dan ke depan makin berat. Tidak hanya dari jumlah peserta didik yang cukup besar tetapi juga adanya era revolusi industri 4.0 yang memaksa semua lini beradaptasi dengan digitalisasi.

“Jumlah siswa didik kita sangat besar mencapai 50 juta anak. Tentu tidak fair kalau dibanding-bandingkan dengan negara lain yang mungkin jumlah penduduknya setara dengan jumlah penduduk Indonesia satu propinsi,” kata Mendikbud.

Ia mengatakan tantangan dunia pendidikan yang nyata dan saat ini sudah terjadi didepan mata adalah era revolusi industri 4.0. Era ini akan muncul otomasisasi. Mesin akan menggantikan tangan-tangan manusia

Meski mesin banyak menggantikan tenaga manusia menurut Mendikbud tidak serta merta manusia akan tersingkir. Sebab bagaimanapun juga manusia memiliki keunggulan dibanding mesin atau teknologi, yakni daya kreativitasnya.

Kata kreatif ini lanjut Mendikbud yang menjadi kunci penting mengapa manusia akan tetap unggul ditengah gencarnya era digitalisasi sebagai konsekuensi dari revolusi industri 4.0.

“Orang yang memiliki daya kreativitas maka dialah yang akan bisa beradaptasi dengan lingkungan barunya yang penuh dengan tantangan dan perubahan,” jelas Mendikbud.

Karena itu Mendikbud meminta agar sekolah-sekolah terus memacu siswanya dengan pembelajaran yang kreatif.

Mendikbud juga mengingatkan perlunya insan pendidikan bijak dalam menggunakan dan mengakses media sosial. Munculnya berita-berita buruk yang diviralkan kembali meski kasusnya sudah terjadi 3 atau 4 tahun lalu sebenarnya merupakan kondisi yang tidak mendukung pembangunan pendidikan di Indonesia. Sebab tanpa disadari, tindakan tersebut akan membuat optimisme siswa menurun.

“Menampilkan sisi buruk yang mungkin kejadiannya sangat kecil prosentasenya jelas tidak membangun rasa optimisme siswa,” tukas Mendikbud.

Senada juga dikatakan Gubernur NTB Tuan Guru Bajang Zainal Majdi. Ia mengaku dalam berbagai even baik kuliah umum maupun seminar, muncul ketakutan dan kekhawatiran generasi muda dengan adanya era revolusi industri 4.0. Mereka takut tidak bisa beradaptasi dengan era digitalisasi yang saat ini berlangsung sangat cepat.

Menurut Gubernur, rasa ketakutan dan pesimis berlebihan tentu tidak baik bagi generasi muda.

Karena itu Gubernur memandang perlunya Kemendikbud memperbanyak muatan pendidikan yang sifatnya menumbuhkan rasa optimisme siswa dalam menghadapi era digitalisasi.

“Mari kita buat.anak-anak optimis menghafapi masa depan. Jangan buat mereka ketakutan lebih dulu,” tandas Gubernur.

- Advertisement -

Menara62 TV

- Advertisement -

Terbaru!