SUKOHARJO, MENARA62.COM – Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PK IMM) Muhammad Abduh Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) https://www.ums.ac.id/ menggelar Pengabdian dan Pemberdayaan Organisasi (PPO) bertema “Desa Cerdas” di Dukuh Badran, Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Kabupaten Sukoharjo.
Kegiatan yang berlangsung pada 18 Juli hingga 23 Agustus 2026 tersebut menghadirkan berbagai program di bidang pendidikan, kesehatan, keagamaan, sosial, dan lingkungan. Melalui kegiatan ini, kader IMM berupaya memperkuat pemberdayaan masyarakat sekaligus menumbuhkan semangat gotong royong dan kepedulian sosial.
Ketua Pelaksana PPO, Nur Layli Mafaza, mengatakan pengabdian masyarakat bukan sekadar menjalankan program kerja organisasi, melainkan menghadirkan manfaat nyata dan membangun hubungan yang bermakna antara mahasiswa dan warga.
“Pengabdian itu tentang bagaimana menghadirkan manfaat, menumbuhkan kepedulian, serta membangun hubungan yang bermakna antara mahasiswa dan masyarakat,” ujarnya, Kamis (22/10/2026).
Menurut Mafaza, PPO menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk menerapkan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah dalam kehidupan nyata. Di sisi lain, kehadiran mahasiswa diharapkan menjadi ruang berbagi pengetahuan sekaligus mendukung pengembangan potensi masyarakat.
Perkuat Pendidikan dan Kreativitas Anak
Bidang pendidikan menjadi salah satu fokus utama program Desa Cerdas. Mahasiswa mengadakan kegiatan Baca Tulis Al-Qur’an (BTA) dan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) untuk menumbuhkan kecintaan anak-anak terhadap Al-Qur’an serta mengenalkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Program tersebut dilengkapi kegiatan literasi, pengembangan kreativitas, dan lomba mewarnai. Berbagai aktivitas ini dirancang untuk meningkatkan rasa ingin tahu, keberanian berekspresi, serta semangat belajar anak-anak melalui suasana yang menyenangkan.
“Pendidikan itu investasi jangka panjang. Perubahan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Mendampingi anak membaca atau memberi mereka ruang untuk berani mencoba pun sudah merupakan langkah yang berarti,” tutur Mafaza.
Melalui pendampingan tersebut, mahasiswa berharap tumbuh kebiasaan belajar yang positif dan berkelanjutan di kalangan anak-anak Dukuh Badran.
Edukasi Kesehatan dan Pengelolaan Sampah Plastik
Selain pendidikan, mahasiswa IMM UMS memberikan perhatian terhadap kesehatan masyarakat. Pemeriksaan kesehatan diselenggarakan untuk meningkatkan kesadaran warga mengenai pentingnya menjaga kondisi tubuh dan melakukan pemeriksaan secara berkala.
Kegiatan tersebut juga menjadi sarana mempererat interaksi antara mahasiswa dan masyarakat melalui pendekatan yang dekat dan partisipatif.
Pada aspek lingkungan, PPO menghadirkan edukasi Metaplast atau Media Tanam Plastik dengan pemateri Bunda Ismokoweni, S.E., M.M. Dalam kegiatan ini, warga diajak memahami bahwa sampah plastik yang kerap dianggap tidak berguna dapat diolah menjadi media tanam kreatif yang memiliki nilai guna.
Peserta tidak hanya mendapatkan materi, tetapi juga mengikuti praktik langsung pemanfaatan plastik. Pendekatan tersebut diharapkan mendorong masyarakat untuk lebih kreatif dalam mengelola sampah sekaligus membangun kebiasaan yang ramah lingkungan.
Mahasiswa juga mengadakan penanaman pohon sebagai bentuk kepedulian terhadap penghijauan. Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa menjaga kelestarian lingkungan merupakan tanggung jawab bersama yang perlu dilakukan secara konsisten.
“Menjaga lingkungan tidak selalu membutuhkan teknologi yang rumit. Kreativitas dan kemauan untuk memulai bisa menjadi langkah awal menuju lingkungan yang lebih baik,” kata Mafaza.
Hidupkan Masjid sebagai Pusat Pembelajaran
Sebagai organisasi mahasiswa Islam, IMM turut mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat. Salah satunya melalui tabligh akbar yang menghadirkan Ustaz M. Uqbah Aziz, Lc., M.H., sebagai pemateri.
Kegiatan tersebut menjadi ruang untuk memperdalam pemahaman keislaman, memperkuat keimanan, dan mempererat silaturahmi antara mahasiswa dengan masyarakat.
Selain tabligh akbar, mahasiswa menyelenggarakan kajian Ahad pagi di Masjid Nurul Huda. Kegiatan ini bertujuan menghidupkan masjid sebagai pusat ibadah, pembelajaran, dan interaksi sosial warga.
Melalui rangkaian kegiatan keagamaan tersebut, IMM berupaya menunjukkan bahwa dakwah tidak hanya disampaikan melalui ceramah, tetapi juga diwujudkan dalam tindakan nyata yang mendorong kepedulian dan kemaslahatan masyarakat.
Bentuk Kader yang Peka terhadap Persoalan Sosial
Bagi kader IMM, PPO menjadi proses pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan komunikasi, kerja sama, kepemimpinan, dan tanggung jawab sosial. Interaksi langsung dengan masyarakat juga memberikan pemahaman bahwa setiap wilayah memiliki karakteristik, potensi, dan tantangan yang berbeda.
Mafaza mengungkapkan, pengalaman memimpin kegiatan pengabdian mengajarkannya untuk menyatukan gagasan, mengoordinasikan kader, serta memastikan setiap program memiliki tujuan yang jelas.
“Keberhasilan pengabdian bukan ditentukan oleh banyaknya program yang terlaksana, tetapi oleh kualitas proses dan manfaat yang dirasakan bersama,” jelasnya.
Ia menegaskan, masyarakat tidak semestinya hanya ditempatkan sebagai penerima manfaat. Sebaliknya, warga dan mahasiswa perlu terlibat sebagai mitra yang saling mendukung dalam membangun lingkungan yang lebih baik.
Melalui PPO, kader IMM mempraktikkan nilai humanitas, religiusitas, dan tanggung jawab sosial. Pengalaman tersebut diharapkan membentuk kader yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki kepekaan terhadap persoalan di sekitarnya.
“Desa Cerdas bukan sekadar nama program, melainkan semangat untuk menghadirkan pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari. Cerdas menumbuhkan pengetahuan, cerdas menjaga kesehatan, cerdas merawat lingkungan, dan cerdas membangun hubungan sosial yang dilandasi nilai-nilai kebaikan,” tegas Mafaza.
Ia berharap kebersamaan selama pelaksanaan PPO dapat menjadi awal hubungan berkelanjutan antara kader IMM Muhammad Abduh UMS dan masyarakat Dukuh Badran.
“Pengabdian bukan hanya tentang apa yang dibawa mahasiswa ketika datang, tetapi juga tentang apa yang dapat dipelajari, ditumbuhkan, dan ditinggalkan ketika program berakhir,” pungkasnya. (*)

