31.3 C
Jakarta

PPO IMM FIK UMS Dorong Warga Musuk Olah Alpukat dan Kuasai Pemasaran Digital

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Melimpahnya alpukat di Desa Musuk, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, mulai diarahkan menjadi peluang ekonomi baru. Tidak lagi sekadar dijual sebagai buah segar, hasil pertanian tersebut diolah menjadi produk bernilai tambah sekaligus dipasarkan melalui kanal digital.

 

Upaya itu dilakukan Tim Program Penelitian dan Pengabdian Ormawa (PPO) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id. Program pendampingan tersebut menyasar Kelompok Wanita Tani (KWT) Desa Musuk dengan fokus pada diversifikasi produk dan penguatan pemasaran digital.

 

Ketua Tim PPO IMM FIK UMS, Nayif Khoirul Fuad, mengatakan potensi alpukat menjadi salah satu alasan tim memilih Desa Musuk sebagai lokasi penelitian dan pengabdian.

 

Menurut dia, pengembangan produk olahan diharapkan dapat meningkatkan nilai ekonomi hasil pertanian sekaligus membuka peluang bagi masyarakat untuk membangun usaha secara lebih mandiri.

 

“Melihat kondisi itu, kami ingin mendorong kemandirian ekonomi masyarakat setempat. Kami menggandeng Kelompok Wanita Tani (KWT) Desa Musuk untuk mengolah alpukat menjadi produk bernilai tinggi sekaligus membekali mereka dengan strategi pemasaran digital,” kata Nayif, Sabtu (3/10/2026).

 

Alpukat Tak Lagi Sekadar Buah Segar

 

Pendampingan diawali dengan pelatihan tata kelola dan pengolahan hasil pertanian. Anggota KWT tidak hanya mendapatkan materi, tetapi juga diajak mempraktikkan langsung proses pembuatan produk.

 

Salah satu inovasi yang diperkenalkan adalah pengolahan alpukat menjadi selai. Tim juga mengembangkan pemanfaatan daun alpukat sebagai bahan dasar teh.

 

Diversifikasi tersebut diharapkan membuat hasil pertanian Desa Musuk memiliki lebih banyak pilihan produk dan tidak bergantung pada penjualan buah segar.

 

“Dalam kegiatan ini, peserta tidak hanya dibekali teori, melainkan diajak berpraktik langsung bersama tim kami untuk membuat selai alpukat dan teh daun alpukat. Peserta juga diajarkan teknik pengemasan produk yang menarik agar siap dipasarkan,” ujar Nayif.

 

Tahap berikutnya diarahkan pada pemasaran. Pada 1 September 2026, Tim PPO IMM FIK UMS memberikan pendampingan mengenai strategi penjualan berbasis media sosial dengan mengenalkan WhatsApp Business kepada masyarakat.

 

Pemilihan platform tersebut bukan tanpa alasan. WhatsApp dinilai sudah familiar di kalangan masyarakat sehingga lebih mudah diadopsi untuk kebutuhan pemasaran usaha.

 

Selain komunikasi langsung, WhatsApp Business menyediakan sejumlah fitur yang dapat membantu pelaku usaha mengelola produk dan pelanggan, seperti katalog, profil bisnis, Status WhatsApp, pesan otomatis, dan label pelanggan.

 

WhatsApp Business Jadi Etalase Digital

 

Dalam praktiknya, masyarakat diajarkan membangun profil bisnis, memasukkan produk ke katalog, hingga mempromosikan produk melalui Status WhatsApp, grup, dan pesan langsung kepada calon konsumen.

 

Fitur pesan otomatis juga diperkenalkan untuk memberikan informasi awal mengenai produk dan mekanisme pemesanan. Dengan cara tersebut, komunikasi dengan pelanggan diharapkan menjadi lebih terstruktur.

 

“Selain mudah diakses, WhatsApp Business memiliki beberapa fitur yang dapat mendukung pemasaran dan pengelolaan penjualan, seperti katalog produk, profil bisnis, status, pesan otomatis, dan label pelanggan,” kata Nayif.

 

Menurut dia, penggunaan media digital tidak semata-mata ditujukan untuk mengejar transaksi. Lebih jauh, masyarakat didorong membangun hubungan berkelanjutan dengan konsumen.

 

“Melalui media WhatsApp, transaksi tidak berhenti pada pembelian dan penukaran produk. Tetapi komunikasi dengan pelanggan tetap dapat dilakukan untuk menjaga hubungan dan mendorong pembelian produk kembali,” ujarnya.

 

Program PPO IMM FIK UMS tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong masyarakat Desa Musuk memanfaatkan potensi lokal secara lebih kreatif. Pengolahan alpukat menjadi produk baru dan pemanfaatan WhatsApp Business diharapkan dapat memperkuat ekosistem usaha masyarakat, dari produksi hingga pemasaran.

 

Dengan pendampingan tersebut, potensi pertanian lokal tidak berhenti sebagai komoditas mentah, tetapi dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai tambah dan peluang pasar lebih luas. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!