SOLO, MENARA62.COM – Penerapan prenatal yoga berbasis okupasi terapi mulai diperkuat sebagai strategi meningkatkan kemandirian aktivitas sehari-hari (Activity Daily Living/ADL) pada ibu hamil trimester II dan III. Program ini diterapkan melalui kegiatan edukasi dan praktik langsung di Puskesmas Banyuanyar, Kota Surakarta, Sabtu (18/4/2026), dengan melibatkan ibu hamil sebagai peserta utama.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya promotif dan preventif untuk mendukung kesehatan ibu hamil, tidak hanya secara fisik tetapi juga mental dan fungsional. Melalui pendekatan prenatal yoga yang dipadukan dengan okupasi terapi, peserta dibekali keterampilan menjaga kenyamanan tubuh, mengelola energi, serta tetap mandiri menjalankan aktivitas harian selama masa kehamilan.
Narasumber kegiatan, Dr. Ratih Prananingrum, SST., M.Kes., dari Poltekkes Kemenkes Surakarta yang mewakili Ranting 5 Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Kota Surakarta, menjelaskan prenatal yoga bukan sekadar olahraga, tetapi bagian penting dari persiapan persalinan.
“Prenatal yoga membantu ibu hamil lebih siap secara fisik, mental, dan spiritual menghadapi persalinan. Jika dilakukan rutin, latihan ini juga mampu mengurangi berbagai keluhan kehamilan, terutama pada trimester ketiga,” ujarnya.
Dalam sesi praktik, peserta mengikuti gerakan prenatal gentle yoga yang dirancang aman untuk ibu hamil, seperti Mountain Pose (Tadasana), Chair Pose (Uttkatasana), dan Tree Pose (Vrksasana). Gerakan ini diketahui membantu mengurangi nyeri pinggang, kram kaki, heartburn, konstipasi, hingga pembengkakan sendi yang kerap dialami ibu hamil.
Okupasi Terapi Bantu Ibu Hamil Tetap Mandiri
Pendekatan okupasi terapi menjadi nilai tambah dalam program ini. Intervensi tidak hanya fokus pada latihan fisik, tetapi juga membantu ibu hamil mengelola aktivitas, menjaga kesehatan mental, serta beradaptasi dengan perubahan fisik selama kehamilan.
Konsep ini dinilai penting karena perubahan kondisi tubuh pada trimester lanjut sering memengaruhi kemampuan ibu menjalankan aktivitas harian secara mandiri. Dengan latihan yang tepat, ibu tetap dapat aktif, nyaman, dan produktif.
Kepala Puskesmas Banyuanyar, dr. Suwarji, melalui Bidan Retno Dewangganing, mengapresiasi kolaborasi bersama Ranting 5 IBI Kota Surakarta dalam menghadirkan program edukatif tersebut.
“Tema ini sangat relevan karena membantu ibu hamil mengatasi perubahan fisik dan psikologis, sekaligus menjaga mereka tetap mandiri dalam beraktivitas,” katanya.
Edukasi Anemia dan Buku KIA Jadi Fokus
Selain prenatal yoga, kegiatan juga diisi penyuluhan mengenai anemia pada kehamilan dan pemanfaatan Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Edukasi ini penting mengingat anemia masih menjadi salah satu faktor risiko komplikasi kehamilan, termasuk persalinan prematur dan bayi berat lahir rendah (BBLR).
Peserta mendapat pemahaman mengenai pentingnya konsumsi tablet tambah darah, pola makan bergizi, pemantauan kadar hemoglobin (Hb), serta pemanfaatan Buku KIA sebagai alat deteksi dini risiko kehamilan.
Tak hanya itu, sesi afirmasi positif juga diberikan untuk membantu ibu hamil mengelola stres, meningkatkan rasa percaya diri, dan membangun kesiapan mental menghadapi persalinan.
Prenatal Yoga Dinilai Perkuat Kesehatan Ibu dan Janin
Program ini dinilai memberi manfaat strategis bagi pelayanan kesehatan ibu dan anak, sekaligus memperkuat sinergi antara fasilitas kesehatan, organisasi profesi, dan komunitas.
Ranting 5 IBI Kota Surakarta menegaskan kegiatan serupa akan terus diperkuat sebagai bagian dari edukasi kesehatan berkelanjutan bagi masyarakat.
Dengan penerapan prenatal yoga berbasis okupasi terapi, diharapkan ibu hamil tidak hanya lebih sehat secara fisik, tetapi juga semakin mandiri, percaya diri, dan siap menghadapi persalinan dengan aman. (*)
