SOLO, MENARA62.COM – Tingginya prevalensi gangguan kulit kepala akibat infeksi jamur di wilayah tropis mendorong kebutuhan akan produk perawatan rambut yang lebih aman dan berkelanjutan. Menjawab isu tersebut, tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id menghadirkan inovasi sampo antiketombe berbasis bahan alam yang berhasil meraih Silver Medal dalam ajang Jakarta International Science Fair 2026 yang digelar pada 24-27 April 2026 di Jakarta.
Inovasi yang diusung bertajuk PINKY Shampo (Formulation and Physical Evaluation of Anti-Dandruff Shampoo with Lime Fruit Extract) merupakan formulasi sampo berbasis ekstrak jeruk nipis (Citrus aurantifolia). Produk ini dikembangkan sebagai alternatif terhadap dominasi bahan sintetis dalam perawatan rambut, sekaligus mengusung paradigma green cosmetic yang menekankan aspek keamanan, keberlanjutan, dan pemanfaatan bahan alami dengan potensi bioaktivitas tinggi.
Tim PINKY Shampo terdiri dari Dani Hendrawan, Aulia Khoirunnisa, Nimas Melati Oktaviani, Muhammad Tsaqif, dan Muhammad Bayu Ragil Pamungkas dari Program Studi Farmasi, serta Taqiyyah Nurul ‘Azzah dari Program Studi Fisioterapi. Kolaborasi lintas disiplin ini mencerminkan integrasi keilmuan yang komprehensif dalam menghasilkan inovasi yang tidak hanya berbasis teoritik, tetapi juga memiliki relevansi aplikatif. Produk ini juga telah tercatat sebagai karya ilmiah dan memperoleh perlindungan hak cipta.
Secara metodologis, penelitian ini menggunakan pendekatan eksperimental melalui variasi konsentrasi ekstrak bahan alam. Hasilnya menunjukkan adanya formulasi dengan performa optimal yang berpotensi menjadi kandidat unggulan untuk pengembangan produk lebih lanjut.
Dani Hendrawan menerangkan, pengembangan inovasi ini dilatarbelakangi oleh tingginya kasus ketombe yang disebabkan oleh aktivitas mikroorganisme, terutama Malassezia, yang mudah berkembang pada iklim tropis dengan tingkat kelembapan tinggi. “Kandungan senyawa bioaktif dalam jeruk nipis seperti flavonoid, saponin, dan minyak atsiri diketahui memiliki aktivitas antifungal dan antiinflamasi yang berperan dalam menjaga keseimbangan fisiologis kulit kepala,” jelas Dani, Jumat (1/5).
Pengembangan PINKY Shampo, kata Dani, berangkat dari kebutuhan akan solusi perawatan rambut yang lebih aman dan berkelanjutan.
“Inovasi ini kami rancang sebagai bentuk respons terhadap keterbatasan penggunaan bahan sintetis dalam jangka panjang. Melalui pendekatan berbasis bahan alam, kami berupaya menghadirkan formulasi yang tidak hanya efektif, tetapi juga memiliki nilai keberlanjutan dan keamanan yang lebih baik bagi masyarakat,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa capaian tersebut menjadi langkah awal untuk pengembangan lebih lanjut, khususnya dalam mendorong hilirisasi produk agar dapat diimplementasikan secara lebih luas, baik di ranah akademik maupun industri.
Dosen pembimbing tim, Peni Indrayudha, S.F, M.Biotech, Apt, Ph.D., turut mengapresiasi capaian mahasiswa. Menurutnya, keberhasilan ini menunjukkan kapasitas mahasiswa dalam mentransformasikan pengetahuan ilmiah menjadi inovasi aplikatif.
“PINKY Shampo memiliki prospek kuat untuk dikembangkan sebagai produk berbasis bahan alam yang kompetitif dan berkelanjutan,” tuturnya.
Capaian ini, lanjutnya, tidak hanya merepresentasikan prestasi akademik mahasiswa UMS, tetapi juga menegaskan peran strategis perguruan tinggi dalam mendorong inovasi berbasis riset yang berorientasi pada solusi nyata bagi masyarakat, sekaligus memperkuat kontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di tingkat global. (*)

