28.9 C
Jakarta

TAFSIR QS. AN-NISA (3): 140-147 DAN PILKADA DKI JAKARTA

Baca Juga:

Oleh Ma’mun Murod Al-Barbasy

Tulisan sederhana ini sekadar mencoba menafsir al-Qur’an secara kontekstual terkait dengan Pilkada Jakarta. Tidak ada maksud kampanye. Kecuali sekadar tafsir atau setidaknya untuk “melawan” mereka yang seringkali menggunakan ayat-ayat Allah untuk mendukung calon tertentu secara tidak proporsional.

Ayat yang mencoba ditafsir adalah ayat 140-147 dari QS. AN-Nisa (3). Dilihat dari jumlah ayatnya yang begitu banyak (176), maka QS. An-Nisa masuk kategori Surat Madaniyah. Lalu kalau ditilik dari isi ayatnya yang di antaranya tidak banyak membutuhkan keterangan atau pun penjelasan ayat lainnya, untuk menafsirkannya tidak harus menjadi maufassir hebat bergelar profesor, karena ayat-ayatnya gampang dimengerti, maka QS. An-Nisa 140-147 termasuk ayat-ayat yang masuk kategori muhkamat.

Yang mencoba memposisikan 8 ayat ini sebagai ayat mutasyabihat hanyalah mereka yang suka mempermainkan, memperjualbelikan ayat-ayat Allah dengan murah dan suka menyesatkan diri. 8 ayat ini cukup jelas dan tegas, tak perlu ada tafsir lain.

Ayat 140: “Dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam.”

Ayat ini sangat jelas, sangat muhkamat banget, sekadar duduk dengan mereka orang-orang kafir yang mengingkari dan mengolok-olok al-Qur’an saja tidak dibenarkan, apalagi yang kemana-mana pergi menemani orang kafir tersebut karena menjadi pendukung atau tim sukses Ahok.

Ayat 141: “(yaitu) orang-orang yang menunggu-nunggu (peristiwa) yang akan terjadi pada dirimu (hai orang-orang mukmin). Maka jika terjadi bagimu kemenangan dari Allah mereka berkata: “Bukankah kami (turut berperang) beserta kamu?” Dan jika orang-orang kafir mendapat keberuntungan (kemenangan) mereka berkata: “Bukankah kami turut memenangkanmu, dan membela kamu dari orang-orang mukmin?” Maka Allah akan memberi keputusan di antara kamu di hari kiamat dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman”.

Ayat ini juga sangat jelas, bahwa di antara karakter orang munafik itu adalah mereka yang mendukung orang kafir (jadi gubernur Jakarta). Nanti kalau calon yang didukungnya menang, dia akan bilang ke Ahok: “Saya dukung kamu lho. Saya tim sukses kamu. Saya yang membela kamu dari gangguan orang-orang mukmin yang menolakmu.” Tapi orang munafik ini tidak sadar bahwa Allah tak akan pernah memberikan jalan kepada orang-orang kafir yang didukung Muslim yang munafik untuk memusnahkan kaum Mukminin.

Ayat 142: “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.”

Ayat ini juga sangat jelas dan tegas bahwa orang-orang Muslim munafik (pendukung Ahok) itu tegas telah menipu Allah. Dan pasti Allah akan membalas tipuan wahai Muslim munafik yang mendukung Ahok (dengan cara mencari justifikasi dalil-dalil naqli yang ditafsir seenak udele dewek, sekadar mendapatkan keuntungan materi atau kekuasaan politik). Orang-orang munafik ini kalau pun salat itu dengan malas, sekadar pamer atau untuk menarik simpati pemilih Muslim, kalau kampanye menyampaikan salam dan muqaddimah dengan fasih. Padahal aslinya mereka tak pernah menyebut atau mengingat Allah, keculi sedikit.

Ayat 143: “Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir): tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir), maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya.”

Ayat ini juga muhkamat banget, gampang tafsirnya, tak perlu jadi mufassir bergelar Profesor dulu untuk menafsir ayat ini. Orang-orang Islam munafik yang mendukung Ahok sejatinya dalam hati mereka penuh keraguan: “Saya ini sejatinya Muslim atau kafir sih? Kalau Muslim kok bisa-bisanya saya mendukung Ahok yang kafir. Tapi kalau saya kafir, faktanya di KTP saya masih tertulis agama Islam”. Boleh saja mulur mereka lantang dengan berbagai argumentasi keagamaan untuk mendukung Ahok. Tapi coba tanyakan pada hati mereka, maka sejatinya mereka Muslim munafik itu dalam kebimbangan.

Ayat 144: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)?”

Ini juga ayat muhkamat. Dengan kasih sayangnya, Allah mengingatkan kembali kepada Muslim munafik pendukung Ahok. Kata Allah, “jangan pilih Ahok ketika masih ada calon lain yang Mukmin”. Apakah kamu masih mau mencari-cari alasan keagamaan untuk mendukung Ahok sehingga Allah kelak akan menyiksamu?

Ayat 145: “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.”

Ayat ini juga jelas dan tegas. Karena tafsir ini konteknya Pilgub Jakarta, tentu saja tafsir munafik di sini adalah Muslim yang mendukung Ahok. Mereka akan dibakar di dasar api neraka. Siapapun tak akan ada yang bisa menolongmu, sekalipun Ahok.

Ayat 146: “Kecuali orang-orang yang taubat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar.”

Melalui ayat ini, sekali lagi Allah menunjukkan kemahamurahannya. Wahai para Muslim pendukung Ahok, bertaubatlah, perbaiki niatmu dalam berpolitik. Masih ada waktu 2 hari bagi kamu untuk keluar dari pasukan Ahok, untuk berubah pikiran mendukung calon yang Muslim. Kalau kamu mau berubah maka derajat iman akan Allah sematkan kepadamu (para Muslim pendukung Ahok) dan kamu juga kelak akan mendapat pahala dari Allah lantaran menolong agama-Nya (dengan cara berpaling dari Ahok).

Ayat 147: “Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” Dengan “senyum” dan kasih sayangnya, Allah berkata kepada para Muslim yang sudsh taubat (menjauh dan tidak lagi mendukung Ahok), “Kenapa saya (Allah) akan menyiksamu, wong kamu sudah bertaubat, sudah kembali ke jalan yang lurus, sudah tidak lagi mendukung dan menjadi tim sukses Ahok kok”.
Semoga tafsir “nakal” saya ini masih bisa menyadarkan mereka yang mengaku Muslim tapi masih kekeh untuk mendukung Ahok. Aamiin.

(Ma’mun Murod Al-Barbasy, Alumni Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, Dosen FISIP UMJ, sekarang menjadi Anggota Pleno Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Bekasi. Hamba yang dhaif, yang sangat mungkin juga berlumuran kemunafikan, namun dalam konteks politik mencoba berusaha sungguh-sungguh untuk tidak bersikap munafik)

- Advertisement -

Menara62 TV

- Advertisement -

Terbaru!