BANDUNG, MENARA62.COM – Wakil Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung, Yudi Daryadi, mengajak masyarakat menyaring informasi dan pengaruh globalisasi secara bijak agar identitas budaya lokal tetap terjaga di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.
Yudi menyampaikan hal tersebut saat memberikan sambutan dalam Workshop Pendidikan dan Bedah Buku Kearifan Lokal yang diselenggarakan Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak Indonesia (IGTKI)-PGRI Kabupaten Bandung di Auditorium KH Ahmad Dahlan, Kampus UM Bandung, Kamis (22/10/2026).
Menurut Yudi, globalisasi telah menghubungkan berbagai kawasan dunia melalui perkembangan media dan teknologi. Kondisi tersebut membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat, termasuk dalam cara memperoleh informasi, berinteraksi, dan mengenal budaya.
“Sekarang kita sudah memasuki era globalisasi. Globalisasi itu ya mengglobekan dunia, yakni menyatukan semua kawasan oleh media, yang kita tidak pernah membayangkan hal seperti ini terjadi sebelumnya,” ungkap Yudi.
Ia menilai, derasnya arus informasi dan pengaruh budaya dari luar perlu diimbangi dengan penguatan nilai-nilai luhur yang menjadi identitas masyarakat. Dalam konteks masyarakat Sunda, nilai-nilai tersebut tercermin dalam panca karakter orang Sunda, yakni cager, bager, benar, pintar, dan singer.
Nilai-nilai itu dinilai dapat menjadi bekal bagi generasi muda untuk menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan jati diri dan akar budayanya.
Karena itu, Yudi mendorong para pendidik untuk berperan aktif dalam menanamkan nilai-nilai budaya kepada peserta didik. Menurutnya, menjaga identitas lokal bukan berarti menolak kemajuan, melainkan membekali generasi muda agar mampu menyaring berbagai pengaruh secara bijak.
“Maka dari itu, perlu ada penyaring dalam menghadapi globalisasi tersebut,” tegasnya.
Pendidikan Anak Usia Dini Jadi Fondasi Pelestarian Budaya
Ketua Pelaksana kegiatan, Dini Nurjanah, menjelaskan bahwa workshop dan bedah buku kearifan lokal tersebut bertujuan membekali para pendidik dengan wawasan dan keterampilan untuk mengintegrasikan nilai-nilai budaya ke dalam proses pembelajaran yang menyenangkan di satuan pendidikan anak usia dini (PAUD) dan taman kanak-kanak (TK).
Ia mengapresiasi terselenggaranya kegiatan yang mempertemukan dua karya yang dinilai saling melengkapi dalam mendukung penguatan pendidikan berbasis kearifan lokal.
“Alhamdulillah hari ini adalah hari yang sangat istimewa bagi kami. Dalam satu panggung kami dipertemukan dengan dua karya luar biasa dan saling melengkapi,” ujar Dini.
Dini berharap para guru TK dapat menanamkan kecintaan terhadap budaya Sunda sejak usia dini. Penanaman nilai tersebut diharapkan tidak berhenti pada pengenalan bahasa dan tradisi, tetapi juga membentuk perilaku anak dalam kehidupan sehari-hari.
“Kami ingin mengembalikan ruh pendidikan PAUD, khususnya TK, yakni anak yang cinta budaya Sunda, santun, peduli lingkungan, dan berkarakter,” katanya.
Menurut Dini, pendidikan anak usia dini memiliki peran strategis dalam membangun fondasi karakter. Melalui pembelajaran yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, nilai-nilai kearifan lokal dapat dikenalkan secara lebih menarik dan mudah dipahami anak.
IGTKI-PGRI Dorong Kompetensi Guru TK
Sementara itu, Ketua IGTKI-PGRI Kabupaten Bandung, Ela Nurlaila, menerangkan bahwa seminar dan workshop kearifan lokal merupakan agenda tahunan organisasi untuk meningkatkan kompetensi dan profesionalisme guru TK.
Ia menekankan bahwa pemahaman mengenai kearifan lokal perlu diwujudkan dalam praktik pembelajaran di sekolah. Dengan demikian, guru tidak hanya memahami konsep secara teoretis, tetapi juga mampu menerapkannya untuk mendukung tumbuh kembang peserta didik.
“Tujuan kami mengadakan workshop dan webinar ini agar kompetensi guru-guru TK se-Kabupaten Bandung terus bertambah, profesionalismenya juga meningkat, dan tentunya bisa mengabdi untuk negeri,” tutur Ela.
Ela juga menyoroti pentingnya memperkenalkan bahasa, tradisi, dan budaya Sunda kepada anak-anak sejak dini. Upaya tersebut diperlukan agar generasi muda tetap mengenal akar budayanya meskipun tumbuh di tengah perubahan sosial dan perkembangan teknologi.
Ia berharap kegiatan ini semakin memperkuat peran guru dalam mengenalkan kearifan lokal melalui kegiatan belajar yang relevan dengan dunia anak. Pengenalan bahasa Sunda, tradisi, serta budaya daerah diharapkan dapat menumbuhkan pemahaman sekaligus kecintaan anak terhadap identitas budayanya sendiri.
Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan organisasi profesi guru, pendidikan berbasis kearifan lokal diharapkan menjadi salah satu upaya membentuk generasi yang berkarakter, mencintai budaya daerah, dan mampu menghadapi tantangan globalisasi tanpa kehilangan jati diri. (FK/*)

