UMS Bahas Teknologi USG untuk Pantau Pemulihan Cedera Olahraga

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Pemulihan cedera olahraga tidak cukup dinilai dari kemampuan seseorang kembali bergerak. Perubahan struktur dan kondisi otot juga perlu diperiksa untuk memastikan proses rehabilitasi berjalan secara tepat. Teknologi ultrasonografi (USG) menjadi salah satu alat penting yang dapat membantu fisioterapis memantau kondisi tersebut.

 

Topik ini dibahas dalam kuliah umum internasional bertajuk “Advances in Muscle Imaging for Sports Physiotherapy: Evidence, Methods and Pitfalls” yang diselenggarakan Program Studi Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id, Selasa (13/10/2026).

 

Kegiatan yang berlangsung di Ruang Seminar Lantai 7 Gedung Induk Siti Walidah UMS itu menghadirkan Assoc. Prof. Dr. Gokhan Yagiz, akademisi dari Osmaniye Korkut Ata University, Turki, dan Tokyo Metropolitan University, Jepang. Sekitar 200 peserta dari kalangan mahasiswa, termasuk jenjang sarjana dan magister fisioterapi, mengikuti kuliah umum tersebut.

 

Dalam pemaparannya, Yagiz menjelaskan pemanfaatan USG untuk mengamati arsitektur otot, mulai dari panjang fasikel, sudut penasi, hingga ketebalan otot. Parameter tersebut dapat memberikan gambaran mengenai kondisi otot serta perubahan yang terjadi selama latihan dan rehabilitasi.

 

Teknologi ini juga memungkinkan pemeriksa mengamati pergerakan otot ketika berkontraksi. Kemampuan tersebut menjadi keunggulan tersendiri dalam fisioterapi olahraga karena respons otot terhadap gerakan dan latihan dapat diamati secara langsung.

 

Sementara itu, magnetic resonance imaging (MRI) memiliki keunggulan dalam pengukuran volume dan luas penampang otot. Namun, MRI tidak dapat memperlihatkan pergerakan otot secara langsung ketika seseorang melakukan aktivitas seperti berjalan atau berlari.

 

Meski menawarkan berbagai keunggulan, penggunaan USG tetap membutuhkan ketelitian. Yagiz menekankan bahwa posisi tubuh, sudut probe, tekanan saat pemindaian, hingga pengalaman pemeriksa dapat memengaruhi hasil pengukuran.

 

Kesalahan dalam prosedur pencitraan berpotensi menghasilkan perkiraan ukuran otot yang tidak akurat. Kondisi tersebut dapat memengaruhi interpretasi hasil penelitian maupun kesimpulan yang digunakan sebagai dasar pengembangan praktik fisioterapi.

 

UMS Dorong Penguatan Fasilitas Riset

 

Ketua Program Studi Fisioterapi UMS, Adnan Faris Naufal, S.Fis., Ftr., M.Bmd., berharap kuliah umum internasional tersebut tidak hanya memperluas wawasan mahasiswa, tetapi juga mendorong penguatan fasilitas penelitian di lingkungan kampus.

 

Menurutnya, penguasaan teknologi pencitraan otot dapat membuka peluang bagi UMS untuk mengembangkan penelitian di bidang fisioterapi olahraga.

 

“Harapannya, UMS juga punya ultrasonografi untuk bisa riset, karena harapannya kita ingin jadi universitas yang riset banget,” ujarnya.

 

Harapan tersebut menunjukkan pentingnya dukungan sarana penelitian untuk meningkatkan kualitas pembelajaran sekaligus mendorong pengembangan ilmu fisioterapi berbasis bukti ilmiah.

 

Sementara itu, Sekretaris Program Studi Pendidikan Profesi Fisioterapis UMS, Wahyu Tri Sudaryanto, S.Fis., M.K.M., menjelaskan bahwa kuliah umum tersebut juga membahas metodologi penelitian dan penerapan hasil penelitian dalam praktik fisioterapi.

 

Materi itu relevan bagi mahasiswa karena fisioterapi olahraga menjadi bagian dari pembelajaran pada jenjang sarjana, profesi, maupun magister. Mahasiswa diharapkan tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menghubungkan hasil penelitian dengan kebutuhan pemeriksaan dan penanganan pasien.

 

“Penelitian yang dilakukan beliau diharapkan dapat menambah keilmuan, wawasan, dan gambaran bagi mahasiswa, khususnya pada mahasiswa S1 Fisioterapi dan juga mahasiswa Magister,” kata Wahyu.

 

Ia menambahkan, pembahasan mencakup pemeriksaan menggunakan USG, penerapan teknologi tersebut, serta metode penelitian dalam bidang fisioterapi olahraga.

 

Melalui kuliah umum internasional ini, UMS berupaya memperkuat pemahaman mahasiswa mengenai pemanfaatan teknologi pencitraan otot berdasarkan bukti ilmiah. Pemahaman terhadap metode pemeriksaan sekaligus keterbatasannya diharapkan menjadi bekal bagi calon fisioterapis untuk mengevaluasi kondisi otot dan memantau rehabilitasi cedera olahraga secara lebih akurat. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!